Tag

, , , , , , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Sekian hari lalu, aku membawa buku berjudul Semasa Ketjil di Kampung, edisi fotokopian dan edisi cetakan baru, masuk ke ruang kuliah di FISIP UNS. Aku sengaja membawa buku itu untuk memberi ajakan bagi para mahasiswa menelusuri pengisahan kampung dan orang kampung. Mereka sedang mengerjakan tugas, meneliti kampung-kampung di Solo. Kehadiranku cuma merangsang mereka mencari perspektif dan memilih model penulisan laporan. Aku bercerita tentang kehidupan M. Radjab saat di kampung, mengenang masa lalu dengan kata-kata.

Aku telah lama menginginkan buku karangan M. Radjab, penasaran dengan para ahli Indonesia atau sejarawan mengutip buku Semasa Ketjil di Kampung untuk mengerti kehidupan di Minangkabau. Keinginan terwujud meski mengandung sesal tak keruan. Buku itu aku dapatkan dalam edisi cetak ulang ke-8, terbitan Balai Pustaka, 2011. Aku senang bisa membaca kenangan M. Radjab. Aku “marah” saat melihat sampul buku dan bentuk cetakan. Buku itu bersampul anak kecil mengenakan kopiah bermain tali di bawah pohon. Jenis huruf untuk judul mengesankan bacaan untuk anak. Diimbuhi olahan warna di sampul membuatku “marah” dan “menggugat”. Balai Pustaka telah membuat kesalahan fatal! Lho! Aku sulit meredakan marah.

Kampung 3

Aku terlalu lama mengimajinasikan bahwa buku M. Radjab adalah buku penting untuk mengingat kehidupan kampung di Sumatra di masa silam, pantas jadi referensi sejarah, sastra, sosiologi, agama… Imajinasi itu hancur akibat melihat buku dalam bentuk cetakan ulang oleh Balai Pustaka. Hasil cetakan buruk! Aku semakin marah saat membaca halaman keterangan dari pihak penerbit: “Buku Semasa Kecil di Kampung ini semula hanya satu buku saja. Dalam cetak ulangnya yang ketiga, buku ini mengalami perubahan dengan dipecahnya menjadi tiga jilid. Faktor yang mendorong penerbit untuk memecah buku ini menjadi tiga jilid adalah jumlah halamannya yang sangat banyak. Oleh karena itu, dalam cetakan ketiga ini muncul Semasa Kecil di Kampung 1 (Anak Danau Singkarak), Semasa Kecil di Kampung 2 (Mengaji di Pesantren), dan Semasa Kecil di Kampung 3 (Melawat ke Sulit Air). Semoga terbitnya kembali buku ini akan berguna bagi masyarakat Indonesia, dan pencinta sastra khususnya.”

Hatiku terluka, pilu. Oh, Tuhan, buku impianku telah memberi duka lara. Aku marah! Buku itu terlalu membuatku emosional. Aku kabarkan ke teman, peneliti di Jogjakarta. Kabar balik berisi tawaran dari teman: memfotokopi edisi lawas dan mengirim padaku. Aku perlahan lega. Buku itu sampai padaku, memberi sedikit tebusan dari sesal dan marah.

Kampung 1

Hari demi hari berganti. Aku berulang mengisahkan isi buku itu ke teman-teman, mengisahkan ulang ke para mahasiswa, mengutip dalam esai-esai kecil. Tuhan memberiku berkah. Sekian hari lalu, aku mendapatkan edisi lawas buku berjudul Semasa Ketjil Dikampung (1913-1928): Autobiografi Seorang Anak Minangkabu (Balai Pustaka, 1950) susunan Muhamad Radjab. Alhamdulillah…. Buku itu pesona. Aku memeluk erat, tak memberi ciuman.

Buku setebal 212 halaman itu berisi pengisahan diri saat M. Radjab hidup di kampung. Aku telah membaca dua kali, menemukan rangsangan ikut mengisahkan diri tentang kehidupanku saat di kampung. Aku ingin meniru meski memilih strategi pengisahan berbeda. Buku bersampul hijau, bergambar pemandangan alam. Aku melihat sampul dengan girang! Imajinasiku mulai mendekati Minangkabau, mengimbuhi imajinasiku saat membaca novel-novel dari masa 1920-an dan 1930-an garapan para pengarang asal Minangkabau. Gambar-gambar di buku buatan Sajuti Karim semakin menggugah imajinasi.

Dunia bocah adalah dunia bergelimang gairah untuk belajar dan bermain. Aku perlu mengutip kenangan M. Radjab saat bersekolah: “Telundjuk saja sudah mengenai telinga bagian atas, ketika diantarkan ke sekolah pada hari pertama oleh ajah. Saja dibawa menghadap seorang guru; tegap badannja, hitam kulitnja, kepalanja besar, dan air mukanja bengis kelihatannja. Djantung saja berdebar-debar…. Inikah jang dinamakan guru? Selama ini saja tidak mengerti apa artinja guru sekolah. Jang saja kenal hanja guru mengadji, jang berbadju Tjina, sarung pelekat dan tidak berkasut. Guru sekolah ini berdjas tutup, berpantalon, dan bersepatu jang bagus. Kini saja akan diserahkan oleh ajah kepada guru ini.”

Sekolah-sekolah di Sumatra adalah basis dari pembentukan manusia modern di awal abad XX, berperan besar berbarengan dengan rumah gadang dan surau: pembentuk identitas. Aku selalu tergoda membuat tulisan-tulisan tentang bocah, rumah, sekolah. Keberadaan surau memang jadi penggenapan jika ingin menulis identitas para tokoh asal Sumatra: Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Mohammad Hatta…. Aku pun pernah menulis surau, menggunakan buku-buku biografi dan disertasi orang asing. Tulisan-Tulisan A. Azra aku gunakan sebagai referensi penting, buku tentang pendidikan di surau.

Kampung 2

Buku karangan M. Radjab pantas jadi bacaan publik, mengingat masa lalu. Kehendak Balai Pustaka untuk memberi cap buku ini bacaan bocah tentu berakibat “perendahan” isi buku. Para sejarawan, sosiolog, sastrawan, ulama, pendidik bisa menggunakan buku Semasa Ketjil Dikampung sebagai rujukan pengisahan pelbagai hal, dari urusan sepele sampai urusan rumit.

Aku memiliki tiga buku: edisi cetakan baru, buku fotokopian, edisi buku lawas-asli. Tiga buku memiliki godaan berbeda, bermula dari mata dan pegangan tangan. Aku memilih membaca lagi edisi lawas, merasakan sensasi sentuhan tangan dengan kertas lama, memanjakan mata dengan ejaan-ejaan lama dan gambar-gambar apik. Aku berpikiran ingin mengirim buku cetakan baru ke penerbit, mengembalikan sebagai bentuk kritik, disertai sepucuk surat protes. Begitu.

Iklan