Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Rumah masih berantakan. Buku-buku bertumpuk, berserbaran, mendekam di kardus. Agenda menata dan mengingat buku masih memerlukan waktu dan kesabaran. Hari berganti hari, buku-buku mulai tampak paras di tatapan mataku. Sekian buku aku kumpulkan: modal membuat esai-esai kecil. Tubuh merindukan buku-buku ampuh meski menanti kemunculan tanpa jadwal.

15 Agustus 2013, usai kumandang adzan Subuh menempatkan tubuh di depan komputer. Tumpukan buku-buku tentang proklamasi ingin dialihkan ke tulisan-tulisan, hadir sebagai kutipan. Lagu-lagu dangdut Evie Tamala mengalun, sendu dan lembut. Deretan lagu bersambung ke Ebiet G. Ade dan Dewa. Agenda menulis esai telah memenuhi “aturan” sesuai ritual harianku.
Penulisan esai tentang agama dan Proklamasi rampung saat matahari singgah ke rumah, masuk dari jendela. Buku-buku ada di tulisan, mengingatkan sejarah dan ketokohan. Aku menacantumkan nama H.O.S. Tjokroaminoto, Agus Salim, Soekarno, Hatta…. Mereka ada di arus gagasan tentang agama dan negara, memberi kontribusi besar dalam pembentukan Indonesia.
Agenda berlanjut untuk mendatangi kios koran. Mataku membaca sekian koran, berhadapan dengan Tempo (12-18 Agustus 2013) edisi Agus Salim: Diplomat Jenaka Penopang Republik. Di beranda rumah, aku membaca Tempo, Kompas, Koran Tempo, Republika. Aku lekas khatamkan sajian-sajian mengenai Agus Salim, menemukan buku rujukan penting: Hadji Agus Salim: Pahlawan Nasional (Djajamurni, 1963) susunan Solichin Salam. Buku ini sering dijadikan sumber penulisan oleh para wartawan Tempo, diimbuhi referensi-referensi lain. Aku pun mengingat, mengajak tubuh menemu buku di sekian tumpukan kardus. Menit berganti menit, buku itu ada di pelukanku.
Agus 1
Solichin Salam mengakui peran besar Agus Salim dalam sejarah Indonesia: “Kelahiran dan kehadirannja bagaikan sinar tedja diufuk timur jang mulai menjingsing, menjapu segala kabut tebal jang menjelubungi wadjah keindahan dan kebesaran Ibu Pertiwi Indonesia. Tugas mulia dan utama jang dibebankan oleh tuntutan dan tantangan sedjarah kepadanja itu, dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknja, sehingga berkat djasa dan perdjuangannja, menjebabkan masjarakat bangsanja bangun dan bangkit dari kekantukan dan kelengahan zamannja.” Narasi puitis, mengagungkan lelaki bertubuh kecil dan berjenggot: Agus Salim.
Buku setebal 262 halaman ini mendapati kesan imbuhan melalui pemuatan tulisan panjang dari Mohammad Hatta berjudul Kenang-kenangan kepada Hadji Agus Salim. Hata mengingat pertemuan dan peristiwa, merujuk ke Agus Salim. Ingatan atas sejarah Indonesia adalah ingatan biografis Agus Salim, manusia fenomenal sejak awal abad XX. Hatta mengenang: “Bagi saja jang bersekolah di Padang pada waktu itu, buah pena Salim jang tadjam itu dengan kata-katanja jang tangkas menarik perhatian dan mendjadikan saja seorang jang gemar membatja surat kabar Neratja. Surat-surat kabar jang terbit di Padang sudah tidak saja atjuhkan lagi. Dalam hati saja timbul keinginan untuk mengenal orangnja dari dekat.” Agus Salim memang moncer sebagai jurnalis dan intelektual saat mengasuh Neratja, menggantikan posisi Abdoel Moeis.
Ikhtiar membandingkan Tempo dan buku susunan Solicihin Salam membuatku berpengharapan: penulisan buku-buku biografi belum menjadi rujukan terang mengerti sejarah Indonesia. Aku merasa buku Hadji Agus Salim: Pahlawan Nasional memerlukan pelengkap edisi-edisi lanjutan. Keterangan-keterangan tentang Agus Salim belum utuh, membuktikan ada “pengabaian” literasi dalam menghormati tokoh dan “mengawetkan” sejarah.
Agus 2
Aku tertarik untuk mengetahui peran dan ulah Agus Salim saat bekerja di Commissie voor de Volkslectuur, 1917. Konon, nama institusi kolonial ini berubah bernama Balai Pustaka oleh usulan Agus Salim. Solicihin Salam tak memberi keterangan panjang, mengisahkan episode Agus Salim menggerakkan literasi di tanah terjajah. Solichin Salam cuma menerangkan: “Dalam tahun 1917 beliau diangkat mendjadi Hoodfredactur untuk bahasa Melaju pada Kantor Komisi Batjaan Rakjat (Commissie voor de Volkslectuur), jang kemudian berobah mendjadi Balai Pustaka, hingga tahun 1919 beliau masih bekerdja disana.” Aku juga tidak menemukan uraian panjang di Tempo. Agus Salim dan Balai Pustaka masih sisakan penasaran.
Ketokohan Agus Salim sebagai pengarang merangsangku untuk membuat perbandingan dengan tokoh-tokoh lain. Intelektualitas Agus Salim jarang mendapat pengakuan melalui kehadiran buku-buku ampuh. Solicihin Salam menjelaskan: “Kebanjakan buku-buku karangan beliau berupa risalah-risalah pendek, selain tipis isinja, djuga ringan sifatnja. Isi buku-bukunja umumnja membahas sesuatu masalah, seperti misalnja mengenai soal-soal politik, kebudajaan, sedjarah, tetapi jang terutama sekali ialah mengenai soal agama.”
Peristiwa membaca Tempo dan Hadji Agus Salim: Pahlawan Nasional lekas aku sampaikan ke teman-teman. Siang, 4 santri dari Sumenep-Madura datang ke Bilik Literasi, berniat belajar selama 3 hari. Sore, obrolan-obrolan literasi dimulai dengan tema Proklamasi. Malam, obrolan tentang buku dan puisi. Aku berulang mengucap nama Agus Salim dan memberi keterangan-keterangan pendek. Teman-teman terus membuat obrolan. Aku pun terbaring di ranjang, mendengarkan lagu-lagu lawas dari radio dan membaca sekejap. Begitu.

 

Iklan