Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Pembaca esai-esai Goenawan Mohamad tentu mengingat kutipan-kutipan dari Boris Pasternak. Sekian esai memuat gagasan atau pemikiran Boris Pasternak atau singgungan ke novel Dokter Zhivago. Aku sering mendapati pengutipan berkaitan puisi. Goenawan Mohamad (1990) menulis: “Konon, Boris Pasternak, penyair usia itu, pernah mengatakan apa arti puisi baginya. ‘Puisi adalah manis kacang kapri yang mencekik mati, air mata dunia di atas bahu.’ Dengan kata lain: sesuatu yang konkret, juga sesuatu yang intens.”

Aku sengaja memunculkan Goenawan Mohamad sebagai esais dengan kutipan-kutipan Boris Pasternak. Aku juga sudah dua kali membaca Dokter Zhivago karangan Boris Basternak. Dulu, aku membaca novel itu bersampul merah, terbitan Djambatan. Sekian tahun lalu, aku membeli novel itu saat menganggur, sampul berwarna biru. Film Dokter Zhivago sudah aku lihat, dua kali menggunakan terjemahan bahasa Indonesia.

Pengaruh novel itu dalam hidupku? Aku belum tahu, tak sanggup memberi jawaban lugas. Novel itu selalu mengingatkanku pada seorang pengarang dan penerjemah ampuh di Indonesia: Trisno Sumardjo (1916-1969). Buku-buku Shakespeare bisa dibaca oleh pembaca berbahasa Indonesia berkat terjemahan Trisno Sumardjo. Aku sudah memiliki koleksi buku-buku terjemahan Trisno Sumardjo.

Novel Dokter Zhivago terbit dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia oleh penerbit Djambatan, 1960. Novel ini membuktikan kesanggupan Trisno Sumardjo dalam menerjemahkan novel ampuh. Penerjemahan dilakukan dari edisi berbahasa Inggris. Kehadiran novel ini di masa 1960-an tentu bersinggungan dengan polemik sastra dan politik. Boris Pasternak adalah rujukan kehebohan saat orang mengurusi sastra berlatar politik atau ideologi, mengesankan keributan kalangan pengarang dan seniman di Indonesia.

Zhivago 1

Dulu, aku membaca novel ini dengan kebingungan. Aku cuma berniat merampungkan meski sulit mengerti dan mengerti. Novel-novel Rusia tak gampang dimengerti oleh mata lelaki saat SMA, belum berbekal referensi melimpah. Novel rampung dibaca, informasi-informasi tentang Boris Pasternak, sastra Rusia, perdebatan ideologi sastra di Indonesia mulai aku peroleh sebagai bekal mengingat kondisi diriku saat membaca di usia 17 tahun. Novel tebal, bercerita tentang negeri asing. Aku dulu terpikat tanpa memerlukan argumentasi-argumentasi besar. Novel itu ada di lemari perpustakaan: aku melihat dan membaca selama sekian hari.

Novel Dokter Zhivago terbit di Indonesia adalah “keajaiban”. Cetakan pertama keluar di bulan Januari 1960-an. Novel ini mengalami cetak ulang kedua, Maret 1960. Siapa pembaca novel Dokter Zhivago? Aku menduga ratusan orang telah menanti kehadiran novel garapan Boris Pasternak, saat demokrasi dan revolusi melanda Indonesia. apakah Wiratmo Soekito, Soedjatmoko, Goenawan Mohamad, H.B. Jassin… membaca edisi novel terjemahan atau edisi berbahasa Inggris? Apakah Pramoedya Ananta Toer turut membaca? Pramoedya Ananta Toer juga memberi hasil terjemahan novel John Steinbeck, Leo Tolstoy, Maxim Gorky. Terjemahan dari novelis asal Amerika Serikat dan Rusia. Eh, Pramoedya Ananta Toer membaca Dokter Zhivago? Aku belum tahu.

Zhivago 2

Novel tentang politik, revolusi, puisi, asmara memang lekas membuatku terpikat. Aku sulit mengisahkan ulang novel tebal asal Rusia. Persoalanku dengan novel-novel Rusia adalah menghafal nama para tokoh. Aduh! Sulit sekali! Aku termasuk sering membaca sastra Rusia: Leo Tolstoy, Maxim Gorky, Anton Chekov, Phuskin, Gogol, Dostoyevsky…. Sekian hari lalu, aku merampungkan novel Haji Murad karangan Leo Tolstoy, terbitan Serambi, 2013. Dulu, aku sudah membaca novel itu edisi terbitan Bentang. Aku selalu tertarik membaca sastra Rusia meski selalu mengalami kesulitan untuk urusan nama tokoh.

Aku ingin memberi petikan puisi, termuat di Dokter Zhivago. Puisi bisa memberi panggilan ingatan atas cerita para tokoh dalam novel garapan Boris Pasternak. Aku bisa mengimajinasikan salju, kereta api, suara bedil, tubuh gemetar, mata merah, kota, slogan.

O, musim panas ini

Sungguh berhikmah!

Tjoba, apa sebab ia kundjungi kita

Jang tak mentjarinja dan tiada berhak?

Aku sering mencari siasat untuk mengawetkan ingatan setelah membaca novel, termasuk novel-novel Rusia. Ingatanku tentu berbeda dengan ingatan Goenawan Mohamad. Pujangga dan esais ini tekun membaca novel, mengutip dalam esai-esai. Keterangan dalam tulisan sering membuatku memberi pujian: Goenawan Mohamad mengutip melalui ingatan, tak perlu membuka halaman-halaman novel. Goenawan Mohamad pantas dijuluki “pengingat novel”.

Novel Dokter Zhivago telah bersamaku selama puluhan tahun meski aku tak rajin melakukan pengutipan dalam esai-esai. Aku juga jarang memberi penggalan-penggalan cerita ke teman-teman akibat kesulitan memanggil ingatan-ingatan. Novel itu tak jemu menggodaku. Dokter Zhivago mendatangiku dengan tiga rupa. Begitu.

Iklan