Tag

, , ,

Bandung Mawardi

Buku memiliki nasib dan kejaiban. Buku sanggup melintasi waktu: 115 tahun. Aku mendapatkan buku berusia 115 tahun. Buku mengalami pengembaran ke pelbagai tempat, menghuni waktu demi waktu, menjumpaiku dengan wajah sendu. Aku merasa buku itu menghimpun jamahan tangan, tatapan mata, terpaan nafas, dingin malam, semburan kata… Buku dari abad XIX, sensasi literasi di negeri jajahan.

Tuhan telah memilihku untuk memegang buku berjudul Serba Djenis (Albert Rusche & Co., Soerakarta, 1898). Keterangan di bawah judul: “banjak faedahnja, jaitoe dari hal pemarintahan roemah tangga, pemeliharaan toeboeh peroesahaan tanah dan sabagainja.” Buku ini dicetak di Solo, beredar di Solo dan pelbagai kota, menjadi bacaan bagi publik di masa kolonialisme. Buku berbahasa “Melajoe” mengesankan bacaan bagi kalangan pribumi. Aku tak tahun jumlah melek aksara di ujung abad XIX. Mereka tentu adalah pembaca tangguh, berpendidikan di sekolah-sekolah modern atau memiliki kemampuan membaca-menulis dari cara-cara ajaib.

Buku lahir dulu ketimbang Chairil Anwar, Motinggo Busye, Goenawan Mohamad, Leila S. Chudori, Joko Pinurbo, Abdurrahman Wahid, Nurcholis Madjid, Sartono Kartodirdjo, Afrizal Malna, Yudi Latif, Radhar Panca Dahana… Buku itu masih ada di abad XXI, belum mati atau sirna. Apakah Tuhan sengaja memberi jalan pengembaraan bagi si buku agar bisa mengingatkanku atas sejarah huruf Latin, sejarah buku, sejarah pembaca di Nusantara? Oh, Tuhan memang memberi berkah tak terkira.

Buku ini memiliki informasi aneh di sampul depan bagian dalam: iklan buku. Aku ingin turut mengabarkan ke pembaca: “BOLEH BELI! BOEKOE2 SEPERTI DIBAWAH INI ADANJA.” Aku membaca puluhan judul buku: “Bahasa malajoe boengah rampi, Temboeng Djawa pekee muziek, Elmoe etoeng karangan dari Gondo Wardojo), Salokanen Paribasan dari Pak Bandjir, Amo gtanie, Tjrito oetomo kagoenan sewoe (Sriboe), Etoeng karangane toewan L.K. Haremsen, Katoeronggo koeda, Tjerita Sultan Ibraim, Tjerita Prang Nederlandsche, Wangsalan pasinden bedojo en srimpi, Perwo lelolono, Boewat di batjta hanak2, Katoeronggo orang, Boengah rampi koeroef djawa, Tjarakan, Obat2 melajoe en djawa, Watjan, Adjaran bikin kain (njogo getel), Adjar naek koeda, Obat koeda, Baler boeroeng en saier mengimpi, Pontjo drijo, Hikajat hong toewak, Kesah perdjalanan Abdoellah, Kitab toehfah.” Semua buku itu bisa dibeli di Toko Djawi Kando, beralamat di Solo. Ingatlah aturan pembelian buku: “DJANGAN LOEPA LAGI INI BOEKOE BAJAR CONTANT.”

Serba Djenis 1

Di zaman itu buku-buku telah berlimpah, diproduksi sebagai bacaan publik. buku-buku dicetak-diterbitkan, menggoda pembaca untuk mencari informasi, hiburan, mengasah akal, merangsang imajinasi. Orang-orang pun membeli buku. Aku tak tahu tentang biografi para pembeli buku. Mereka mungkin dari kalangan “student”, saudagar, priyayi, pejabat… Uang tentu jadi persoalan saat membeli buku. Apa faedah buku bagi orang-orang di Jawa menjelang akhir abad XIX?

Buku ini berisi petunjuk-petunjuk dalam pelbagai urusan. Aku ingin mengutip petunjuk “menjedakan bier jang soedah asem”, terpampang di halaman 5: “Satoe gelas bier jang soedah asem rasanja di tjampoeri oleum tartari per deliquium, dari 10 sampai 15 tetes, djikalau bier itoe soedah terlaloe asem, haroeslah di tjampoeri lebih banjak lagi, laloe diadoeq dengan sendok, maka bier itoe djadi sedap lagi rasanja.” Aku bukan peminum bir. Petunjuk ini sulit aku pahami. Lho!

Aku tertarik dengan petunjuk berkaitan urusan di dapur: “Menjimpen sajoeran jang masih segar.” Petunjuk ini mengajak pembaca mengimajinasikan perlakuan orang terhadap “sajoeran” di masa lalu: “Biasanja orang menjimpen sajoeran jang masih segar itoe ditaroeh di dalam pasir. Adapoen bangsa koebis bolih disimpen sampai beberapa lamanja, masih tinggal segar, demikijan akalnja: Koebis itoe diboewang daonnja beberapa helai sahingga kelihatan batangnja (bagal) 2 duim pandjangnja, maka batang itoe laloe diloebangi dengan besi atau djara, dalemnja kira2 1 duim; ati-ati djangan sampai meroesak koelitnja jang di loewar! Satelah soedah batang itoe diikat dengan tali, digantoengken pada tempat jang dingin, maka batang jang berlobang itoe menjebelah ka atas, dan pada tijap pagi ditoewangi ajer di dalem loebang itoe.” Petunjuk ini sudah tidak berlaku saat orang-orang menggunakan kulkas. Ha!

Serba Djenis 2

Aku masih ingin mengutip petunjuk ampuh tentang “Mengoesir lalat dari gambar2 dan perkakas roemah.” Aku mesti mempelajari dengan serius, melaksanakan dengan serius: “Bawang poetih direndem di dalem aer, lamanja 4 atau 5 hari, maka ajer rendeman itoe akan membasoh barang2 itoe, soepaja tiada dihinggapi lalat dan tiada kena tahinja lalat itoe.” Bawang putih bisa mengusir lalat. Ampuh!

Buku berusia 115 tahun, warisan dari abada lampau. Aku menganggap buku adalah keajaiban besar meski orang-orang sekarang beralih ke file-file di komputer atau tablet. Aku masih merasa bergetar saat memegang dan memandang buku-buku dari masa lalu. Buku lawas, melintasi tahun demi tahun, terpegang oleh tanganku dengan doa. Aku menatap buku ibarat menatap sejarah bekertas dan berhuruf. Begitu.

Iklan