Tag

, , , , ,

Bandun Mawardi

Pagi di belakang rumah, duduk dan membaca majalah lawas: Sin Po, Tahon ka X No. 484, Saptoe, 9 Juli 1932. Melihat puluhan pohon jati, 5 ekor kambing, ilalang. Di kebun, sejarah terasa ada. Aku merasa membaca buku dan melihat kebun memiliki kemiripan. Oh! Para tetangga bergegas, masuk ke tempat kerja. Aku cuma duduk, menikmati segelas kopi. Ada lantunan lagu-lagu pop dari radio. Pagi berliterasi, usai mencuci dan menggerakkan sapu di lantai.

Sejak lama, aku mengetahui Sin Po di buku-buku sejarah pers atau buku-buku mengenai keturunan Tionghoa di Indonesia. Dulu, aku cuma melihat foto atau gambar di buku. Sekarang, majalah itu terpegang, mataku membaca pelan-pelan. Majalah Sin Po (1932) melintasi waktu, bertahan sampai ada di pegangan tanganku, 2013. Aku tidak tahu majalah itu pernah tersimpan di rumah orang atau perpustakaan sebelum mampir ke kios buku bekas.

Sin Po 1

Gambar sampul: jembatan untuk lintasan kereta api. Ada orang di atas sampan. Keterangan di bawah gambar: “Djembatan kreta-api di Kedoenggedeh.” Di halaman III, Adverstentie Ketjil, disajikan pelbagai tawaran, dari anggur sampai buku. Aku tertarik membaca tawaran bukul: “PENETI DASI BARLIAN: Satoe tjerita terkenal bagoes dan berharga boeat dibatja oleh orang-orang prampoean dan lelaki jang soeda dewasa. Harga f 1.50 satoe boekoe.” Tawaran ini mengingatkan tentang esai-esaiku, deskrispi dan uraian iklan buku di majalah dan koran. Esai waguku itu pernah tampil di Kompas. Wah!

Majalah Sin Po menggunakan bahasa “Melajoe”. Aku bisa membaca meski tak cepat. Sekian hal membuatku kagum, merasa ada keanehan dan kelucuan. Imajinasiku mengarah ke biografi para pembaca Sin Po di masa 1930-an. Mereka adalah kaum melek aksara, memiliki uang untuk membeli majalah, sadar dengan pemaknaan waktu senggang….. Aku juga penasaran atas pengaruh Sin Po di Indonesia, dari urusan berita sampai konsekuensi politik.

Ada tulisan berjudul Pengaroeh Java atas Kunst Balanda. Di bawah judul ada keterangan aneh: “Kartini sebagi tjonto boeat barat. Bidadari boeat gredja di Harleem pake… kain batik!” Tulisan pendek ini memperkarakan Multatuli dan Max Havelaar. Pengaruh Jawa bagi kesusastraan Belanda berlangsung lama, membesar saat publikasi novel Max Havelaar. Aku justru ingat esai-esaiku di pelbagai koran dan majalah sering mengutip Max Havelaar. Oh!

Sin Po 2

Kutipan sealinea: “Tapi orang jang paling berdjasa dalem hal bikin bangsa Blanda djadi lebih perhatiken Java ada Multatuli jang bikin tergeter antero Nederland lantaran ia poenja boekoe Max Havelaar.” Para kritikus sastra dan ahli sejarah sering menganggap Max Havelaar mengubah nasib negeri terjajah dan negeri penjajah di pergantian abad, dari abad XIX ke abad XX. Novel itu terlambang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. H.B Jassin berhasil menerjemahkan dengan apik meski novel itu sulit dicari lagi, di toko atau perpustakaan.

Adegan membaca Sin Po di pagi hari mendapat selingan, kedatangan pengantar koran. Aku berlangganan dua koran, santapan kata harian. Aku tak segera memegang koran, masih berlanjut bercengekerama dengan Sin Po. Di rumah tetangga, lagu-lagu dangdut koplo mulai diperdengarkan: keras. Aku tak mau terganggu atau genit. Adegan membaca dilanjutkan sambil membuat jeda: memandang kebun dan kambing. Ada tambahan: ayam-ayam mencari makan di kebun.

Iklan-iklan bertebaran di Sin Po. Iklan pakaian pengantin lekas menggugah imajinasi model selebrasi pernikahan di masa lalu. Pengantin tentu memiliki angan mengenakan pakaian terindah, meminta pujian dari para tamu. Urusan pakaian atau busana telah ditulis oleh para ahli sejarah, berkaitan pakaian kerja sampai busana politik. Sejarah pakaian pengantin di Indonesia mungkin belum ditulis. Aku berharap bisa menemukan artikel atau buku, membahas sejarah pakaian pengantin, dari masa ke masa. Pakaian pengantin mengandaikan kemewahan dan kehebohan pernikahan di kalangan Eropa, Arab, pribumi, keturunan Tionghoa.

Iklan di sampul belakang juga mengundang penasaran. Ada gambar macan. Iklan “obat gosok Ban Kim Yoe Tjap Matjan” berisi gambar dan keterangan-keterangan sugestif. Obat gosok ini laris. Produsen pun berpesan: “BAN KIM YOE TJAP MATJAN bikinan kita, oleh kerna mandjoernja, banjak orang tiroe atawa palsoekan boeat kaoentoengan marika sendiri sebaliknja tipoe orang banjak, sedeng djoega itoe matjem perboeatan ada mengenain rapet sama halnja orang poenja djiwa, sebab orang soekar katahoei obat jang palsoe poenja perbedahan dari jang toelen.” Lawan dari kata “palsoe” adalah “toelen”. Ha! Aku mengira ada persaingan sengit dalam produksi obat di masa 1930-an. Pemalsuan telah terjadi, berhasrat keuntungan tapi bisa membuat “mampus” konsumen.

Sin Po 3

Membaca Sin Po ibarat membaca hal-hal bersifat memori. Iklan, cerita, berita, foto… mengantar mata mengimajinasikan situasi Indonesia di masa 1930-an. Aku juga mengangankan adegan orang-orang membaca Sin Po, mengetahui situasi zaman dari kata, gambar, foto. Pengakuan pembaca tentu penting diketahui agar ada penjelasan makna Sin Po di masa lalu. Sejarah Sin Po sudah sering masuk dalam kajian para ahli sejarah dan pemikir pers. Sin Po tak cuma majalah. Sin Po adalah ingatan. Aku membaca sambil terus mengingat dan mencari keterangan-keterangan lanjutan. Begitu.

Iklan