Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Juli belum berakhir, Agustus masih lama dinantikan. Aku tak sedang menanti kedatangan mukjizat. Aku cuma ingin mendahului memori memperingati hari kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Ingatan sering mengarah saat bocah, tampil di panggung: membaca Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Ekspresi diri juga ditambahi dengan melantunkan lagu-lagu nasional, berpakaian serba putih. Aku sering ingin ada di panggung, pamer diri di hadapan warga desa. Ha! Bapak dan simbok bangga padaku. Mereka melihatku di panggung, berperan sebagai bocah nasionalis. Memori itu jauh, di masa bocah.

Usiaku perlahan menua, meninggalkan masa bocah dan remaja: masa menggemaskan, masa saat diriku adalah lelaki cakep dan manis. Oh! Sekarang, lelaki berambut keriting panjang, berjenggot dan berkumis. Jelek! Aku belum ingin meninggalkan memori proklamasi. Sekian esai tentang proklamasi telah aku sajikan ke pelbagai koran, bacaan wagu dan wagu. Rangsangan untuk menulis tema-tema proklamasi selalu bermunculan tanpa keterlibatanku di panitia peringatan hari kemerdekaan di kampung. Aku sudah enggan ada di panggung. Tulisan justru jadi memori apik ketimbang foto diri di atas panggung.

IMG

Memori diriku tentang proklamasi tak seheboh memori tokoh pergerakan politik di masa silam, Mohamad Roem. Pelaku dan saksi sejarah itu menulis buku berjudul Pentjulikan Proklamasi dan Penilaian Sedjarah, Hudaya-Jakarta dan Ramadhani-Semarang, 1970. Aku pernah menggunakan buku ini sebagai referensi garapan-garapan esai, mengutip dan membandingkan dengan pengakuan Mohammad Hatta, Ahmad Soebardjo, Nadjib Kertapati, Soekarno, Adam Malik ….

Mohamad Roem menerangkan: “Proklamasi 17 Agustus 1945, jang ditanda tangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta, didahului oleh pentjulikan kedua pemimpin itu! Apakah gerangan hubungan pentjulikan dengan proklamasi itu? Pihak-pihak jang bersangkutan kemudian satu demi satu menuliskan sedjarah itu, tentu masing-masing menurut penglihatan sendiri, dan kita sekarang berbahagia dapat membatja tjerita-tjerita itu.”

Sejarah Indonesia memerlukan kesaksian melimpah, dituliskan dan diperbandingkan. Buku-buku kesaksian proklamasi sering memunculkan perbedaan pelaku, waktu, peristiwa…. Aku pernah membuat perbandingan, mengacu ke buku-buku para tokoh pergerakan. Tokoh memiliki kecenderungan menampilkan diri sebagai “tokoh penentu”, diceritakan dengan berlebihan meski mengandung kebohongan. Aku menganggap klaim jadi alasan politis untuk tercatat di buku sejarah, diakui oleh publik.

Mohamad Roem memberi komentar atas kesaksian Hatta dan Ahmad Soebardjo: “Bung Hatta tidak mentjeritakan tentang pertemuan jang hangat dan sengit jang berlangsung pada tanggal 15 Agustus djam 10 malam, pertjakapan mana jang mendjadi alasan untuk mentjulik kedua pemimpin itu. Menurut Mr. Subardjo, Bung Hatta hadir di pertemuan itu meskipun tidak dari permulaan.” Ingatan orang tentu terbatas. Aku menduga Hatta “lupa” untuk menceritakan peristiwa 15 Agustus 1945, ada bersama tumpukan ingatan selama hari-hari mendebarkan.

IMG_0002

Buku ini bisa jadi contoh bagi para pelaku dan saksi di malapateka 1965 dan 1998. Tokoh-tokoh menulis kesaksian, mendapat koreksi atau bantahan. Mohamad Roem sengaja menata pengakuan dari pelbagai tokoh, dirajut agar ditemukan alur dan pembelokan. Peristiwa bisa hilang, pengakuan bisa berlebihan. Kecermatan dan pandangan kritis membuat sejarah bisa terang, terbaca oleh anak dan cucu dengan kebanggaan. Manipulasi sejarah memang sulit sirna, ada dengan sekian pamrih politik dan pengultusan.

Ketokohan Bung Karno dan Bung Hatta adalah pusat pengisahan proklamasi. Mohammad Roem justru menemukan perbedaan sikap dan perkataan dua tokoh proklamasi dalam meladeni kemauan kaum pemuda, penculikan demi proklamasi. Mohamad Roem memberi penilaian atas sikap Soekarno di tanggal 15 dan 16 Agustus 1945: “Soekarno tidak mengutjapkan satu perkataanpun jang menundjukkan pengertian, apalagi penghargaan…..” Penilaian untuk Hatta di peristiwa sama: “Hattapun sangat tadjam dan pahit perkataannja terhadap pemuda….”

Nama-nama di peristiwa proklamasi diingat oleh publik melalui buku-buku pelajaran dan pidato-pidato dalam upacara proklamasi. Nama Sutan Sjahrir tak tercatat sebagai tokoh penting dalam sejarah proklamasi. Mohamad Roem menerangkan: “Jang mengambil sikap tersendiri pada waktu itu adalah Sjahrir dan kawan-kawannja. Waktu itu ia tidak berhasil mejakinkan Hatta untuk berbuat lain dari jang direntjanakan tapi mengambil djalan baru, ia menarik diri untuk menunggu kesempatan lain dimasa datang. Pada malam sesudah orang berkumpul dirumah Maeda, Mr. Subanrdjo dan Sukarno berusaha untuk mentjari tapi sia-sia. Sjahrir tidak dapat diketemukan malam itu.”

Aku tergoda mengimajinasikan Sjahrir. Tokoh ini tak bersama Bung Karno dan Bung Hatta. Hari-hari menjelang proklamasi, Sjahrir merenung atau menulis. Sjahrir tentu paham situasi, mengerti alur politik dan orotitas tokoh. Keterangan-keterangan tentang Sjahrir bisa disimak di buku Rudolf Mrazek. Aku cuma ingin keterangan itu dimunculkan oleh para tokoh di saat menulis kesaksian peristiwa proklamasi. Keterangan kecil bisa mengesankan sikap dan kehendak Sjahrir atas Indonesia. Persepsi tokoh merangsang orang untuk tak melulu mengingat proklamasi adalah Bung Karno dan Bung Hatta. Begitu.

Iklan