Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku terus penasaran dengan Muhamad Dimjati atau Badaruzzaman (14 Juni 1913-8 Desember 1958). Lelaki kurus bergelimang kata, hidup dalam buaian imajinasi dan kerja jurnalistik. M. Dimjati pantas jadi rujukan untuk mengingat Solo, di pelbagai sisi kehidupan, mulai dari urusan kota sampai politik. Buku-buku garapan M. Dimjati: Sitti Nurjanah (1935), Student Suleiman (1935), Ramona (1940), Dalam Gelombang Perkawinan (1941), Yogya Diduduki (1950), Di Tepi Bengawan Solo (1950), Gema Revolusi (1950), Lukisan Pancaroba (1950), Anak Yatim (1951), Manusia dan Peristiwa (1951). Informasi buku itu aku dapati dari Pamusuk Eneste, Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern, 1990. Buku-buku itu belum semua ada di rumahku.

Informasi mengejutkan aku dapatkan di buku Soebagijo I.N., Jagat Wartawan Indonesia, 1981. Ada petikan biografis dari Muhamad Dimjati, lelaki sukar berbicara dan mendengar: “Ada terdapat beberapa keistimewaan pada diri M. Dimjati ini. Salah satu di antaranya ialah: bahwa, kendati ia tidak pernah mendengar suara lagu-lagu dari pesawat radio, namun dia berhasil menciptakan sebuah roman (kisah bersambung) dalam Adil mengenai seorang pria yang jatuh cinta kepada seorang pegawai di radio. (haendaknya diingat, bahwa pada waktu zaman sebelum perang, jumlah orang Indonesia yang memiliki pesawat radio juga masih amat sedikit sekali).” Oh!

M Dimjati 1

Konon, temanku di Jogja mau turut mengurusi biografi dan warisan buku dari Muhamad Dimjati. Aku juga berkepentingan. Muhamad Dimjati tak bisa cuma dianggap sebagai sastrawan. Aku perlu membuat obrolan dengan Heri Priyatmoko (sejarawan Solo) untuk membaca ulang teks sastra Muhamad Dimjati bermisi “mengenang” Solo. Aku juga harus mengajak Ichwan Prasetyo (jurnalis di Solo) berbagi informasi mengenai peran Muhamad Dimjati di jagat pers. Keinginan-keinginan bermula dari buku-buku lawas. Berdoa semoga bisa diwujudkan. Amin. Amin. Amin.

Aku belum ingin mengurusi buku-buku sastra Muhamad Dimjati. Buku berjudul Kita Hendak Kemana? (Al Ma’arif, 1952) telah menggoda perhatianku. Muhamad Dimjati adalah penulis buku sastra, perang, pers,… Buku ini berkaitan isu-isu politik dan peradaban di dunia. Buku sederhana, tebal 72 halaman, berukuran besar. buku garapan penulis asal Solo diterbitkan oleh penerbitan di Bandung. Buku lawas itu di baca oleh Bandung Mawardi, lelaki cakep di pinggiran Solo. Wah!

Muhamad Dimjati menulis: “Di Timur, terutama di Indonesia belum lagi orang sempat mengambil napas pandjang dari tersengal-sengal karena baru sadja menjelesaikan revolusi kemerdekaan tanah airnja dan pembinaan negara merdeka, telah dikedjar-kedjar dan didorong-dorong oleh berbagai proses kekatjauan dalam negeri, perdjuangan kepartaian jang makin meruntjing, perebutan kekuasaan dan pengaruh dikalangan pemimpin dikalangan bawahan orang megap-megap dalam suasana chaos, merasakan pahit-getir kebobrokan ekonomi dan kehidupan sosial jang semuanja mentjetus dalam wudjud kekatjauan, dimana laku-laku djahat dan fasik makin meradjalela, kedjudjuran dan kesusialaan hampir lenjap ditelan penjakit-penjakit krisis achlak.” Hah… Alinea berisi satu kalimat panjang. Hebat! Muhamad Dimjati memang pengarang hebat, sanggup membuat pembaca terkapar. Aku jadi ingat kalimat-kalimat buatan Marcel Proust dan Gabriel Garcia Marquez.

M Dimjati 2

Kita bisa mengingat semaian gagasan kebudayaan di Indonesia melalui Muhamad Dimjati, tak melulu mengutip Sutan Takdir Alisjahbana, Ki Hadjar Dewantara, Sanoesi Pane, Sutan Sjharir, Chairil Anwar… Muhamad Dimjati menulis: “banjak djago-djago politik, djago-djago militer jang bahunja diberati strip-strip tandadjasa, banjak pemimpin-pemimpin jang ikut mendukung motor revolusi, jang sekarang ternganga mulutnja melihat kekatjauan masjarakat sekarang. Proses demoralisasi berdjalan terus mengenai semua golongan: kaum atas, kaum tengah dan kau bawah banjak jang melakukan ketjurangan-ketjurangan menurut kesanggupan masing-masing dan menurut keadaan dilingkungan masing-masing. Mereka jang ternganga mulutnja itu merasa tidak sanggup lagi menjelesaikan keruwetan sebanjak itu, merasa tidak kuat mengendalikan keadaan, meskipun mereka tadinja jang paling tinggi menondjolkan kepalanja, melangkah dimuka sebagai pemimpin, seperti gembala menghalau kambing-kambingnja.”

Urusan-urusan kebudayaan terjalin dengan politik, bersebaran di situasi kacau. Tatanan hidup di Indonesia belum mapan, masih bergerak dengan gejolak-gejolak. Uraian Muhamad Dimjati impresif, memamerkan bahasa sastrawi: membuat pembaca mendapat pesona dan makna. Oh!

Buku lawas selalu mengingatkan peristiwa dan diskurus penting di Indonesia. Muhamad Dimjati sebagai pengarang dana wartawan memiliki “mata seribu”, memberi kesaksian dan tulisan. Muhamad Dimjati menerangkan: “Di Indonesia, pembitjaraan tentang ‘kebudajaan’ masih termasuk soal baru, sekalipun sudah berbada-abad bangsa Indonesia berkebudajaan tinggi. Orang bergaduh karena soal istilah, ta’rif, artikata ‘kebudajaan’ jang bagi banjak orang masih samar maknanja atau bersifat karet. Sampai-sampai dalam Kongres Kebudajaan di Magelang (1948) dan Djakarta (1950) istilah nama ‘kebudajaan’ itu masih diperdebatkan sampai bertele-tele. Apa arti kebudajaan? Berapa luasnja daerah kebudajaan dan apa-apa jang termasuk dalam pengertian kebudajaan?”

Aku mulai berpikiran mengadakan acara-acara tentang tokoh dan buku lawas. Muhamad Dimjati dan buku-buku lawas pantas dihormati dengan acara obrolan atau pengumpulan tulisan apresiasi. Ikhtiar untuk memiliki ikatan dengan masa lalu, mengenang tokoh dan buku, mengacu ke Solo dan Indonesia. Begitu.

Iklan