Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Indonesia di masa revolusi masih mendapat kehadiran buku berjudul Dari Hikajat Lama: Bunga Rampai (1948) susunan Sanoesi Pane. Orang lekas teringat bahwa Sanoesi Pane adalah pengarang dari masa Poedjangga Baroe. Sanoesi Pane (1905-1968) telah mewariskan buku-buku bagi Indonesia meski di abad XXI jarang terbaca. Aku sangsi jika para siswa, guru, mahasiswa, dosen masih membaca buku-buku Sanoesi Pane. Mereka tentu kesulitan dalam bahasa, selera, kepentingan. Sanoesi Pane masih ada di buku pelajaran dan soal ujian, ada sebagai pertanyaan atau jawaban. Aduh!

Sekian warisan Sanoesi Pane: Pancaran Cinta (1926), Puspa Mega (1927), Airlangga (1928), Madah Kelana (1931), Kertajaya (1932), Sandyakala ning Majapahit (1933), Manusia Baru (1940), Arjuna Wiwaha (1940), Gamelan Jiwa (1960). Aku sudah memiliki buku-buku Sanoesi Pane, kecuali Pancaran Cinta. Sombong! Aku belum mengerti ketertarikan membaca buku-buku Sanoesi Pane.

Aku memiliki buku Dari Hikajat Lama: Bunga Rampai edisi cetakan kedua, 1956. Buku ini pernah dicetak ulang oleh Balai Pustaka dengan sampul putih, bertuliskan judul, berukuran besar. Aku menduga cetak ulang itu bertujuan menjadi koleksi di perpustakaan sekolah, kampus, umum. Buku ada tapi tanpa pembaca. Pemerintah tentu berniat buku Sanoesi Pane dipelajari agar para murid dan mahasiswa bisa mengerjakan soal-soal ujian, berkaitan sastra lama di Indonesia. Oh!

IMG_0014

Buku ini sulit dibaca oleh mata manusia abad XXI. Di halaman-halaman memang ada huruf-huruf tapi memberi misteri. Pembaca rawan mengalami kebingungan akibat tak mengenal bahasa-bahasa lama. Aku juga mengalami meski tak mau putus asa. Buku-buku dengan bahasa lama sering mengajak diriku berkelana ke masa lalu, masa tak teralami tapi bisa diimajinasikan. Aku bisa turut “mengalami”, mengajak diri berlaku sebagai manusia lama.

Sanoesi Pane menginginkan buku ini penting bagi para pembaca di Indonesia: “Adapun asas-asas jang djadi petundjuk dalam menjusun bunga rampai dari hikajat-hikajat lama ini ialah: (1) kutipan-kutipan harus sebanjak-banjaknja dari hikajat jang terbagus, supaja buku ini memperkenalkan kesusasteraan Melaju lama; (2) dari tiap hikajat harus dipetik bahagian jang masuk bilangan jang terbaik; (3) tiap pungutan harus seboleh-bolehnja dapat dibatja sebagai suatu tjeritera jang lengkap; (4) buku ini harus dipakai disekolah-sekolah….” Aku mengerti alasan Sanoesi Pane menggunakan kata “harus”. Buku ini penting menjadi bacaan di sekolah, mengajak siswa menghormati warisan-warisan sastra lama dari masa lalu, “sastra Melaju”.

Aku menganggap penting. Guru-guruku di SMP dan SMA tak pernah mengenalkan buku Sanoesi Pane. Aku juga belum pernah mendapat penjelasan mengenai buku Hikajat Lama: Bunga Rampai dari para dosen. Aku menduga mereka tak memiliki atau belum membaca buku Sanoesi Pane. Ha! Aku juga tidak menemukan buku ini di perpustakaan sekolah dan kampus. Aku pernah melihat buku ini di Perpustakaan Daerah Solo. Sekarang, buku ini mungkin sudah dibuang dari koleksi. Kasihan…

Aku perlu menghadirkan “pungutan” dari “hikajat lama” sesuai pilihan Sanoesi Pane: “Alkissah maka tersebutlah perkataan Batara Guru menitahkan Begawan Batara Narada dan Batara Indera, katanja: ‘Hai tuanhamba kedua, pergilah tuanhamba kedua turun kedunia menghidupkan Raden Samba Prawira itu, karena terlalu kasihan hamba melihat akan ajahanda bundanja terlalu sangat mentjintakan anaknja itu.’ Setelah Begawan Batara Narada dan Batara Indera mendengar titah Batara Guru itu, maka iapun segeralh turun kedunia.”

IMG_0020

Bahasa dari “hikajat lama” aneh tapi memberi ajakan untuk diriku turut berbahasa lawas. Ada imajinasi impresif dalam bahasa-bahasa lama, mengisahkan tokoh-tokoh dalam pelbagai peristiwa. Pungutan ini berasal dari Hikajat Sang Boma. Balai Pustaka pernah menerbitkan dalam wujud buku tebal, bersampul coklat.

Kemampuan berbahasa dan berimajinasi menentukan gairah membaca “hikajat lama”. Aku merasa kagum atas studi para intelektual saat mereka bercumbu dengan “hikajat lama”, meneliti dan menerbitkan sebagai disertasi. Seingatku, buku-buku berasal dari disertasi mengenai pelbagai “hikajat lama” diterbitkan oleh UGM. Mereka pasti orang-orang pintar, menghargai warisan sastra, menjelaskan ke publik agar ada kesinambungan ingatan meski bahasa dan imajinasi tercecer bersamaan perubahan zaman.

Aku menghadirkan lagi pungutan dari “hikajat lama” di buku Sanoesi Pane: “Sekali peristiwa radja jaman pergi berburu, dan Ibraha pun naik seekor kuda mengiringkan radja, menantikan perburuan keluar kepadang. Maka dihalau oranglah akan segala binatang dari dalam hutan itu. Maka keluarlah seekor kidjang, maka diusir oleh radja Jaman akan kidjang dengan kudanja, dan Ibrahapun mengikut dia dari belakang. Maka Ibrahapun memanah kidajang itu. Dengan takdir Allah ta’ala terkena kepada telingan radja Jaman, maka putuslah, dan habis tubuhnja berlumur dengan darah. Maka radja Jamanpun terlalu murka akan dia, lalu disuruhnja ditangkap akan Ibaraha itu hendak dipenggal lehernja.” Pungutan ini dari Hikajat Kalilah dan Daminah.

Aku memiliki koleksi Hikajat Kalilah dan Daminah, mulai dari terbitan Balai Pustaka sampai Elex Media Komputindo. Buku ini sering jadi bacaan di pelbagai negeri. Di Eropa, Hikajat Kalilah dan Daminah diterjemahakan ke bahasa Inggris, menjadi bacaan publik. Aku belum pernah bertemu guru atau dosen bergiarah menceritakan isi Hikajat Kalilah dan Daminah untuk sumber pembelajaran ilmu, moral, religisositas, politik, pendidikan.

Buku Sanoesi Pane mengajak ingatan bergerak ke masa lalu, memungut pelbagai “hikajat lama”, dimaknai secara berketerusan tanpa rikuh meladeni situasi abad XXI. Begitu.

Iklan