Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Adegan di rumah, dua lelaki dan seorang perempuan bercakap tentang makanan. Mereka berpenampilan sopan dan rapi. Mataku melihat pakaian mereka representasi kehidupan di masa lalu, 1950-an. Aku terus memandang tiga tokoh sambil menikmati cerita.

Si perempuan berkata: “Bestiknja tak djuga merah”. Lelaki berpeci memberi tanggapan: “Aku pun berfikir bagaimana masaknja Nur hingga bestiknja selalu begitu bagus dan merah-lembut.” Percakapan ini muncul di gambar pertama. Urusan makanan membuat tiga orang kebingungan saat menghadapi makanan di atas meja. Adegan bersambung ke gambar kedua: si perempuan bercakap menggunakan telepon. Si perempuan berkata: “…Nur, tjoba bilangkan rahasianja bestikmu itu? Bagaimanakah masakmu hingga sebagus itu? Peladjarilah aku, Nur.” Di gambar ketiga, si perempuan bercakap dengan Nur di dapur. Nur berkata: “Rahasia satu-satunja tjuma margarine PALMBOOM: rasanja lezat, lagi pula banjak betul vitamienja. Dengan sendirinja bestiknja mendjadi kemerah-merahan, sedang rasanjapun ada jang agak istimewa.”

1

Adegan dan percakapan itu tak ada dalam komik. Aku melihat dan membaca di halaman belakang Star Weekly, No. 329, 19 April 1952. Iklan ada di halaman belakang: tampil mengesankan dan membujuk pembaca agar menggunakan Palmboom. Di bawah gambar-gambar tercantum keterangan: “Palmboom senantiasa mentjiptakan suatu hidangan istimewa. Margarine tulen berwarna kuning-emas ini meninggikan rasa asli dari tiap makanan dan membuat hidangan mendjadi hidangan pesta…” Palmboom adalah “hasil dari Djawa nan indah.” Aku sengaja membaca Star Weekly dari belakang, tergoda oleh iklan.

Di halaman depan, ada gambar dan berita. Aku membaca cepat, merasa ada bujukan untuk mengerti situasi dunia di masa 1950-an. Nama Star Weekly telah aku ketahui sejak lama, melalui buku sejarah pers, buku biografi P.K. Ojong, tulisan-tulisan Jakob Oetama. Aku mengetahui informasi-informasi kecil, berlanjut mengenali P.K. Ojong dengan Intisari dan Kompas.

2

Aku tercengang dan tertawa saat membaca rubrik Gambang Kromong di halaman 3. Ada tulisan-tulisan pendek berisi kritik, kelakar, pengumuman…. Ada dua alinea menarik untuk jadi refleksi mengerti kerja menteri di Indonesia: “Bitjara tentang mr. Sumanang, kabarnja sampai sekarang dia belum selesai mempeladjari sudut-sudut pekerdjaannja. Sebab jang terutama, jalah karena seluruh waktunja habis, buat terima tamu-tamu sadja… Buat meringankan tugas menteri, ada baiknja kalau sekdjen kementerian-perekonomian suru itu kursi-kursi buat tamu didalam kamar menteri dibikin penuh… kutu busuk! Supaja itu tamu-tamu djangan merasakan seolah-olah kursi jang mereka duduki ada lemnja, ngobrol tidak ada habisnja! Kalau bukan perang kuman, dalam kementerian-perekonomian perlu diadakan perang kutu, rasanja.”

Aku cuma memiliki Star Weekly satu edisi, ingin membandingkan dengan isi di edisi-edisi lain. Dua aliena itu satire. Aku mendapat kejutan, kritik bisa diajukan ke menteri atau pejabat dengan kata-kata mengandung sindiran dan sengat. Aku mengingat masa 1950-an memiliki ciri: pers menjadi medium kritik atas lakon politik tak keruan di Indonesia.

Di halaman 2, sebiji puisi dihadirkan untuk kritik ke pejabat atau penguasa. puisi berjudu “Ingat Bung” digubah oleh L. Indas: Ingat Bung djangan lupa./ Keluhan rakjat sengsara./ Djangan hanja pangkat dibangga./ Sedang rakjat tetap melarat.// Ingat Bung akan djandji./ Kalau Bung sudah kaja./ Djangan hanja berebutan korsi./ Tapi dengar djeritan rakjat meminta nasi. Puisi dari pujangga tak kondang ini masih pantas dibaca di Indonesia abad XXI. Ulah pejabat dan situasi politik tak berbeda dengan masa 1950-an.

3

Star Weekly memiliki rubrik-rubrik “aneh”. Aku membaca rubrik Taman Anak-Anak di halaman 12, berisi cerita dan informasi. Ada percakapan mengandung efek tawa bagi anak-anak. Percakapan antara ayah dan anak berjudul Di Bulan.

Ajah, apakah dibulan djuga tinggal manusia?

Barangkali djuga ada nak.

Banjak?

Saja kira sama banjaknja seperti dibumi.

O, ajah, djika bulannja setengah, mereka tentu akan berdesakdesakan, bukan?

Percakapan ini menghibur. Si bocah tentu tertawa saat membaca percakapan. Rubrik ini mungkin jadi idaman bocah di masa 1950-an, mendapat informasi, cerita, ilmu, hiburan. Bocah-bocah tertawa di saat eksperimen demokrasi di Indonesia rawan menimbulkan konflik. Bocah-bocah tak perlu turut pusing mengurusi politik. Mereka memilih untuk membaca, mendapat amanat dan tawa.

Aku mulai berniat untuk mengumpulkan edisi-edisi Star Weekly, membaca dengan misi mengetahui situasi di masa 1950-an melalui sajian berita, cerita, iklan, foto…. Niat itu bergantung kebaikan para pedagang buku dan majalah bekas. Mereka mesti peka, memiliki ilmu mencari-menemukan tumpukan Star Weekly. Aku pun mesti mempersiapkan ongkos, membeli dan menaruh tumpukan itu di rumah.

Hasrat mendokumentasikan buku, majalah, koran lawas membutuhkan doa, uang, kepekaan. Aku tak mau cuma mengoleksi. Aku selalu berkeinginan membaca untuk diceritakan secara lisan atau dihadirkan sebagai kutipan dalam tulisan-tulisan wagu. Ikhtiar mendokumentasi patut dibarengi ketekunan membaca, mempelajari, membagi secara lisan atau tulisan. Begitu.

Iklan