Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Aku mengenal Montesorri dari Ki Hadjar Dewantara. Pengenalan semakin bertambah melalui buku berjudul Risalah Ahlididik Dr. Maria Montesorri  (Saptadarma, 1954) susunan Redaksi Saptadarma, Jakarta. Buku setebal 64 halaman, berwujud sederhana, berisi informasi-informasi penting. Aku memang pernah kuliah di jurusan pendidikan tapi belum mendapat pengisahan apik tentang Montesorri oleh dosen-dosen. Mereka tentu mengenal Montesorri meski cuma nama, tak berlanjut ke pendalaman ajaran-ajaran Montesorri sebagai pendidikan agung di dunia. Wah!

Redaksi Saptadarma menerangkan: “Dalam membina pendidikan nasional sekali-sekali tidaklah salah, apabila kita memperluas dan memperdalam pengetahuan kita tentang sistim pendidikan jang berlaku diluar batas negara kita. Tiap-tiap sistim, djadi djuga sistim pendidikan, mengandung unsur-unsur universil, jang sama hakekatnja bagi setiap bangsa dan setiap masa…” Pengakuan mengandung malu, representasi zaman pembentukan kepribadian Indonesia. Revolusi, kepribadian, pendidikan nasional sedang dilangsungkan di masa 1950-an, menimbulkan malu untuk mempelajari hal-hal dari negeri asing.

Montessori 1

Mereka memiliki misi: “Memperkenalkan aliran-aliran jang utama dilapangan pendidikan, chususnja hidup, perdjuangan dan alam pikiran pentjipta dan pendukung aliran-aliran itu, itulah, pembatja jang budiman, tudjuan serangkai karangan, jang kami namakan Risalah Ahlididik.” Aku belum memiliki seri-seri lanjutan. Berharap ada kejutan saat belanja buku-buku bekas, mendapat setumpuk buku tentang pendidikan. Amin.

Pengisahan Montessori memerlukan seribu halaman. Aku cuma mengetahui sepenggal demi sepenggal, belum utuh. Nama ini masih berjarak dengan keinginanku mengelaborasi ide-ide dan praksis pendidikan meski lambat. Aku harus mengerti pendidikan meski tak berprofesi sebagai guru atau dosen. Buku-buku mengenai Montessori memang sulit dicari, jarang dipelajari di sekolah dan kampus. Aku ingin mengerti demi misi “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Oh! Aku merasa paling bertanggung jawab ketimbang presiden, menteri, rektor, dosen, guru…. Lho!

Aku mengutip alinea kecil: “Tanggal 6 Djanuari tahun 1907 dibuka sekolah Montessori jang pertama dan sedjati. Sekolah itu diberi nama Casa dei Bambini (rumah kanak-kanak). Pada mulanja sedikit sekali perhatian orang terhadap sekolah itu. Bagi Montessori sendiri sekolah itu amat besar faedahnja, karena dapatlah ia sekarang mendjelmakan pikirannja. Dapatlah diberi kesempatan kepada anak-anak untuk mendidik diri sendiri dalam segala kebebasan.”

Apa ide-ide Montesorri? Aku tak bisa mengingat semua ide Montessori. Ide-ide itu bersliweran sebagai rangsangan mengingat sejarah pendidikan dan keinginanku menulis esai-esai tentang pendidikan. Aku merasa masih belum memiliki kompetensi tangguh. Aku harus belajar ke M. Fauzi Sukri, esais dan pakar filsafat pendidikan. Tema-tema pendidikan sering menggodaku ketimbang gosip-gosip di televisi.

Montessori 2

Montessori mengingatkan dua azas penting: (1) kita wajib menghormati anak sebagai individu dan (2) kita berperan wajib membantu kemerdekaan pribadi anak. Aku mengingat dua azas itu saat mendapati berita-berita ironis tentang anak-anak di Indonesia. Mereka sering mengalami peremehan, represi, frustrasi akibat ketidaksadaran penghormatan atas “individu” dan “kemerdekaan”.

Ide dan praksis pendidikan model Montessori turut mengubah dunia, memberi inspirasi ke segala penjuru negeri. Apresiasi dan kritik sering ditujukan ke Montessori, dari urusan sistem sampai ilmu jiwa. Montessori dianggap tak memiliki pengetahuan ilmu jiwa modern dalam melaksanakan ide-ide pendidikan. Montessori adalah perempuan ampuh, menggerakkan ide-ide untuk memberi pencerahan di dunia pendidikan. Redaksi Saptadarma mengakui: “Dua orang diktator takut akan sistim pengadjaran seorang wanita tua! Dimata dunia merdeka tak ada propaganda jang lebih besar nilainja bagi pekerdjaan Montessori. Itulah pula buktinja, betapa besar pengaruhnja tentang pendidikan kita jang demokratis itu.” Hebat!

Kamis, 12 September 2013, aku memanjakan mata ke toko buku. Aku membeli buku berjudul Sejarah Pendekatan Montessori (Kanisius, 2013) garapan Agustina Prasetyo Magini, harga 32 ribu. Buku ini semakin mengajak diriku mengerti Montessori meski memerlukan seribu hari. Oh! Buku setebal 120 ini informatif tapi mengandung kesalahan-kesalahan.

Penulis mengingatkan: “Bangsa yang besar hendaklah belajar dari sejarah. Menurut penulis, untuk mengenali gerakan pendidikan di Indonesia, apalagi gerakan pendidikan di dunia, tidak mungkin mengabaikan kehadiran seorang tokoh pendidikan seperti Maria Montessori.” Aku merasa mendapat petuah klise tapi menggoda.

Aku terkejut saat membaca keterangan di halaman 67: “Meskipun belum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, sepengetahuan penulis, pemikiran Montessori sudah dibawa ke Indonesia oleh Ki Hajar Dewantara saat ia berada di Belanda pada masa pengasingannya pada tahun 1013-1919. Ki Hajar Dewantara, Boedi Oetomo, dan Ernest Douwes Dekker ditangkap oleh Gubernur Jenderal Belanda Frederik Idenburg akibat tulisannya di suatu media massa. Di tempat pengasingan itulah, Ki Hajar Dewantara mendapatkan diploma pendidikannya di Belanda dan belajar tentang Montessori….” Aku terdiam sejenak, berlanjut tawa… Aduh! Ada kesalahan fatal untuk mengingat dan menjelaskan sejarah pendidikan dan politik di Indonesia. Begitu.

Iklan