Tag

, ,

Bandung Mawardi

Aku ingin menerbitkan buku tipis, berisi esai-esai tentang Proklamasi. Ikhtiar itu sudah aku lakukan sejak sekian tahun lalu: menulis esai dan mengirim ke koran. Esai-esai kecil mengartikan kehendak mengerti Indonesia, berpusat di Proklamasi. Sekian esai telah dimuat di koran-koran. Sekian esai belum tampil di koran.

16 Agustus 2013, esaiku berjudul Agama dan Proklamasi dimuat di Solopos. Esai sederhana tapi memenuhi anggapanku: Proklamasi itu religius. 19 Agustus 2013, esaiku berjudul Proklamasi: Soekarno dan Soeharto tampil di Koran Tempo. Esai perbandingan makna Proklamasi dalam pidato-pidato dua penguasa di masa silam. ada 4 esai tentan Proklamasi belum menemukan ruang pemuatan. Aku bersabar menunggu hari pemuatan, sekian hari lagi atau tahun depan.

Proklamasi tak cuma mengingatkan nama Soekarno dan Mohammad Hatta. Aku justru mengingat Husen Djajadiningrat, ahli sejarah. Aku ingin mengetahui peran Husen Djajadiningrat di sekitar Proklamasi. Buku berjudul Prof. Dr. Husein Jayadingingrat: Hasil Karya dan Pengabdiannya (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1982-1983) susunan Sutopo Sutanto menjadi rujukan “penting” meski tak komplet.

Husein 1

Buku setebal 82 halaman bersifat laporan atas “pekerjaan” di institusi milik pemerintah. Keterangan di halaman kata pengantar: “Dasar pemikiran penulisan biografi tokoh ini ialah, bahwa arah pembangunan nasional dilaksanakan di dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya. Pembangunan nasional tidak hanya mengejar kemajuan lahir, melainkan juga mengejar kepuasan batin, dengan membina keselarasan dan kesinambungan antara keduanya.” Kalimat-kalimat heboh bermerek Orde Baru. Membosankan!

Husein Djajadiningrat atas “pengaruh” Snouck Hurgronje menempuh studi di Belanda. 1904, Husein Djajadiningrat berangkat ke Belanda, berikhtiar menjadi intelektual. Aku bisa mengimajinasikan adegan keberangkatan tentu dramatik, melibatkan doa dan airmata. Kuliah di Universitas Leiden, mengambil jurusan bahasa dan kesusastraan. Husein Djajadiningrat merampungi studi dengan garapan disertasi berjudul Critische Beshowing van de Sedjarah Banten. Disertasi ini melibatkan peran intelektual dari Sosrokartono. Aku telah membaca dan mengoleksi disertasi Husein Djajadiningrat, edisi terjemahan bahasa Indonesia.

Intelektual pribumi itu memiliki pesona di mata R.A. Partini, puteri bangsawan di Mangkunegaran Solo. Mereka bertemu, menjalin asmara. Solo menjadi memori asmara, pertemuan lelaki intelektual asal Banten dan perempuan Jawa. Mereka pun menikah. Mereka menempuh jalan asmara dan literasi. Pasangan dari masa kolonial itu memiliki gairah literasi. Si istri tak ingin kalah dari suami. R.A. Partini turut memberi warisan literasi di Indonesia, menulis novel. Aku telah membaca 2 novel karangan R.A Partini: Widyawati dan Tunjung Biru.

Aku ingin menempatkan Husein Djajadiningrat di urusan Proklamasi. Jepang membentuk BPUPKI, 1 Maret 1945. Husein Djajadiningrat masuk menjadi anggota. 10-16 Juli 1945, sidang mengenai rancangan undang-undang dasar. Husein Djajadiningrat diberi titah menjadi “pengurus” kebahasaan bersama Supomo dan Agus Salim. Aku tertarik dengan dugaan Sutopo Sutanto mengenai Soekarno, Pancasila, “ahli bahasa”. Kutipan kecil: “Adapun nama Pancasila itu diangkat atas ‘petunjuk seorang teman ahli bahasa”, karena tidak pernah dikatakan siapa teman ahli bahasa itu, maka ada dugaan mungkin yang dimaksud itu Prof. R. Ng. Purbocaroko atau Prof. Husein Jayadiningrat.”

Husein 2

Dugaan ini membuatku menempatkan Husein Djajadingrat menjadi “tokoh” di sekitar Proklamasi, berkaitan bahasa dan “kesadaran sejarah” dalam agenda membentuk Indonesia berpijak ke peristiwa 17 Agustus 1945. Aku belum bisa mengumpulkan keterangan-keterangan penting. Aku penasaran dengan urusan bahasa di pelbagai dokumen dan naskah, sebelum dan sesudah Proklamasi. Pelbagai institusi tentu memiliki ahli bahasa, mengurusi struktur dan efek makna dari penggunaan bahasa. Husein Djajadiningrat pernah belajar bahasa di Leiden. Pengalaman itu bisa mempengaruhi olah bahasa Indonesia selama arus kesejarahan Proklamasi. Oh! Aku cuma menduga dengan tergesa.

Peran Husein Djajadiningrat turut menentukan pembentukan Indonesia. Aku mengakui meski ada episode keterpengaruhan dengan nalar dan kebijakan politik-pendidikan kolonial. Husein Djajadiningrat pernah ada “buaian” kolonial, menerima perhatian demi misi menjadi intelektual. Aku tetap mengagumi….

Sutopo Sutanto memberi deskripsi saat Husein Djajadiningrat menua: “Dalam usianya yang sudah lanjut itu Profesor Husein masih kelihatan datang ke ruang perpustakaan, seolah-olah seorang penggali baru dalam ilmu pengetahuan, kendatipun tampak juga banyak di antara kamus besar dalam perpustakaan itu telah sukar diangkatnya.” Lelaki tua itu enggan malas, terus mengurusi ilmu di surga buku.

Aku berharap bisa menulis esai tentang Proklamasi, memberi keterangan peran Husein Djajadiningrat dalam urusan bahasa dan ilmu. Keinginan bermula dari dugaan dan keterbatasan referensi. Ikhtiar menulis esai tentu berbeda dengan kerja para ahli sejarah. Aku cuma menulis tanpa klaim akademik sebagai sejarawan. Begitu.

Iklan