Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Hidup tanpa kamus, hidup tanpa penjelasan. Ah! Kalimat ini keterlaluan. Aku menganggap kamus penting dalam hidup, mengartikan hidup dengan kata-kata. Kamus-kamus dari masa lalu adalah “pembentuk” bahasa dan makna untuk masa sekarang. Kamus adalah warisan agung, halaman-halaman mengandung khasiat agar manusia bisa menjalani hidup dengan pengertian-pengertian: tetap atau berubah.

Aku berulang mendapat Kamus Umum Bahasa Indonesia edisi cetak ulang. Seingatku, 5 kamus itu telah aku beli. 4 aku jual dan 1 aku koleksi sendiri. Sekian hari lalu, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 1952) susunan W.J.S. Poerwadarminta berhasil ada di pelukanku, cetakan pertama. Edisi cetak ulang tentu berbeda dengan cetakan pertama, terjadi penambahan dan pengurangan seiring perubahan zaman. Aku memegang kamus itu dengan mata lelaki rindu masa lalu. Rindu bahasa!

Kamus 1

Kamus Umum Bahasa Indonesia diniatkan oleh Poerwadarminta sebagai “kamus jang praktis”. Kehadiran kamus itu berarti bagi misi pembentukan identitas Indonesia, di jalan revolusi dan nasionalisme. Kamus dari masa Orde Lama itu tak dilengkapi dengan sambutan P.J.M. Soekarno tapi pembaca bisa merasakan ada “bara revolusi” di halaman-halaman berisi huruf-huruf. Soekarno adalah “pengagum “ bahasa Indonesia, dibuktikan sejak masa 1920-an melalui pidato dan tulisan. Aku merasa ketidakhadiran sambutan dari Soekarno di Kamus Umum Bahasa Indonesia pantas “disesalkan”. Bagiku, bahasa Indonesia pernah bertumbuh bersama Soekarno sebagai pemikir, orator, penguasa.

W.J.S Poerwadarminta (1903-1968) adalah tokoh bahasa, mengabdikan hidup demi urusan-urusan bahasa. Semula, Poerwadarminta dikenal oleh pembaca sebagai penulis buku Mardi Kawi (1930). Kemampuan mengurusi bahasa Jawa berlanjut dengan penerbitan buku berjudul Purana Castra (1934). Buku ini disusun bersama R.L. Mallema. Poerwadarminta dianggap “bapak perkamusan” di Indonesia. Gelar itu dibuktikan sejak masa 1930-an dengan penerbitan sekian kamus, disusun bersama sekian penulis: Bausastra Jawa, Bausastra Welandi-Jawi, Bausastra Indonesia-Jawi, Indonesiasch-Nederlandsch Woordendook, Kamus Bahasa Inggris-Indonesia. Aku belum memiliki semua kamus itu sampai sekarang.

Porwadarminta memberi keterangan: “Pada asasnja siring bertukar-djalan dengan kamus Indonesia-Belanda jang diusahakan berdua oleh Dr. A. Teeuw dengan penjusun kamus ini. Seiring karena kedua-duanja berdasarkan bahan-bahan jang sama dan diolah dalam kantjah jang sama pula. Bertukar djalan, karena masing-masing menempuh djalannja sendiri berpatutan dengan keadaan dan lingkungan pemakainja.” Susunan kata dari Poerwadarminta terasa “puitis” dan “aneh” jika dibaca oleh mata manusia abad XXI.

Aku mengoleksi ratusan buku dari masa 1950-an. Aku sering menikmati rasa bahasa dan mengimajinkasikan proses sebaran makna. Bahasa Indonesia belum mengalami “pembakuan”, dipakai oleh orang-orang dengan pelbagai kepentingan di dunia politik, ekonomi, agama, pendidikan, sosial, seni, teknologi, ilmu, kultural. Aku menduga bahasa Indonesia di masa 1950-an berada di persimpangan jalan: mengikat masa lalu dan mencari arah baru.

Kamus 2

Penjelasan Poerwadarminta pantas direnungkan: “Sebagai tjermin tjorak perkembangan dan pemakaian bahasa Indonesia pada dewasa ini, maka kamus inipun terpaksa masih bersifat mendua, lama dan baru. Kata-kata dan perkataan-perkataan lama, jang kerap diberi djulukan ‘bahasa hikajat’, masih diberi tempat jang lapang dalam kamus ini, karena pada hakekatnja hingga kinipun kitab-kitab itu masih banjak dibatja dan dipeladjari orang. malahan masih tertjantum djuga dalam rantjangan pengadjaran sekolah-sekolah landjutan. Lagipun tak sedikit tjiptaan-tjiptaan baru jang terdjalin didalamnja kekunoan dan tak kurang-kurang pula kata-kata jang telah lama terpendam dalam kandungan masa jang silam, timbul atau dihidupkan kembali, baik dengan istilah jang asli, baik dengan isi jang baru….”

Orang-orang bisa membaca puisi-puisi Amir Hamzah dan Roestam Effendi menggunakan Kamus Umum Bahasa Indonesia. Pembaca novel-novel dari masa 1920-an dan 1930-an pasti juga membutuhkan kamus susunan Poewadarminta. Bahasa Indonesia berubah cepat, tak mau ditingal oleh perubahan politik-kultural. Bahasa dalam sastra turut berubah, membuat pembaca mengalami kejutan dan kebingungan. Kamus Umum Bahasa Indonesia berhasil memberi panduan membaca teks-teks dari masa lalu.

Kamus itu juga berurusan dengan kekinian atau masa depan? Poewadarminta menjawab: “Sudah barang tentu kata-kata dan perkataan-perkataan tempaan baru, entah jang berasal dari bahasa-bahasa Barat, entah jang dipungut dari bahasa-bahasa daerah, jang membandjir mengalir kedalam perbendaharaan bahasa Indonesia sekarang, lebih-lebih diutamakan dalam kamus ini. Dengan demikian diharapkan kamus ini dapat memenuhi keperluan-keperluan jang praktis dalam batja-membatja segala matjam batjaan.”

Kerja membuat kamus berarti amal sepanjang masa. Poerwadarminta pasti memiliki pahala besar. Aku berharap para ulama bisa mengisahkan Poerwadarminta dalam pengajian-pengajian. Kamus Umum Bahasa Indonesia memberi terang bagi kehidupan. Aku berdoa agar Poerwadarminta masuk surga. “Bapak pekamusan” itu telah mewariskan kamus, berfaedah bagi jutaan manusia di Indonesia, dari dulu sampai esok hari. Kamus mengantar manusia masuk surga. Begitu.

Iklan