Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

31 Juli 2013, hari lemas dan api. Seharian, aku mencret. Lemas. Adegan senja: kerja bakti mengangkuti buku-buku dan benda-benda ke rumah belum jadi. Aku sering terbaring, meringis dan kedinginan. Sepatu dan jaket dikenakan. Adegan mengangkut adalah pengulangan dari tahun lalu, sekian tahun silam. Aku mesti berpindah rumah bersama ribuan buku.

Teman-teman berkeringat, menggerakkan dua gerobak, puluhan kali. Aku terbaring kedinginan. Usai berbuka bersama, Fauzi Sukri memberi pengajian tentang Gandhi, uraian dari esai di Kompas, 31 Juli 2013. Nasi, lele, gorengan, teh… dinikmati untuk menguatkan tubuh bergerak lagi. Aku masih terbaring: lelah, lemas, pusing. Adegan rampung pukul 10-an malam. Aku lekas pulang ke rumah pengungsian. Ada kabar dari teman: kebakaran di komplek penjualan buku belakang Sriwedari (Solo). Aku melamun sejenak, sebelum tidur.

Berita tentang api membakar kios buku mengingatkan kebiasaan di masa silam. Dulu, aku sering belanja buku pelajaran, saat masih SMP dan SMA. Aku pun belanja buku-buku filsafat, sastra, agama, politik, antropologi… saat sudah melek buku. Kebiasaan itu berkurang tiga tahun belakangan. Kios-kios di belakang Sriwedari terlalu berlimpang buku-buku pelajaran. Aku mulai jarang menemukan buku-buku apik.

Buku 1

Kebakaran itu perlahan mengajak pikiran ke urusan buku pelajaran dan Suparto Brata. Lho! Urusan buku pelajaran memang menjadi kekhasan kios-kios di belakang Sriwedari. Suparto Brata? Sekian hari silam, Suparto Brata mendongeng di Solo: mengisahkan diri sebagai pengarang dan ingatan tentang buku-buku saat masih di SR, 1940-an. Suparto Brata masih ingat bacaan-bacaan di buku berjudul Matahari Terbit. Dongengan itu lekas menggerakkan diriku membongkar kardus-kardus buku, mencari koleksi buku-buku pelajaran di masa lalu. Aku menemukan buku Matahari Terbit, jilid IV, V, VI. Buku ini buku bacaan, bersangkutan dengan buku pelajaran.

Sampul buku memang menampilkan gambar matahari terbit, menerpa gunung, rumah, pohon kelapa, bocah, sawah…. Gambar apik dan mengesankan. Buku Matahari Terbit VI disusun oleh J. Lemijn, dibantu oleh Oesman, diterbitkan J.B. Wolters – Groningen, Jakarta,  1951, cetakan II. Gambar-gambar di buku dibuat oleh W.K. De Bruin, Kamil, M. Van Meeteren Brouwer. Buku setebal 148 ini berisi cerita dan puisi dengan puluhan tema. Aku tak pernah selesai untuk takjub, sejak membaca Matahari Terbit sekian tahun lampau.

Aku tertarik cerita berjudul “Lurus Hati”. Cerita dan gambar memikat. Petikan kecil: “Seorang pegawai Kantor Kementerian Kenangan berdjalan tjepat-tjepat menudju suatu tempat perhentian tram di Djakarta. Ia agak terlambat sedikit dari sehari-hari. Untunglah tram, jang biasa ditumpanginja, belum tiba. Sambil tegak-tegak menunggu itu, dimasukkannja tangannja kedalam saku badjunja mengambil tempat rokoknja, lalu hendak dipasangnja. Ah, lupa ia membawa pemantik apinja. Entah tertinggal ditas medja barangkali. Iapun memanggil seorang anak jang berdjadja rokok dan goris api ditempat. Diambilnja goris api sekotak, lalu diberikannja uang serupiah….”

Buku 2

Tokoh dalam cerita itu: pegawai di Kantor Kementerian Kenangan. Ha! Pernahkan kementerian ini ada di Indonesia? Aku menduga cerita ini bakal mendapat protes jika jadi bacaan di masa sekarang. Urusan merokok dan bocah berjualan rokok tentu rawan kritik dari publik. Sekian buku pelajaran telah jadi sasaran kritik berkaitan cerita porno, sektarian, politis…. Aku merasa ada panggilan untuk menata ratusan buku pelajaran, dari tahun ke tahun. Ikhtiar membaca dan mencicil tulisan-tulisan tentang buku pelajaran bakal mengingatkan sejarah kebijakan penulisan dan penerbitan buku pelajaran di Indonesia. Aku sudah mengoleksi ratusan buku meski belum aku sajikan menjadi tulisan-tulisan utuh dan apik.

Cerita berjudul “Perusak Djalan” juga memikatku, menjelaskan makna jalan di zaman berbeda. Perdebatan tentang roda dan jalan memberi hikmah tentang diskursus transportasi di Indonesia. Kutipan perdebatan hampir sengit.

Digambarkan guru pula dipapan tulis.

“Oto jang ditarik sapi,” seru anak perempuan.

“Tjuma seekor sadja sapinja, engku?’ tanja si Ibrahim.

“Ia, itu sudah tjukup, sebab rodanja roda karet jang berpompa, djadi mudah menariknja.’

“Mengapa dipakai orang roda karet jang berpompa itu, engku?”

“Kamu tahu pedati matjam lama itu berat dan lingkaran besi itu membinasakan djalan. Bukankah sudah pernah kamu lihat bekas roda itu? Ketika musim hudjan dalam-dalam runutnja, seperti sawah baru dibadjak djalan itu rupanja.

Alat transportasi dan jalan adalah masalah darurat di Indonesia, sejak puluhan tahun lalu. Jalan rusak itu biasa. Bis bobrok, kecelakaan kereta api, kemacetan selalu jadi berita mengenaskan. Di jalan, seribu cerita tentang Indonesia terjadi dengan air mata dan derita. Jalan memang memberi berkah ekonomi dan politik meski meminta tumbal. Urusan kepemilikan mobil dan sepeda motor tak pernah jadi tema penting di pemerintah. Penjualan selalu meningkat. Kemacetan tak pernah bisa diselesaikan. Aduh!

Tema jalan pun tampil secara sporadis saat jelang Lebaran. Drama mudik berlangsung tanpa ada pengurusan jalan untuk keselamatan dan kebaikan. Perbaikan jalan dilakukan tapi tak selesai, tak beres. Kemacetan dan kecelakaan jadi berita ironis, dari detik ke detik. Jalan adalah kematian. Jalan adalah air mata. Jalan pun mengandung korupsi. Lho! Aku tak mau meneruskan curiga-curiga. Aku justru ingin mengingat buku pelajaran lawas. Bocah-bocah saat membaca tentu memiliki pengalaman dan resepsi, mengartikan buku dengan situasi hidup. Cerita-cerita di buku pelajaran sekarang jarang jadi ingatan, bekal memandang dan menilai kehidupan. Buku pelajaran cuma jadi bekal ujian, disusun serampangan dan enggan mendidik secara kontekstual. Begitu.

Iklan