Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Subuh, 8 September 2013, aku dan Fauzi telah sampai di Terminal Tirtonadi, Solo. Perjalanan pulang dari Kediri masih sisakan dingin dan lelah. Semalam, aku mengoceh tentang seks dan Indonesia. Di ruang redup, orang-orang sering termangu dan cekikikan jika mendengar kata-kata berkaitan seks. Mereka malu dan kikuk. Aku tak terlalu berdebat sengit. Subuh, penjual koran memamerkan dagangan. Jawa Pos bersamaku dalam perjalanan pulang. Di rumah, membaca resensi Muhidin M. Dahlan untuk Penghancuran Buku: Dari Masa ke Masa (Marjin Kiri, 2013) garapan Fernando Baez. Aku telah lama menginginkan buku itu meski belum keturutan.

Kabar datang dari jauh. Esaiku berjudul “Jalan dan Sastrawan” tampil di Koran Sindo, esai wagu dan sinis. Pagi bercumbu dengan koran-koran dan tumpukan buku. Matahari mengecupku dari jendela. Ada perempuan datang ke rumah, mengabarkan dan memamerkan Penghancuran Buku: Dari Masa ke Masa. Aku lekas membaca sambil menduga keampuhan narasi kesejarahan buku.

Siang, aku bergerak ke Balai Soedjatmoko: menghadiri acara sinau sastra oleh Pawon. Teman-teman belajar riang, saling berbagi cerita. Aku dan Yudhi Herwibowo naik ke Toko Gramedia, mendapati majalah Horison edisi September 2013. Ada esaiku berjudul “Ziarah Imajinasi Candi”, terletak di halaman 28 sampai 32. Aku pun menatap sekian buku idaman meski belum sanggup membeli.

Aku perlahan ingat adegan di masa SMA. Aku sering mendekam di perpustakaan, membaca majalah Horison dan Tempo. Hari demi hari, aku mulai membeli dan mengoleksi ratusan Horison lawas. Majalah sastra itu ada bersamaku selama sekian tahun, bacaan untuk mengartikan ambisiku menjadi pujangga. Oh! Dari masa ke masa, Horison memiliki kekhasan berbeda. Aku cenderung mengagumi edisi-edisi 1960-an dan 1970-an.

Aku membaca ulang Horison No. 3, September 1966. Tampilan Horison lugu, berkertas koran dan tipis. Di sampul depan, tercantum nama pengarang dan judul tulisan: Sebuah Sketsa dari Pendjara (Mochtar Lubis), Pada Titik Kulminasi (Satyagraha Hoerip), Thema Bukan Utopia Ketjil (Goenawan Mohamad). Tiga nama itu telah masuk daftar ingatanku ke jagat sastra di Indonesia.

Horison 1

Di halaman “Tjatatan Kebudajaan” aku tertarik penjelasan Zaini mengenai usulan pendirian museum seni rupa. Usulan dilatari oleh peristiwa-peristiwa di masa 1960-an. Zaini menulis: “Dimasa pragestapu, jang lahir hanjalah poster-poster jang berukuran besar. Dan telah mendjadi mode umum pula ketika itu, menggambarkan orang berkepala ketjil bermuka bengis dengan tangan dan kepalan jang besar jang hendak meremas orang lajaknja. Semua musuhnja hendak dibunuh digantung pendeknja, semua mau dihanttjurkan PKI… sangat sadistis. Poster-poster ini semua bertebaran keseluruh negeri. Suasana jang penuh dengan perasaan dengki dan dendam-kesumat itu, memang tak memungkinkan lahirnja karja seni.” Penggunaan kata-kata dalam alinea emosional itu mengesankan bara kata saat konflik ideologi di masa 1960-an. Zaini masih memilih kata-kata keras untuk mengisahkan Indonesia. Aku menduga Zaini masih sulit menghindari sihir bahasa “konflik” mengacu ke malapetaka 1965.

Aku berlanjut membaca esai Goenawan Mohamad, tampil di dua halaman. Esai ini mirip renungan di masa keras dan panas. Esai seolah mengelak dari zaman slogan, zaman kecaman. Goenawan Mohamad menulis: “Pentjiptaan hasil kesusasteraan pada hakikatnja adalah sebuah ‘sedjarah’ ketjil. Sebagaimana sedjarah, pentjiptaan mempunjai suatu rentjana djangka pandjang, jakni thema; tapi sebagaimana pula sedjarah, ia mempunjai suatu rentjana djangka pendek, jakni titik-titik perkembangan pertama dari pembangunan tjeriteranja. Titik-titik perkembangan pertama ini tidak bisa dikorbankan untuk themanja, melainkan ikut djuga menentukan nasib dari thema itu sendiri.” Uraian ini mirip bisikan di jagat sastra Indonesia, hadir saat keramaian dan kegamangan.

Di halaman 80, aku dapati esai terjemahan berjudul “Tjatatan untuk Karja Orwell: 1984”. Terjemahan dilakukan oleh So Hok Djin. George Orwell? Nama ini telah akrab denganku sejak lama. 1984 dan Binatangisme telah aku khatamkan. Aku mengutip aliena apik: “Dalam melukiskan djenis pemikirn jang berkuasa dalam 1984, Orwell memperkenalkan suatu kata jang telah mendjadi bagian dari perbendaharaan kata modern jakni: “pikiran ganda”. Pikiranganda berarti kesanggupan untuk dapat mentjakup dua kejakinan jang berlawanan dalam diri seseorang setjara serentak dan menerima keduanja sebagai kebenaran…” Aku bakal menggunakan ungkapan ini untuk garapan esai, mengejek kaum politikus!

Horison 2

Majalah lawas tak berarti berisi hal-hal lawas. Aku merasa mendapat jejak sebaran ide dan imajinasi dari masa silam. Majalah menjadi pembuktian kerja sastra saat Indonesia berjalan ke depan, melintasi tahun demi tahun. Horison memang telah melintasi jalan sejarah, mengingatkan kesilaman sebagai zaman bertaburan kata: menggerakkan Indonesia.

Ingatan atas Horison lawas masih ada saat aku mengurusi acara obrolan untuk buku Celeng Satu Celeng Semua garapan Triyanto Triwikromo di Balai Soedjatmoko, 8 malam. Teman-teman saling berbagi interpretasi, mengurai pelbagai hal. Pilihan tema dan kesanggupan artikulatif menentukan pemaknaan bagi suguhan cerita dari pengarang ampuh asal Semarang. Aku melihat si pengarang sering berubah ekspresi saat menikmati sajian interpretasi. Si pengarang bisa berwajah serius, tertawa, tenang, gelisah. Aku sengaja memberi hak ke teman-teman sebagai “pembicara”, disaksikan si pengarang. Jatah bicara bagi si pengarang ada di ujung acara.

Situasi ini justru menguatkan dugaanku bahwa di masa 1950-an dan 1960-an ada sejenis “obrolan” di kalangan pengarang dalam mengurusi sastra Indonesia. Horison adalah representasi dari “obrolan”, memberi rangsang bagi Indonesia bersastra meski tak memberi pengaruh besar jika dibandingkan dengan politik dan ekonomi. Sastra memang harus mengubah negara secara eskplisit. Begitu.

Iklan