Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

17 Agutus 2013, orang-orang bergerak ke lapangan untuk upacara. Aku telah melakoni upacara ratusan kali, sejak di SD sampai SMA. Upacara di halaman sekolah dan lapangan adalah memori “keterpaksaan” dan “bosan”. Aku jarang menikmati upacara sebagai peristiwa dan makna nasionalisme: mengerti Indonesia dan membentuk diri menjadi Indonesia. Upacara di Indonesia mirip adegan-adegan teatrikal tanpa kesan, dilakoni secara rutin meski hampir tak bermakna.

Aku tak mengikuti upacara, berdiam di rumah. Adegan membaca dan menulis terus dijalani, tak mengenal aba-aba upacara. Di luar, bendera di rumah-rumah warga berkibaran, terkena angin dan sinar matahari. Aku sulit memberi makna, merenungkan misi memasang bendera demi memori proklamasi. Aduh! Tubuhku hampir kehilangan klaim-klaim nasionalisme, renggang dari pengertian-pengertian umum.

Aku tak mau menjadi pejabat atau presiden. Lho! Mereka biasa mengesahkan memori proklamasi dengan mengunjungi taman makam pahlawan, berziarah dengan imajinasi nasionalisme. Ingatanku atas taman makam pahlawan adalah nisan, helm, rumput, pohon, tugu…. Imajinasiku lekas mengarah ke narasi militer. Aku jarang mendapati mistisime makam menguak nasionalisme secara impresif. Oh! Aku menghormati para pahlawan meski tak harus memberi puja berlebihan atas narasi militerisme dalam sejarah Indonesia.

Wartawan 1

Ingatanku tentang proklamasi justru mengarah ke wartawan. Mereka tampil sebagai pewarta, mengajukan kata-kata sebagai berita-cerita untuk publik. Para penggerak bangsa sering memiliki biografi sebagai wartawan, berpolitik dan berliterasi demi nalar-imajinasi pembentukan Indonesia. Aku pun mengingat proklamasi melalui buku berjudul Sebelas Perintis Pers Indonesia (Djambatan, 1976) susunan Soebagijo I.N.

Buku setebal 80 halaman, memuat biografi Abdul Rivai, Raden Bakrie Soeraatmadja, Raden Mas Bintarti, Danudirdja Setiabudhi, Raden Darmosoegito, Raden Mas Tirtoadhisoerjo, Djamaluddin Adinegoro, Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangie, Soedarjo Tjokrosisworo, Soetopo Wonobojo, Raden Taher Tjindarboemi. Mereka turut menentukan sejarah Indonesia, memproklamasikan gagasan melalui kerja pers. Mereka pantas diziarahi, mendapat penghormatan: dari kata sampai perbuatan. Soebagijo I.N. menulis: “Sejarah mencatat bahwa pada hakekatnya pers Indonesia dan pergerakan kebangsaan tidak dapat dipisahkan yang satu dengan yang lain. Kedua-duanya merupakan dwitunggal dalam arti yang sebaik-baiknya arti.” Aku menerima keterangan ini tanpa keraguan atau protes.

Pers memang mengembuskan bara kata, menimbulkan gejolak gagasan mengarah ke pembentukan Indonesia. Peran itu menguat sejak awal abad XX, hadir bersama lakon pergerakan politik, pidato, rapat, publikasi sastra…. Aku perlahan belajar sejarah pers di Indonesia, menemukan ada gairah tak biasa. Kehadiran koran atau majalah menjadi juru bicara dari semaian ideologi dan sebaran kehendak melawan kolonialisme. Belajar sejarah Indonesia mustahil terpenuhi jika abai sejarah pers.

Wartawan 2

Abdul Rivai adalah “bapa dalam golongan journalistiek”. Pengakuan ini diberikan mengacu peran Abdul Rivai dalam menggerakkan pers di awal abad XX. Pamor intelektualitas dan politik menguatkan hasrat Abdul Rivai untuk mengubah nasib negeri terjajah, mengatar ke jalan terang bermodal pena dan kata. Oh! Soebagijo I.N. menerangkan: “Dengan pena ia mempimpin dan menyadarkan bangsanya…” Pembuktian ketokohan Abdul Rivai bermula dari kegandrungan menggunakan idiom “kemajuan” dan “tanah air”. Idiom-idiom itu mempengaruhi kalangan terpelajar, representasi dari kehendak perubahan.

Biografi pendek Djamaludin Adinegoro memberi informasi tentang gairah mengurusi kata di masa kolonial. Adinegoro adalah manusia ampuh, rajin menulis dan memiliki kompetensi mumpuni dalam jurnalistik. Bersekolah di STOVIA tak mengantar Adinegoro menjadi dokter. Impian jadi wartawan memerlukan pilihan berisiko. Adinegoro meninggalkan STOVIA, bergerak ke Eropa demi belajar menjadi wartawan. Perlawatan ke pelbagai negeri di Eropa menghasilkan buku Melawat ke Barat. Pulang dari Eropa, Adinegoro menjadi pemimpin redaksi Pandji Poestaka, 1931.

Aku merasa peran para wartawan di masa silam selalu mengandung konsekuensi politik, ekonomi, sosial, kultural. Mereka tak gentar, bergerak di pers meski harus menanggung miskin, represi politik, kematian. Ingatan Proklamasi memang pantas ditujukan ke mereka, tak melulu kaum militer atau kaum politik. Keberadaan untuk berbagi kata di koran dan majalah menentukan sebaran informasi, propaganda, gagasan. Wartawan memiliki amanat besar: membuat semaian literasi di negeri terjajah.

Aku telah membaca puluhan buku tentang biografi wartawan dan pers. Soebagijo I.N. termasuk penulis produktif, membukukan para wartawan dan mengenalkan ke publik pelbagai hal mengenai pers. Aku ingat buku Soebagijo I.N. berjudul Jagat Wartawan Indonesia (1981). Buku ini menggenapi penerbitan buku Sebelas Perintis Pers Indonesia. Aku sudah mengumpulkan puluhan buku garapan Soebagijo I.N. Penasaran belum terselesaikan. Keinginanku: menulis esai panjang tentang Soebagijo I.N. sebagai wartawan, sastrawan, penulis puluhan buku biografi. Keterangan-keterangan mesti dilacak, buku-buku harus segera dikumpulkan. Menata pelbagai informasi dan menarasikan sosok Soebagijo I.N. tentu jadi pembuktian misi belajar sejarah pers. Begitu.

Iklan