Tag

, , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Sepak bola sering jadi ingatan kekalahan dan kekisruhan. Di Indonesia, urusan sepak bola di abad XXI tak luput dari rebutan jabatan di PSSI dan adegan kekalahan demi kekalahan tim Indonesia di lapangan. Orang-orang sepak bila tampak mau membuat sejarah buruk untuk para ahli waris Indonesia. Sepak bola berisi masalah, dari kepengurusan sampai prestasi. Aduh! Aku tak bermaksuk jadi komentator dan pengamat. Aku tidak mengerti sepak bola meski kadang menulis tentang sepak bola.

Kekalahan tim-tim sepak bola Indonesia mungkin akibat tak ada pembelajaran sejarah sepakbola. Lho! Aku cuma menduga saja. Acara-acara sepak bola di televisi jarang mengulas sejarah sepak bola di Indonesia secara berbobot, memiliki referensi-referensi tertulis. Urusan sepak bola sering berkaitan laporan hasil pertandingan, adegan gol, pembelian main. Aku tak mendapat ulasan buku di televisi, buku tentang sepak bola.

Aku bermaksud mengabarkan buku lawas berjudul Sepak Bola susunan R.M. Soeparman dan Soemonagoro. Buku setebal 52 halaman, tak ada keterangan nama penerbit dan tahun terbit. Aku menduga buku ini terbit di Solo, di masa 1940-an jika menilik dari informasi dalam buku dan penggunaan bahasa.

Sepak Bola 1

Kejutan awal aku lihat di sampul depan bagian dalam: iklan. Bacalah pesan iklan: DJANGAN LOEPA! SESOEDAHNJA MAIN BAL, HAROES MINOEM DJAMOE “TJAP POETRI” JANG SANGAT MOESTADJAB”. Keuntungan minum jamu: “Rasa tjape teroes hilang, mendapat tenaga baroe, awet moeda dan koeat.” Aku usul agar jamu ini dibuat lagi, dimimum para pemain dan pelatih sepak bola di Indonesia agar mereka tak tecepat lelah saat pertandingan. Jamu bisa meningkatkan prestasi lho! Jamu itu harus “TJAP POETRI”. Ah! Jamu untuk sepak bola dengan dominasi lelaki adalah “Tjap Poetri” dan ada foto perempuan cantik. Sip!

Pamrih penulis: “… maka boekoe Sepak Bola ini dimaksoedkan oentoek mendjadi sokongan sekedarnja kepada persepakragaan bangsa Indonesia pada choesoesnja dan doenia sepak bola di Indonesia pada oemoemnja.” Aku penasaran sulit mengira jika buku ini ada di perpustakaan milik PSSI atau terbaca oleh para pegawai di kementerian olah raga. Urusan olah raga memang jarang berurusan dengan buku. Aku bakal memberi buku ini untuk koleksi negara jika sang menteri mau datang ke rumahku dan menjelaskan ambisi pengumpulan koleksi-koleksi buku tentang sepak bola demi Indonesia. Wah! Bambang Pamungkas juga boleh memiliki buku ini asal terus rajin membaca buku.

Sepak Bola 2

Kutipan sejarah perkumpulan sepak bola di Indonesia penting dikabarkan ke publik. Ada dua perkumpulan di masa silam, berakaitan perbedaan azas dan golongan. Kutipan: “Di Indonesia golongan jang kesatoe terseboet diatas (international) berkoempoel mendjadi N.I.V.U. (Nederlandandsche-Indische Voetbal-Unie), sedangkan peratoeran jang melakoekan persepakragaan atas dasar kebangsaan jalah P.S.S.I. (Perkoempoelan Sepakraga Seloeroeh Indonesia). Pada masa ini N.I.V.U. dan P.S.S.I. lah mendjadi doea boeah ‘toporganisaties’ jang telah dihargai dan diakoei oemoem di Indonesia, teroetama di poelau Djawa.”

Buku ini juga berisi petunjuk menendang bola dan peraturan dalam sepak bola. Aku tidak mengerti. Ingatku, sejak SD sampai kuliah aku tidak bisa bermain sepak bola. Soal-soal ujian untuk pelajaran olah raga sulit dikerjakan, terutama soal-soal tentang sepak bola. Pengalaman dan pengetahuanku terbatas. Peristiwa menonton sepak bola di stadion atau televisi sulit menggodaku. Aku kadang menonton pertandingan sepak bola di televisi jika ada bujukan dari pelbagai pihak.

Sepak Bola 3

Aku paling tertarik jika mengurusi sepak bola dalam perspektif sejarah, agama, kultural, politik. aku dapatkan keterangan tentang di halaman-halaman belakang, sejarah sepak bola di Indonesia. Penulis menerangkan: “Dengan djatoeh-bangoen dan soekar-pajah P.S.S.I. itoe achirnja dapat berdiri tegoeh. Dalam perdjoeangannja moelai pada tahoen 1930 persatoean sepakraga itoe mengalami kesoelitan dan rintangan jang hebat. Akan tetapi karena bersandar atas keinsjafan dan kemoeliaan oentoek mentjapai tjita-tjita jang loehoer, maka para pengemoedi dari P.S.S.I. itoe tetap madjoe, sehingga pada masa ini P.S.S.I. itoe telah mendapat penghargaan dan kedoedoekan jang tegak ditengah-tengah masjarakat kita.”

Kongres P.S.S.I X diselenggarakan di Solo, 11-13 Mei 1940. Di acara akbar itu panitia mengadakan pertandingan sepak bola. Hasil dari pertandingan: “Perloe diterangkan djoeara P.S.S.I. jalah V.I.J (Djakarta), P.S.I.M. (mataram) dan Persis (Solo). Pada achirnja Persislah jang dapat mendjadi djoeara P.S.S.I. boeat tahoen 1940-1941.” Weh! Persis pernah jadi juara lho. Hebat!

Buku lawas kadang berisi informasi-informasi lucu dan penting. Aku menganggap buku ini pantas jadi koleksi di museum sepak bola. Apakah sudah ada museum sepak bola di Indonesia? Koleksi dalam museum tentu tak cuma sepatu, kaus, bola, peluit, bendera…. Buku-buku dan majalah-majalah pantas jadi koleksi. Museum sepak bola? Siapa mau mendirikan dan mengunjungi museum sepak bola? Aku telanjur berpikiran wagu, mengikuti nalar pemerintah: segala hal bisa jadi museum. Aduh! Sepak bola itu urusan gawat saat Indonesia jarang menang dan konflik jabatan di PSSI belum selesai. Usulan tentang musem bisa diabaikan saja. Begitu.

Iklan