Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Para tokoh pergerakan politik di masa silam sering berjalan bersama atau bersimpang jalan. Aku ingin mengenang Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soekarno bermula dari buku, pembuktian kemunculan elite terpelajar di masa kolonial. Dua tokoh itu bertemu di buku, mengurusi politik dengan tebaran kata. Publik selalu ingat, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soekarno adalah pemikir ampuh, penggerak ide-ide nasionalisme.

Tjipto Mangoenkoesoemo pernah mengeluarkan risalah berjudul De Beweging in India. 1947, risalah itu diterjemahkan oleh Wantina menjadi Pergerakan di India, diterbitkan oleh Indonesia Sekarang, Jogjakarta. Soekarno (1928) memberi kata pengantar pendek, 2 halaman. Soekarno menulis: “Dalam sedjarah perlawanan Asia menentang kekoeasaan doenia Barat jang imperialistis, India selaloe memegang rol jang terpenting. Itoelah sebabnja maka pahlawan-pahlawan perdjoeangan bangsa Indonesia dapat djoega mengambil banjak peladjaran-peladjaran dari sedjarah perdjoeangan kemerdekaan India.”

Soekarno dan Tjipto Mangoenkoesoemo tak selalu bersepakat. Soekarno memberi peringatang di ujung tulisan: “Saja persilahkan brosoer Saudara Tjipto ini, meskipoen isinja tidak semoenja saja setoedjoei; lebih-lebih teman-teman saja jang tidak sempat mempeladjari perpoestakaan pergerakan India, saja minta membatja boekoe ini.” Kehadiran Soekarno di buku Tjipto Mangoenkoesoemo menumbuhkan harapan agar para politikus di Indonesia menulis, saling memberi kontribusi ide, kritik, polemik. Politik tak cuma ada di gedung parlemen, istana, jalan, markas partai politik. Mereka juga harus bisa membuktikan diri memiliki etos dan selera literasi. Apes! Para politikus di Indonesia tak bisa menulis, tak menghadirkan buku sebagai kontribusi dalam edukasi politik.

Tjipto 1

Tjipto Mangoenkoesoemo menempuhi jalan politik dengan bara literasi dan aksi. Aku mengenali lelaki ganjil itu melalui uraian-uraian dari Takashi Shiraishi. Indonesia pernah memiliki tokoh kontroversial, merangsang polemik tentang Jawa, nasionalisme, asmara, intelektualitas. Tjipto Mangoenkoesoemo selalu jadi ingatan meski perlahan orang-orang enggan meneladani. Aku justru pengagum dan berkehendak jadi pengisah Tjipto Mangoenkoesoemo dengan tulisan-tulisan.

Intimitas India dan Indonesia telah terbentuk sejak lama melalui alur agama, bahasa, seni… Indianisasi berlangsung di Indonesia selama ratusan tahun, mengakar dan bertemu dengan peradaban lokal. India terus jadi referensi, memberi ilham bagi Indonesia. Tjipto Mangoenkoesoemo menemukan ada pengaruh pergerakan politik di Indonesia mengalir ke Indonesia, dipicu oleh lakon kolonialisme. Aku merasa India masih terus bersama Indonesia. Film-film dan lagu-lagu India memberi penghiburan tak selesai. Aku juga mengingat India adalah Tagore, pujangga agung. Hubungan India dan Indonesia bisa merujuk ke Tagore dan Ki Hadjar Dewantara, Notosoeroto, Sanoesi Pane…

Tjipto Mangoenkoesoemo menjelaskan: “Diantara poesat pergerakan Asia jang patoet mendapat perhtian ialah India. Kegadoehan jang timboel dengan tertibnja, adalah boekti, bahwa rakjat disana mentjari soeatoe peratoeran atau bangoen masjarakat jang lebih sesoeai dengan kemadjoean rakjat dan negara dalam hal keboedajaan, sosial dan ekonomi.” Tokoh pribumi ini tak cuma mempelajari lakon politik di Barat. India jadi tema untuk mengerti pergerakan politik di Asia, mencari rangsangan nasionalisme agar menular ke Indonesia. Aku menduga orientasi politik dan kultural ke India dipengaruhi oleh warisan indianisasi selama ratusan tahun. Tjipto Mangoenkoesoemo tak bisa mengelak, mengakui India adalah referensi.

Buku setebal 88 halaman membuktikan kompetensi intelektualitas Tjipto Mangoenkoesoemo dalam menghadirkan bacaan di zaman bergerak. Buku ini terbit di masa 1920-an, ada bersama gejolak nasionalisme dan rintisan atas “kebangoenan” Asia. Aku mengimajinasikan bahwa buku ini menjadi bacaan kalangan pergerakan politik dan intelektual berbarengan misi pembentukan partai politik, sebaran ideologi, konsensus nasionalisme. Aku pun cenderung memberi penghormatan bagi Tjipto Mangoenkoesoemo sebagai penulis, julukan mengandung makna membara.

Tjipto 2

Di halaman-halaman akhir, Tjipto Mangoenkoesoemo memberi ajakan: “Peladjaran manakah jang dapat kita ambil dari sedjarah India itoe?” Kalimat ini mirip refleksi jika meniliki signifikansi pergerakan di India bagi alur politik di Indonesia. Tjipto Mangoenkoesoemo tak lekas menjawab, mengajak ada keinsafan: “Djika kita hendak mengoepas pokok peladjaran kita setjara teratoer, maka terlebih dahoeloe kita haroes mengerti apa jang mendjadi dasar imperialisme Brit. Apa jang mendjadi alasan-alasan keinginan bangsa Inggris oentoek memperloeas tanah djadjahannja.”

Buku ini jarang mendapat perhatian dari kalangan sejarawan atau para pengisah politik di Indonesia. Aku juga belum membaca ulasan panjang mengenai pemikiran-pemikiran politik Tjipto Mangoenkoesoemo bersumber dari buku Pergerakan di India. Penerbit Indonesia Sekarang (Jogjakarta) telah menerbitkan edisi terjemahan bahasa Indonesia (1947), dua tahun setelah Indonesia mengumumkan kemerdekaan. Aku masih ragu pemaknaan buku ini di masa revolusi. Siapa membaca buku Pergerakan di India? Aku justru penasaran dengan penerbit Indonesia Sekarang. Buku terjemahan itu ada di daftar terbitan bersama penerbitan buku Mohammad Hatta berjudul Toedjoean dan Politik Pergerakan Nasional di Indonesia dan Seni Loekis, Kesenian dan Seniman oleh Soedjojono. Buku terakhir ini pernah diterbitkan ulang oleh penerbit di Jogjakarta dengan tampilan menarik. Aku sudah memiliki, menjadikan sebagai referensi untuk menulis hal-hal berkaitan seni rupa.

Buku Pergerakan di India dan penerbit Indonesia Sekarang masih jadi misteri. Aku harus melacak, mencari keterangan-keterangan agar lega dan mendapati kejutan. Begitu.

Iklan