Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Pikat itu bermula dari tatapan mata ke sampul buku berjudul Jalan ke Barat: Bahasa Belanda di Hindia Belanda 1600-1950 (1995) susunan Kees Groeneboer. Buku setebal 570 halaman, menarik dan merangsangku berimajinasi tentang kaum pribumi belajar bahasa Belanda di masa silam. Aku tak cuma tertarik dengan isi. Mata memandang sampul menemukan gambar buku pelajaran lawas, buku untuk para pembelajar bahasa Belanda. Ingatan untuk gambar itu selalu menuntunku untuk mendapatkan buku-buku pelajaran dari masa lalu.

Jalan ke barat 2

Buku dalam sampul itu bertemu denganku di siang bermatahari. Oh! Buku berjudul Djalan ke Barat (J.B. Wolters-Groningen, 1929). Buku lawas dan mengandung jejak sejarah intelektualitas dan politik-kultural di Indonesia. Dulu, murid-murid belajar dengan buku itu di sekolah. Sampul memang menggoda: putri pribumi menghaturkan buku ke perempuan Eropa. Adegan terjadi di tangga. Pribumi ada di bawah. Eh! Di belakang ada gambar kepulan asap dari gunung tak bernama.

Aku tentu sulit membaca buku ini, berisi kata-kata dalam bahasa Belanda. Ada juga kata-kata dalam bahasa Indonesia. Aku melihat dengan ketidaktahuan tapi merasa memiliki kesanggupan mengira makna buku ini untuk Indonesia. Di halaman 11, aku terpana melihat ilustrasi tentang kereta api. Aku memilih memperhatikan gambar ketimbang kata-kata di bawah gambar. Orang-orang ada di gerbong. Di luar, ada penjual makanan, petugas, penumpang berlari, pengantar…. Oh, kereta api. Mesin ajaib itu mengubah Indonesia, mulai dari urusan transportasi sampai ideologi. Aku telah menulis sekian esai tentang kereta api, berkaitan SI, PKI, Muhammadiyah. Kereta api juga mengikutkan pengertian tentang profesi, kota, industri,…. Lho! Aku tak bermaksud menulis kereta api. Gambar itu selalu menggodaku.

Jalan ke Barat 3

Bahasa Belanda membuat kaum pribumi bisa turut mempelajari pelbagai hal di zaman “kemadjoean”. Tokoh-tokoh politik, sastra, pers, intelektual di masa silam memiliki penguasaan bahasa Belanda. Aku tentu ingat mereka: Sosrokartono, Kartini, Ki Hadjar Dewantara, Tjipto Mangoenkoesoemo, Soetomo, Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Agus Salim…. Sutan Takdir Alisjahbana, Sanoesi Pane, Poerbatjaraka, Chairil Anwar, Onghokham, H.B. Jassin….. Aku juga ingat intelektual-intelektual mutakhir. Mereka mengerti bahasa Belanda dalam penggunaan untuk membaca, menulis, bercakap.

Keinginan mengerti Indonesia mesti menguasai bahasa Belanda. Temanku berkeputusan ingin melanjutkan studi ke Belanda tapi mlempen dalam urusan bahasa Belanda. Sekian hari lalu, aku membaca buku tentang monumen garapan sejarawan asal Surabaya. Aku juga bertemu dan bercakap dengan si penulis. Sejarawan itu kuliah di Leiden, mengerjakan tesis berbekal buku-buku berbahasa Belanda. Aku juga ingin mempelajari Jawa dan Indonesia meski harus sampai Belanda. Aku tak bisa bahasa Belanda. Kasihan….

Buku Jalan ke Barat adalah bukti dari model pendidikan kolonial di Indonesia. Murid-murid menemukan keajaiban dari bahasa Belanda, memandang dunia secara berbeda. Mereka perlu berbahasa Belanda agar pintar, mendapat pekerjaan, terhormat… Bahasa Belanda tentu modal besar dalam kehidupan pribumi di masa lalu. Bahasa penjajah itu selesai, tak terwariskan sampai sekarang. Aku jadi ingat buku   Jalan ke Barat: Bahasa Belanda di Hindia Belanda 1600-1950. Buku ini membuatku melek sejarah, bermula dari bahasa.

Aku ingin kembali mengurusi buku Jalan ke Barat. Di halaman 41, mata melihat gambar  bocah-bocah bermain layang-layang. Aku sengaja memperhatikan gambar ketimbang kata-kata asing. Aku mengira tulisan di bawah gambar tentu bercerita tentang gambar. Aku anggap aku mengerti isi cerita tanpa harus repot mengerti bahasa Belanda. Ha! Gambar itu sederhana, mengingatkan kehidupan bocah di masa penjajahan.

Jalan ke Barat 4

Buku Jalan ke Barat ibarat rangsangan mengenang masa lalu. Pendidikan di Indonesia menggunakan bahasa penjajah, bahasa dari Eropa diajarkan ke pribumi. Bahasa Belanda adalah bahasa modern bagi elite terpelajar di masa lalu. Bahasa Belanda pun menjadi urusan gawat saat orang-orang ingin belajar sejarah Indonesia. Dokumen-dokumen dan buku-buku rujukan sering berbahasa Belanda. Para peneliti kadang pergi ke Belanda, melacak referensi atau kuliah.

Bahasa Belanda tidak diajarkan lagi di sekolah-sekolah. Pemerintah merasa tak perlu lagi mengajarkan bahasa Belanda. Bahasa Inggris justru jadi bahasa idaman. Aku tak berhak membuat kebijakan bahasa. Aku bukan presiden atau menteri. Aku cuma mengandaikan ada rintisan pembelajaran bahasa Belanda di sekolah agar ada para pembaca sejarah Indonesia. Penguasaan bahasa Belanda berarti kesanggupan mengurusi sejarah Indonesia. Usulan wagu ini tak perlu diperhatikan.

Jalan ke Barat 1

Aku selalu semringah jika ada buku-buku terjemahan dari bahasa Belanda. buku-buku karangan intelektual Belanda bisa mengajak pembaca mengerti pelbagai hal tentang Indonesia. Penerjemahan jadi siasat mengantar pengertian-pengertian bagi pembaca di Indonesia. Aku pun mengoleksi buku terjemahan sokongan KITLV, INIS, ILDEP… Buku-buku itu semula berbahasa Belanda, hadir ke dalam terjemahan bahasa Indonesia.

Buku Jalan ke Barat pantas jadi koleksi untuk merasa memiliki undangan saat ingin melacak sejarah Indonesia, bermula dari bahasa, sekolah, politik. Aku merasa girang menjadi lelaki pilihan: bertemu dan mengoleksi buku lawas dari masa lalu. Begitu.

Iklan