Tag

, , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

15 September 2013, esaiku berjudul Politik, Literasi, Bebalisme tampil di Koran Tempo. Esai wagu dan kasar itu memuat tuduhan bahwa kaum politik tidak melek literasi, memuja bebalisme dengan mengumbar foto, logo partai, slogan. Aku merasa ada kesalahan dalam pengisahan politik di Indonesia akibat tak ada selebrasi literasi. 18 September 2013, aku membaca berita di Kompas, Soebagijo I.N. (1946-2013) meninggal dunia. Wartawan dan penulis kondang itu telah mewariskan etos literasi dan puluhan buku, berkaitan pers dan biografi. Wartawan di masa silam adalah manusia-kata, manusia-buku, manusia-literasi. 19 September 2013, esaiku berjudul Kata dan Waktu tampil di Solopos. Di ujung esai, aku menulis tentang keberjarakan kalangan redaktur-wartawan dengan buku. Mereka tampak mengalami kesulitan dan enggan hidup bersama buku, saat bekerja di kantor atau di rumah. Pagi, wartawan berlimpah buku mengabarkan: ada “perdebatan” tentang esaiku berurusan wartawan dan literasi.

Aku merasa pantas memberi penghormatan bagi Soebagijo Ilham Notodidjojo. Lelaki kelahiran Blitar itu menjadi wartawan selama puluhan tahun, berada di pelbagai penerbitan koran dan majalah. Agenda melakoni kerja jurnalistik dibarengi dengan agenda literasi: membaca dan menulis buku. Puluhan buku telah terbit, disajikan ke publik sebagai santapan lezat. Mmh…

JWI 1

Buku berjudul Jagat Wartawan Indonesia (Gunung Agung, 1981) membuatku terpikat untuk mengerti biografi para wartawan tanggung di Indonesia, dari masa awal abad XX sampai 1980-an. Buku setebal 636 halaman, memuat 111 biografi wartawan: Abdul Rivai, Adam Malik, Abdul Muis, Burhannudin Muhammad Diah, Imam Soepardi, M. Tabrani, Rasuna Said, Sosrokartono, Sumanang, … Soebagijo I.N. tentu memerlukan ketekunan, kesabaran, kecermatan dalam membuat buku fenomenal di dunia pers. Aku cuma terdiam, perlahan mengucap doa: “Aku pun ingin menulis buku-buku biografi. Amin. Amin. Amin.”

Soebagijo I.N. menulis: “… dengan segala kerendahan hati, saya persembahkan buku ini sebagai tanda penghormatan dan rasa terima kasih kepada mereka, para pejuang kemerdekaan yang bergerak di bidang pers dan jurnalistik sekaligus kepada rekan-rekan saya kaum wartawan Indonesia yang masih muda, dengan harapan semoga pengalaman ‘leluhur’ mereka, –yang sewaktu memulai terjun dalam dunia kewartawanan juga relatif masih sangat muda– dapatdibuat tamsil ibarat serta diambil manfaatnya.”

Sekian biografi wartawan membuatku kaget dan kagum. Sejak lama, aku penasaran dengan Muhammad Dimyati. Buku-buku dari wartawan dan pengarang asal Slo itu sudah jadi bacaan dan koleksi di rumahku. Aku paling penasaran dengan novel gubahan Muhammad Dimyati: Student Soleman (1935). Konon, novel ini sulit dicari di toko-toko buku lawas dan perpustakaan. Orang-orang sudah mengenal Student Hidjo gubahan Marco Kartodikromo tapi belum tentu mengenal Student Soleman.

JWI 3

Keterangan dari Soebagijo I.N. tentang Muhammad Dimyati: “… Sewaktu dia datang di Antara Yogya itu, entah untuk keperluan apa, dia mengenalkan diri. Tidak dengan lisan, tetapi dengan menulis namanya di secarik kertas. Dan begitulah, dalam dalam pembicaraan kami berdua seterusnya, apa yang kami ‘bicara’-kan itu melalui kertas dan pensil.” Keterangan ini berlanjut dengan fakta bahwa Muhammad Dimyati itu sulit berbicara dan sulit mendengar. Keterbatasan tak sanggup menghalangi Muhammad Dimyati untuk menjadi wartawan.

Aliena mengharukan: “Justru karena penyakit yang dideritanya itulah, maka dia tidak berhasil mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dari kelas empat SD. Tetapi hal yang demikian itu tidak menyebabkan dia berputus asa, dan terus tekun belajar menambah ilmu pengetahuan. Buku segala jenis buku dibacanya, kitab segala kitab ditealaahnya. Dan kemudian timbul pula hasratnya, mengarang, memilih bidang kewartawanan sebagai profesinya.”

Masa lalu memang berbeda dengan masa sekarang. Aku mendapat perbandingan, menilai kaum wartawan masa sekarang. Mereka tentu lulusan kampus alias bergelar sarjana. Pengakuan atas intelektualitas telah didapatkan setelah sekolah dan kuliah puluhan tahun. Bekal itu mesti mempengaruhi kerja sebagai wartawaan. Oh! Aku justru jarang bertemu dengan para wartawan melek literasi, kalah dengan Muhammad Dimyati atau Putus Setia. Lho! Aku juga ingat Putu Setia, wartawan dan pengarang ganjil dari Bali. Putu Setia tak lulus SMA, tak memiliki gelar, menjadi wartawan tangguh. Di Tempo, Putu Setia adalah “manusia ajaib”, melakoni kerjawa kewartawanan sampai tua. Aku pun masih terus mengikuti tulisan-tulisan Putu Setia di Cari Angin, kolom ganjil di Koran Tempo edisi Minggu.

JWI 2

Soebagijo I.N. melakukan kerja dokumentasi besar, mencari keterangan-keterangan berkaitan biografi para wartawan. Pekerjaan ini memerlukan kesanggupan membaca buku-buku, melakukan korespondensi, membuat pertemuan-pertemuan. Cara penulisan biografi para wartawan memang pendek tapi memikat. Informasi-informasi penting disajikan agar pembaca mengetahui kontribusi para wartawan dalam arus pembentukan dan pemaknaan Indonesia, dari masa ke masa.

Puluhan buku garapan Soebagijo I.N. ada bersamaku, sejak 1998. Aku paling kagum dengan Jagat Wartawan Indonesia. Buku ini memerlukan edisi lengkap, menghadirkan biografi para wartawan, dari 1980-an sampai 2000-an. Aku masih menanti kehadiran buku Jagat Wartawan Indonesia terbit dengan tebal ribuan halaman. Negara mesti turut berkontribusi agar ada tim sanggup menulis buku lanjutan dari kerja fenomenal Soebagijo I.N. Begitu.

Iklan