Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

“Boeah karangan ini lahir berangsoer-angsoer sebagai hasil peladjaran dialam jang soenji. Lahirnja bermoela ditempat pemboeangan di Boven Digoel.” Kalimat-kalimat ditulis oleh Mohammad Hatta, penggerak politik dan pemikir, di halaman “pengantar kalam” untuk buku berjudul Alam Pikiran Joenani, diterbitkan M. Zain Djambek, 1946 (cetakan kedua). Buku ini semula dicetak di tahun 1945, tahun proklamasi.

Buku Alam Pikiran Joenani berkaitan gerakan politik Hatta, misi edukasi ekonomi-politik, tanda asmara. Indonesia tentu turut dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Hatta, termasuk pengaruh dari publikasi buku Alam Pikiran Joenani. Aku merasa ada keajaiban di tahun 1945, Indonesia diproklamasikan dan diartikan oleh Hatta melalui buku filsafat. Orang-orang Indonesia mendapat bacaan filsafat. Aku belum tahu tentang buku filsafat awal berbahasa Indonesia di awal abad XX. Dugaanku, kaum intelekual pribumi telah memiliki kemampuan belajar filsafat. Mereka mungkin pernah menulis brosur, artikel, buku mengenai filsafat. Ingatanku mengarah ke Radjiman Wediodiningrat, intelektual dan penggerak politik. Di awal abad XX, tulisan-tulisan Radjiman Wediodiningrat mengandung aroma filsafat dan teosofi. Aku cuma mengingat, belum memastikan.

Joenani 1

Hatta tentu jadi pemula dari kehadiran buku filsafat di Indonesia, merujuk dari rintisan mengajar filsafat selama mengalami pembuangan di Boven Digoel, masa 1930-an. Materi-materi diajarkan di “tanah merah”, berlanjut terbit di tahun 1945 dan 1946. Hatta tak eksplisit mengajar berdalih filsafat atau berlaku menjadi filosof. Materi-materi filsafat diajarkan untuk menunjang studi ekonomi. Hatta menjelaskan: “Tatkala kita disana memimpin peladjaran beberapa orang kawan kedalam ekonomi, terasa oleh kita, bahwa baik djoega kepada peladjar jang soedah mempoenjai paham dan soedah mengalami perdjoeangan hidoep disertakan peladjaran filosofi.” Hatta tak menggunakan istilah “filsafat”.

Aku merasa kagum. Kerja edukasi Hatta tak bisa dihentikan meski ada di tanah pembuangan. Boven Digoel? Para tokoh pergerakan pernah hidup di Boven Digoel. Marco Kartodikromo pun “selesai” di Boven Digoel. Marco Kartodikromo meninggalkan warisan buku berjudul Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel.  Pengarang dan jurnalis itu menginformasikan: “Boven Digoellah tempat sebaik-baiknja oentoek mengetahoei serta mengoekoer tinggi rendahnja deradjat orang-orang politik di Indonesia.” Hatta juga memberi klaim bahwa Boven Digoel adalah “Mekkah” untuk gerakan politik progresif di Indonesia.

Joenani 2

Tulisan dan agenda literasi membuat Marco Karodikromo dan Hatta bisa tetap merasa menjadi manusia meski mengalami represi dan alienasi. Mereka menulis, meladeni situasi dengan kata-kata. Hatta memiliki dalil dalam mengajarkan filsafat: “Dalam pergaoelan hidoep, jang begitoe menindis akan rohani, sebagai ditanah pemboeangan Digoel, keamanan perasaan itoe perloe ada. Siapa jang hidoep dalam doenia pikiran, dapat melepaskan dirinja dari pada ganggoean hidoep sehari-hari itoe. dengan timbangan seperti itoe kita menjoesoen peladjaran filosofi ini.” Ampuh! Filsafat dipakai untuk mengelak dari siksa dan gila. Kebijakan kolonial tak bisa “membunuh” kaum intelektual Indonesia. Mereka “melawan” dengan berpikir, menulis, mengajar.

Materi-materi di buku Alam Pikiran Joenani semula diajarkan menggunakan bahasa Belanda. Lho! Hatta memang intelektual beraroma Barat, fasih berbahasa Belanda. Hatta pernah menempuh studi dan membuat gerakan politik di Belanda. Pilihan mengajar berbahasa Belanda tentu dipengaruhi oleh situasi intelektual di Indonesia, konsekuensi dari agenda edukasi kolonial berkiblat Barat. Kaum intelektual pribumi memang harus memiliki kesanggupan berbahasa Belanda untuk sekolah dan bekerja, dipengaruhi model siasat politik kolonial berjuluk Politik Etis.

Hatta tak berniat sombong atau elitis saat menggunakan bahasa Belanda. argumentasi Hatta: “Berhoeboeng dengan soekarnka memindahkan berbagai boeah pikiran jang dalam-dalam kedalam bahasa kita, peladjaran itoe diadjarkan bermoela dalam bahasa Belanda.” Wah! Aku tidak mengerti bahasa Belanda. Aku juga tidak mengerti bahasa Inggris, Perancis, Jerman. Pembelajaranku menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia, berarti tak pantas mendapat “pengesahan” sebagai intelektual. Oh! Misi menjadi intelektual di Indonesia mulai menggunakan aturan-aturan ketat: bisa berbahasa asing dan “berpikiran” mirip orang asing. Lho!

Materi-materi itu disalin ke bahasa Indonesia, diterbitkan untuk menjadi bacaan publik. Dalil penerbit: “…boekoe pengetahoen sematjam itoe beloem ada dalam bahasa kita. Faedah menerbitkannja tentoelah akan sangat besar, lebih-lebih dikalangan penoentoet agama kita jang berbahasa Indonesia dan Arab.” Hatta semula mengajar filsafat untuk sokongan pembelajaran ekonomi. Penerbit memberi imbuhan, filsafat penting bagi para pembelajar agama.

Buku setebal 52 halaman ini tak cuma mengandung sejarah pemikiran, literasi, politik di Indonesia. Alam Pikiran Joenani juga menjadi tanda dari asmaranisme Hatta saat menjalankan ritus cinta: pernikahan. Buku itu menjadi persembahan bagi perempuan tercinta. Romantis! Filsafat tak melulu pikiran berat di “alam soenji”. Filsafat bisa membuai perasaan demi cinta. Begitu.

Iklan