Tag

, , , , , , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Ranggawarsita: pujangga kondang asal Solo. Nama ini sering disebut sebagai “pujangga keraton”. Ranggawarsita memang menekuni sastra di naungan keraton. Idiom terkenal dari Ranggawarsita adalah “zaman edan”. Idiom ini telah melewati tahun demi tahun, diucapkan dan dituliskan oleh jutaan orang, bermaksud merefleksikan kehidupan. Dulu, aku pernah gandrung dengan ungkapan “zaman edan”. Sekarang, aku merasakan kejenuhan akibat pemaknaan klise dari para pengucap atau penulis, berlagak mengutip Ranggarwasita agar tampak keren. Aduh!

Aku memang tertarik untuk mengenali Ranggawarsita. Pujangga ini turut menggodaku untuk kuliah di jurusan sastra Jawa di UNS. Nasib tak berpihak. Aku tidak diterima melalui ujian dengan soal-soal keparat, tak berkaitan dengan Jawa. Kenangan itu terus ada: kegagalan belajar Jawa di kampus. Aku mulai ikhlas. Sekarang, aku mendengar ada Javanologi di UNS. Penamaan untuk institusi itu terasa ganjil. Aku juga belum pernah mengikuti acara-acara Javanologi, tak mengenal orang-orang di Javanologi. Aku cuma sangsi atas peran Javanologi bagi Solo, Jawa, Indonesia. Lho! Aku malah mengurusi Javanologi.

Ranggawarsita (1802-1874) pantas dihormati meski tak harus berlebihan. Aku berulang menulis tentang Ranggawarsita, esai-esai kecil di koran. Pembacaanku atas Ranggawarsita semakin serius saat dinobatkan sebagai “pemula” dari sastra modern di Indonesia. Julukan itu berkaitan dengan tesis dari pakar sastra Indonesia asal Rusia. Aku mulai menempatkan Ranggawarsita dalam konteks Indonesia.

Buku berjudul Zaman Edan (U.P. Indonesia, 1964) susunan Kamadjaja adalah persembahan bagi Indonesia. Ranggawarsita dianggap memberi pengaruh dalam sejarah sastra, politik, agama, pendidikan di Indonesia. Pengakuan ini disajikan oleh Kamadjaja dengan menghadirkan dua pidato dari Soekarno dan Muhammad Yamin. 11 November 1953, upacara peresmian patung Ranggawarsita diadakan di Museum Radya Pustaka. Soekarno berkata: “Dari utjapan-utjapan Ranggawarsita itu ternjata bahwa benar-benar beliau itu pudjangga rakjat. Bukan pudjangga satu golongan, walaupun Ranggawarsita pegawai keraton, tetapi beliau bukan pudjangga keraton sadja. Beliau adalah pudjangga rakjat.”

IMG

Kamadjaja adalah pujangga. Ikhtiar menjelaskan Kalatida gubahan Ranggawarsita dilakukan dengan lagak pujangga. Kamadjaja membuat “uraian gaja bebas tentang isi dan maksud Kalatida”, ditambahi puisi berjudul Zaman Edan. Aku mengutip aliena-aliena dari siasat Kamadjaja menerangkan Kalatida ke pembaca, menggunakan tokoh “aku” sebagai pengandaian Ranggawarsita: “Kulihat kini tingkat-deradjat negara menurun. Tampak sunji sepi laksana kosong tidak berisi. Peraturan-peraturan dan perundang-undangan mendjadi rusak martabatnja, oleh karena orang-orang jang mendjalankannja tidak melihat teladan jang baik.” Aku tak bermaksud mengutip ini berkiatan situasi Indonesia. Kutipan ini tak perlu diberikan ke Akil Mochtar.

Kamadjaja juga menghadirkan puisi pendek, mengapresiasi Kalatida. Aku membaca dengan sedikit kagum: Zaman edan, insan berebutan/ Berebutan benda menumpuk harta/ Suka kuasa berlomba kaja/ Megah meriah gairah mewah. Aku sungkan untuk memberikan petikan puisi Zaman Edan ke Akil Mochtar. Sekarang, Akil Mochtar tak membutuhkan puisi. Lho! Aku pun malu memberikan petikan puisi ke Ratu Atut. Beliau memilih mengadakan pengajian demi “menanggulangi” gelagat serangan dari KPK. Ratu Atut mungkin enggan memilih puisi dalam refleksi diri sebagai penguasa.

Buku susunan Kamadjaja mesti dicetak ulang, diberikan secara gratis bagi pejabat, elite partai politik, pengusaha, artis. Aku juga usul buku dibagikan ke siswa, mahasiswa, dosen, pedagang, tukang parkir, penganggur. Lho. Para calon presiden bisa bersaing untuk mengeluarkan ongkos penerbitan ulang buku Zaman Edan. Aku menduga bahwa tindakan menerbitkan ulang buku tentu berakibat baik ketimbang mereka pamer foto dan omongan di iklan-iklan jelek.

Kamadjaja tampak “keterlaluan” saat membuat bab “Ranggawarsita dan Multatuli”. Aku membaca bab itu dengan rikuh. Aku kaget menemukan ada “pemaksaan” hubungan antara pujangga asal Jawa dan pengarang asal Belanda. Bab ini sengaja diadakan oleh Kamadjaja agar pembaca menemukan ada semangat revolusioner dua tokoh dalam memberi penilaian atas perubahan zaman. Multatuli menggubah Max Havelaar, mengubah nasib negeri terjajah. Ranggawarsita menggubah Kalatida, mengingatkan efek-efek perubahan zaman.

IMG_0002

Buku setebal 196 halaman, memberi ingatan-ingatan tentang peran sastra dalam sejarah di Jawa dan Indonesia. Aku menganggap Kamadjaja turut berperan mengawetkan warisan-warisan Ranggawarsita agar terus terbaca oleh publik. buku Zaman Edan sudah sulit dicari. Semoga di Javanologi UNS memiliki koleksi buku Zaman Edan agar bisa dipelajari oleh publik.

Aku mengingat pesan Kamadjaja mengenai maksud dari penerbitan buku Zaman Edan di masa Orde Lama: “Maka terbitan kami ini hendaknja pun dapat mendjadi pendorong para pengarang jang berminat untuk membawa karja-karja hasil kesusasteraan-kepudjanggan daerah-daerah kedalam bahasa persatuan kita, sehingga dapat difahami oleh bangsa kita pada umumnja.” Buku ini berkhasiat. Begitu.

Iklan