Bandung Mawardi

Aku sering membaca novel, cerpen, puisi tentang pelacur. Puisi Rendra paling membuatku terpukau, seruan agar para pelacur di Jakarta bersatu. Rendra memiliki kepekaan dan keberpihakan berdalih kemanusiaan dan keadilan. Pelacur pun menjadi tema besar, menguak lakon kehidupan di Indonesia. Persoalan pelacur belum tamat, ada sebagai perdebatan mengandung seribu argumentasi dari birokrat, ulama, seniman, pengusaha, politikus, …

Persoalan pelacur pernah jadi bahasa khusus dalam terbitan Djawatan Bimbingan dan Perawatan Sosial (Kementerian Sosial Republik Indonesia) berjudul Mas’alah “P” (1952). Suwarno selaku penghimpun memberi awalan klise: “Masaalah ‘P’ adalah salah suatu penjakit masjarakat jang selalu minta perhatian dari kita bersama. pun djuga satu-satunja penjakit masjarakat, jang sukar untuk diobatinja. Sudah banjak tjara-tjara pengobatan digunakan, akan tetapi njatanja penjakit itu masih tetap adanja.”  Aku masih bingung dengan penggunaan istilah “penjakit” dan “P”. Istilah “penjakit” menggeret pengertian-pengertan buruk, jelek, aib,… Istilah itu masih sering dipakai oleh orang-orang untuk berlagak alim dan suci saat mengomentari tentang pelacur.

P 1

Keterangan lanjutan: “Bagi mereka jang telah menjelami mas’alah tersebut tentu akan mengakui, bahwa penjakit masjarakat ‘P” itu benar-benar memosingkan kepala. Karena keadaannja sangat berbelit-belit, sulit untuk mengetahui dengan sungguh-sungguh akan sebab-akibatnja.” Aku mulai sadar, “penjakit” berkaitan dengan “memosingkan kepala”. Obat untuk “posing kepala” adalah …. Obat-obat itu dijual di toko. Orang-orang di institusi pemerintah, di masa 1950-an, pasti menghabiskan duit untuk membeli obat “posing kepala”. Kasihan…. Gaji mereka tentu habis akibat mengidap “posing kepala”.

Para pegawai pemerintah tampak menampilkan diri sebagai peneliti ampuh, berhasil menemukan sebab-sebab pelacuran. Mereka menemukan 10 sebab: (1) ketidakmampuan ekonomi; (2) hidup suami-istri jang tidak baik; (3) mempunjai bakat; (4) menghendaki tjara hidup jang mudah dan senang…. Aku sulit menerima konklusi-konklusi mereka dengan mengajukan 10 sebab. Aku justru ingin mengerti situasi Indonesia di masa 1950-an. Buku-buku tentang pelacur atau pelacuran mesti dicari, menjadi rujukan refleksi untuk tidak gegabah membuat konklusi.

Kemampuan meneliti berlanjut ke pemunculan 4 akibat: (1) perpetjahan antara suami-istri; (2) kedjahatan halus-kasar; (3) meluasnja penjakit kotor; (4) merosotnja rasa susila. Pencantuman 4 akibat ini mengandung maksud memperingatkan “P” dan publik. Aku merasa ada kecerobohan dalam memaparkan 4 akibat, tak mempertimbangkan…

Aku perlahan membuka halaman-halaman belakang, menemukan pembahasan germo. Penulis buku mengaku telah melakukan peninjauan, menghasilkan keterangan mengenai germo. Sifat-sifat germo: (1) sifat ramah-tamah; (2) mempunjai suatu ilmu-firasat jang tadjam; (3) mempunjai ketjakapan jang baik sekali untuk mengatur barang sesuatu. Penulis mengingatkan tentang sifat “asli” germo: (1) mempunjai sifat jang kedjam sekali terhadap para ‘anak buah’-nja (para wanita korban ‘P’); (2) mempergunakan sifat-sifat jang baik tersebut diatas untuk tudjuan jang tidak baik (djahat).

P 2

Buku setebal 32 halaman ini informatif. Konon, keterangan-keterangan berdasarkan penelitian atau peninjauan. Aku menganggap buku ini representasi dari kerja pemerintah dalam mengurusi “P”. Perspektif pemerintah tentu menghendaki penanganan dan solusi demi mencipta ketertiban dan kesusilaan. Mereka malu jika di Indonesia masih adalah masalah “P”.

Kalimat-kalimat penutup pantas dikutip agar ada penguatan perspektif pemerintah di masa 1950-an: “Maka diatas kami njatakan, bahwa ‘rumah-rumah P’ itu adalah sutau ‘niet georganiseerde georganiseerde organisatie’ dengan para germo itu sebagai ‘organisatoren’-nja. Sekianlah tjukup kiranja untuk memberi gambaran dari pada suatu ‘tokoh dan factor’ penting didalam ‘masjarakat-pelatjuran’. Factor germo ini benar-benar perlu diperhatikan sedalam-dalamnja didalam orang berusaha kearah pengurangan, pentjegahan dan pemberantasan ‘gerakan-pelatjuran’ itu.”

Buku ini dokumentasi zaman. Para menteri dan pegawai pemerintah mungkin mewarisi perspektif di masa 1950-an, dianggap masih berlaku untuk masa-masa berbeda. Aku menemukan ada persamaan-persamaan penggunaan istilah. Kebijakan-kebijakan pemerintah pun tampak tak berbeda, mengesankan ada keberlanjutan dari kebijakan masa lalu. Mereka tentu mewarisi “posing kepala”, membuat gaji habis untuk membeli obat. Oh!

Aku menepatkan buku ini berlatar 1950-an, masa modernisasi menguat dalam kehidupan kota-kota di Indonesia. Penjelasan sosiologis, politik, ekonomi, kultural diperlukan untuk memahami persoalan pelacur dan pelacuran secara komprehensif. Aku ingin mengerti meski harus membuka ribuan halaman. Begitu.

Iklan