Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

1 September 2013, matahari masih muncul. Aku melihat di jendela. Matahari selalu cakep, tampil semringah dan cerah. Aku malu jika membandingkan diri dengan matahari. Di beranda, duduk sambil melihat orang-orang lewat. Aku merasa ada peristiwa-peristiwa akbar bagi para tetangga. Mataku cuma melihat, tak ada niat turut mengalami peristiwa akbar. Aku bergerak ke Stadion Manahan, berperan sebagai pengunjung: mencari berkah. Lho!

Pagiku semringah. 3 tulisan tampil di koran. Resensi berjudul “Berubah di Negeri Berbendera Merah” di Jawa Pos, esai “Keraton Surakarta: Imajinasi dan Makna” di Koran Tempo, resensi “Novel dan Nostalgia Asmara” di Lampung Post. Hari-hari terakhir aku memang sering membaca novel. Keranjingan novel membangkitkan masa-masa sendu bersama tebaran kata, mengimajinasikan diri sebagai tokoh-tokoh fiksional. Aku sedang mengajak teman-teman untuk menulis kisah diri bersama novel. Esai-esai itu bakal diterbitkan oleh Bilik Literasi Solo. Aku mengurusi puluhan esai, bersama kecanduan menikmati novel.

Di sela gandrung novel, aku membaca buku lawas: Berbagai-Bagai Kepertjajaan Orang Melajoe (Boekhandel Visser & Co., 1917) susunan M.T. Soetan Lembang ‘Alam. Buku ini terbit atas usaha Comissie voor de Volkslectuur, bernomor seri 260. Buku setebal 78 halaman memiliki harga f 0.30. Sekarang, buku ini memiliki harga 500 ribu rupiah. Mahal! Buku tipis, memuat ingatan literasi di Hindia Belanda. Pembaca pun  bisa menilik alam pikiran “orang Melajoe” di zaman kemadjoean. Buku Berbagai-Bagai Kepertjajaan Orang Melajoe hadir di saat pribumi membutuhkan bacaan, efek dari pendirian sekolah-sekolah dan kemelekhurufan.

Kepertjaan Melajoe 1

Penulis menerangkan bahwa buku ini membahas “Kepertjajaan kepada orang haloes (hantoe, setan, djin dan lain-lain sebangsanja”. Oh! Tema penting. Aku menganggap penting berpamrih mengerti ketagangan alam pikir tradisional dan efek dari kemodernan di awal abad XX. Tema ini tak usang. Orang-orang di Indonesa malah pernah kecanduan hantu akibat film-film horor dan penerbitan novel-novel horor. Kecanduan itu bertambah dengan program horor di televisi, menghadirkan dukun atau ustadz.

Peringatan dari penulis: “Ketahoeilah kiranja, bahwa barang siapa jang mempertjajai sahadja akan segala kepertjajaan jang sia-sia (perkara tachjoel) itoe, dengan tiada oesoel periksanja, tiada diselidikinja benar lebih dahoeloe, tiada diketahoeinja keterangan jang tjoekoep sempoerna dan sebab-sebab jang sebenarnja, tentangan kepertjajaan jang sia-sia (perkara tachjoel) itoe, melainkan segera main pertjaja sahadja, njatalah ia itoe orang bodoh, jang tiada mempergoenakan pikiran, ‘akal dan pendapatnja dengan sepatoetnja.”

2

Di zaman modern, urusan hantu jadi perdebatan. Orang-orang di negeri terjajah mulai mendapati model mengusut kebenaran dan kesesatan. Alam pikiran tradisional berciri kolot perlahan berubah oleh efek dari modernisasi, efek dari kolonialisme. Penggunaan kata “bodoh” atau “kebodohan” membuktikan ada ajakan penulis untuk bergerak ke rasionalitas. Keterangan tentang efek dari modernisasi-kolonialisme: “Oleh karena pada masa dahoeloe bangsa Melajoe banjak jang bodoh-bodoh, dengan amat moedahlah kepertjajaan perkara tachjoel itoe termasoek kedalam hatinja. Selama bangsa Melajoe soedah bertjampoer baoer dengan bangsa-bangsa asing, teroetamalah setelah tanah Hindia dibawah perintah Gouvernement Belanda dan sesoedahnja diadakan roemah-roemah sekolah, banjaklah berkoerangnja kepertjaan jang sia-sia.” Aku baru mengerti bahwa sekolah menjadi pemicu “pengusiran” hantu dan jin. Hebat!

Aku justru teringat berita-berita di koran dan televisi. Murid-murid kesurupan di kelas atau sekolah. Kesurupan kadang terjadi saat mereka “melamun” dan sedih menghadapi ujian. Dukun-dukun didatangan untuk membuat mereka siuman. Lho! Hantu dan jin terbukti belum tersingkir di abad XXI. Mereka masih ada di sekolah-sekolah. Di Indonesia, sekolah cuma dipakai dari pagi sampai siang atau dari pagi sampai sore. Malam tak ada kegiatan. Hantu dan jin pun memilih belajar di sekolah saat malam hari.

M.T. Soetan Lembang ‘Alam menerangkan tentang siluman. Aku mendapat keterangan apik dan menggugah: “…soenggoehpoen siloeman itoe soedah bersifat seperti manoesia dan banjak kesaktiannja, akan tetapi selamanja tiadalah ia berhati soetji, melainkan berhati bengkok (boesoek, serong), jang oedjoednja semata-mata kepada kedjahatan sadja: Ia amat soeka berboeat perkerdjaan jang doerdjana dan chianat, sehingga atjap kali binasalah ia oleh karena perboeatannja jang chianat itoe.” Aku tergoda untuk usul agar para mahasiswa bisa menggarap tema hantu, jin, peri, siluman dalam disertasi. Aku menduga bakal jadi kejutan keilmuan di Indonesia, menengok sejarah dan menjelaskan latar sosial-politik-kultural.

Pembelajaran tentang hantu, jin, peri, siluman perlu diajarkan di kampus agar para mahasiswa tak cuma berpikir tema-tema besar. Lacak kepustakaan, pencatatan cerita lisan, penelitian ke desa dan makam bisa menjadi ikhtiar menaruh tema itu ke materi perkuliahan. Aku terlalu suka usul. Sekejap, aku mengingat cerita-cerita hantu, jin, peri, siluman ada di sastra-sastra klasik Nusantara. Usulku tak boleh diremehkan tapi boleh tidak dituruti. Begitu. c

Iklan