Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

25 Agustus 2013, aku dan teman-teman berkumpul di rumah Yudhi Herwibowo: Mojosongo, Solo. Kami berkencan literasi, mengobrolkan novel Lust for Life (Serambi, 2012) garapan Irving Stone. Pengisahan Vincent van Gogh menimbulkan haru dan heroisme. Aku paling tertarik episode kehidupan Vincent van Gogh saat berseru komunisme bersama para pelukis miskin di Paris. Mereka ingin melukis dan berkomunis. Seni, kemiskinan, komunis: adonan tema impresif. Revolusioner!

Hari demi hari berganti. Aku mengajak Pri berkeliaran ke toko buku, mencari bacaan idaman. Di atas meja, buku berjudul Di Bawah Bendera Merah (Serambi, 2013) garapan Mo Yan menggoda mata dan iman. Aku ambil dengan doa pendek: “Jadilah berkah!” Uang diserahkan ke kasir. Pulang. Sisa uang dibelikan wedang ronde, minuman hangat untuk tubuh di malam dingin.

Buku itu menggemaskan. Gambar sampul: lelaki berseragam tentara memegang bendera merah, duduk di atas truk tua. Aku membaca dengan girang, lekas khatam. Kebiasaanku: usai membaca buku harus mendapat orang-orang menjadi pendengar cerita. Siang panas. Aku sulit mencari orang-orang. Pesan pendek kusebarkan ke teman-teman, berisi propaganda agar segera membaca dan memiliki buku Di Bawah Bendera Merah. Wah! Mo Yan mengisahkan diri pernah hidup bersama patung-patung Mao Tse Tung. Peraihn Nobel Sastra 2012 itu pembelajar Marxisme, menjalani hidup di negeri berbendera merah: China. Aku sanggup membuat dua resensi untuk menghormati Mo Yan.

Dua buku tentang Vincent van Gogh dan Mo Yan mengingatkanku dengan buku bersampul hijau tapi “berdarah” merah: Manifes Partai Komunis garapan Karl Marx dan Friedrich Engels (Jajasan Pembaruan, 1960), cetakan keempat. Aku mendapatkan buku ini di tahun 2001. Aku membaca dengan dugaan-dugaan atas resepsi para pembaca di Indonesia masa 1950-an dan 1960-an. Mereka ada negeri berlangit slogan dan propaganda ideologis, mengimpikan Indonesia menjadi negeri merah, berbendera merah. Sejenak, aku merenung sejarah PKI dan biografi para tokoh berbendera merah: Semaoen, Haji Misbach, Muso, Aidit, Njoto….

Marx 1

Aku simak keterangan sejarah penulisan dan penerbitan Manifes Partai Komunis: “Manuskrip manifes ini dikirimkan ke pertjetakan di London bulan Djanuari 1848, beberapa minggu sebelum meletus Revolusi Perantjis tanggal 24 Februari 1848. Manuskripnja ditulis dalam bahasa Djerman jang kemudian segera terdjemahannja diterbitkan dalam bahasa Perantjis, Inggris, Deen, Polandia dan bahasa-bahasa lainnja.

Manifes Partai Komunis sampai ke Indonesia, menjadi bacaan kaum merah dan kaum pergerakan nasionalisme. Buku itu turut merangsang laju ideologi Marxisme di Indonesia sejaka masa kolonialisme. Agenda menerjemahkan pun dilakukan agar ada sebaran bacaan ke publik. Penjelasan penerbit: “Memang sudah sepatutnja Manifes Partai Komunis diterdjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Sudah pernah terbit terdjemahannja dalam bahasa Indonesia, jaitu pada tahun 1942. Mula-mula diterdjemahkan oleh saudara Partondo dan kemudian oleh seorang jang memakai nama A. Zain. Penerbitan ini mendapat sambutan jang luar biasa dari rakjat Indonesia seumumnja.”

Aku tidak pernah tahu biografi para penerjemah, merasa kehilangan jejak literasi kiri di Indonesia. Peran para penerjemah buku-buku “berdarah” merah tentu menentukan proses serapan ideologis di Indonesia, bermula dari bacaan sampai ke tindakan-tindakan. Partondo dan A. Zain patut dicatat dalam lembaran sejarah, para penerjemah di titian ideologis. Mereka tak cuma berurusan dengan penerjemahan. Mereka ada di zaman gejolak ideologis, merangsang Indonesia bergerak.

“Sedjarah dari semua masjarakat jang ada hingga sekarang ini adalah sedjarah pertentangan kelas.” Kalimat ini menggoncang dunia, memicu revolusi-revolusi di pelbagai negeri. Marx dan Engels seolah menulis mantra, disebarkan ke dunia bermisi mengubah arah sejarah. Revolusi dari kata-kata, beredar ke dunia melalui terjemahan-terjemahan. Manifes Partai Komunis pun berlaku menjadi “kitab suci” untuk umat merah. Oh!

Marx 2

Di masa silam, di ujung abad XIX, Marx dan Engels menulis: “Tudjuan terdekat dari kaum komunis adalah sama dengan tudjuan semua partai proletar lain-lainnja: pembentukan proletariat mendjadi suatu klas, penggulingan kekuasaan burdjuasi, perebutan kekuasaan politik oleh proletariat.” Ada nuansa optimisme, “jihad” proletariat demi dunia berbeda. Aku tak terlalu mengerti, membaca dengan pengandaian saja untuk nasib umat merah, dari abad XIX sampai abad XXI. Lho!

Dunia bergelimang mimpi. Aku takjub dengan mimpi revolusioner para penggerak sejarah di kubu Marx dan Engels. Mereka memiliki mimpi, didongengkan ke jutaan orang, dari hari ke hari. Mimpi revolusioner: “Sebagai ganti dari masjarakat burdjuis jang lama dengan klas-klasnja beserta antagonisme-antagonisme klasnja, kita akan mempunjai suatu persekutuan hidup dimana perkembangan bebas dari seriap orang mendjadi sjarat bagi perkembangan bebas dari semuanja.”

Kalimat-kalimat di Manifes Partai Komunis hadir di ujung abad XIX, menghendaki terjelma sepanjang masa. Dua lelaki berjenggot lebat ingin menjadikan dunia itu terang dan gemilang. Oh! Aku menduga mimpi para pemikir di abad XIX tentu keramat ketimbang mimpi orang-orang di abad XXI: klise dan picisan. Buku ini mata sejarah dari masa silam meski sulit mewujud. Mimpi masih ada di buku. Begitu.

Iklan