Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku tak pernah menduga dan bermimpi, buku kecil mengingatkan Adi Negoro. Buku itu berjudul wagu: Beladjar Sendiri (Djambatan, 1950). Buku wagu bisa masuk dalam kantong, dibaca saat mata tidak mengantuk dan ruang memperkenankan. Adinegoro, jurnalis dan penulis ampuh, memberikan perhatian untuk urusan belajar! Aku kaget, mengusik diri memberi penghormatan. Oh! Imajinasi serampangan: Indonesia tentu bernasib… jika Adi Negoro menjadi menteri untuk mengurusi pendidikan, pengajaran, kebudayaan. Adi Negoro melalui buku Beladjar Sendiri mirip pakar pendidikan meski aku jarangan mendapati penjelasan di buku pelajaran atau ucapan guru-dosen.

Belajar 1Buku Beladjar Sendiri adalah garapan J.F.H.A. de la Court, “digubah” oleh Suwirjadi. Adi Negoro dalam pengantar menulis: “Berhubung dengan keadaan bangsa dan tanah air kita sekarang masih dalam zaman pembangunan pada tingkat pertama, jang memerlukan banjak kesedaran dan keinsafan dalam segala lapangan, maka jang penting sekali bagi para pemuda disegala sektor pekerdjaan pembangunan itu, ialah beladjar dengan tabah hati, dengan tidak djemunja, baik untuk mengejar diploma, maupun untuk mendalami pengetahuan prakteknja dalam soal-soal jang menarik minatnja.”

Buku ini termasuk dalam anggapan sebagai buku pedoman. Para pembaca Indonesia pantas menjadikan buku pedoman menuntuk ke arah kemajuan, keerhasilan dalam belajar dan berperan dalam pembangunan. Wah! Kalimat ini mirip penjelasan saat pidato dalam upacara bendera di halaman SD. Aku pernah mengalami kebosanan selama mengikuti ratusan upacara, dari SD sampai SMA. Pidato kepala sekolah atau guru sering berisi klise, melukai tubuh dan jiwaku. Aduh!

Aku juga merasa ada kehendak berpidato mirip guru jika mengutip pesan Adi Negoro: “Buku Beladjar Sendiri ini, adalah ibarat pintu gerbang untuk masuk kedalam dunia pengetahuan jang luas dan berisi pedoman, bagaimana merintis djalan dalam dunia jang luas itu. Menurut perasaan saja perpustakaan Indonesia berbahagia mendapt buku sematjam ini.” Oh! Petuah ampuh bagi para murid di masa lalu.

Buku pedoman tentu berisi anjuran, perintah, ajakan, larangan, himbauan… Aku tak bakal sia-sia jika membaca buku Beladjar Sendiri. Hikmah bisa diperoleh meski sejumput. Oh! Buku ini pernah terbit, dibaca orang-orang di masa 1950-an. Aku pun mendaftar jadi pembaca meski tahun berganti, 2013. Buku wagu dibaca oleh lelaki wagu bakal menghasilkan hikmah wagu!

Deskrispi ulah para pembelajar dan buku: “Ada peladjar-peladjar jang membongkar separuh lemari bukunja untuk mempeladjari sesuatu hal. Mereka berkurung diri dengan buku-buku dan mengatakan, bahwa mereka hendak beladjar setjara ‘luas’. Biasanja habis beladjar, bagian terbesar daripada buku-buku itu kembali lagi kedalam lemari, tidak terpakai. Artinja, sekali-kali tidak terdjadi usaha mempeladjari setjara luas, melainkan pertundjukan aksi sadja.”

Deskripsi ini mengingatkanku saat masih SD dan SMP. Aku malas belajar, membaca buku-buku pelajaran. Belajar adalah siksaan, melukai hidupku. Aduh! Simbok dan bapak jarang memerintah, memaksa diriku belajar. Mereka cuma ingin menerima nilai-nilaiku baik, mendapat peringkat. Di SD, aku sering mendapat peringkat. Aku juga menjadi lulusan terbaik tanpa hadiah. Kasihan….

Sejarah mendapat peringkat tidak dipengaruhi oleh kerajinan membaca buku pelajaran. Lho. Buku-buku pelajaran itu tak menggoda, sulit menjadi nostalgia impresif. Aku sulit mengingat buku pelajaran favorit, mengingat isi buku. Judul-judul buku saja terlupakan. Ingatan itu ingin aku sandingkan dengan resepsi membaca buku Beladjar Sendiri, buku wagu tapi menggoda.

Bab tentang “memakai buku peladjaran” berisi petunjuk-petunjuk sakti bagi pembaca agar bisa menjadi pembaca buku peladjaran. Keterangan: “Membatja itu tidak mudah. Jang kami maksudkan bukannja hal membatja sadjak jang sukar-sukar ataupun karangan-prosa jang halus-halus. Jang kami maksudkan ialah hal membatja suatu naskah biasa jang tidak ditulis dalam bahasa indah.” Aku menduga bahwa “naskah biasa jang tidak ditulis dalam bahasa indah” adalah buku pelajaran. Konklusi: pelajar-pelajar di Indonesia sulit bersastra akibat mendapat ratusan buku “tidak ditulis dalam bahasa indah.”

Belajar 2

Aku tak pernah memiliki sesalan jika tak pernah mengingat kalimat-kalimat dalam buku pelajaran, dari SD sampai SMA. Agenda mengingat kalimat tak indah tentu keganjilan menjalani hidup. Wah! Aku terlalu sombong. Aku cuma ingin mengejek para penulis buku pelajaran di Indonesia, pembuat kalimat-kalimat tak sastrawi. Buku pelajaran tentu bakal menjauhkan murid dari obsesi sastrawi.

Penerjemahan buku ke edisi terjemahan bahasa Indonesia diakhiri dengan pesan-pesan menggugah. Pembaca bakal terpana, menutup mulut agar tak terbahak. Ha! Simaklah: “Kami tidak hendak mengachiri karangan kami dengan bom atom, melainkan ingin memadang kearah zaman depan jang lebih berbahagia. Hendaklah di Indonesia, dinegara kita jang muda ini, disadari oleh setiap orang jang berusaha menuntut pengetahuan, bahwa dengan mentjapai ilmu pengetahuan dapat ia turut menjumbang pada pembangunan negara dan bangsa.” Kalimat ini tak indah. Kita berhak membaca meski tak mengingat untuk lima menit atau seribu hari. Begitu.

Iklan