Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku mengingat kalimat, dibuat oleh pujangga dan esais tua. Kalimat tentang Tan Malaka: “Ia lahir dari buku, hidup dari pustaka, dan menghilang di halaman terakhir sebuah risalah.” Kalimat itu ditulis oleh Goenawan Mohamad (2009) dalam “sebuah esai, sebuah opera” berjudul Tan Malaka. Aku tak mengingat semua kalimat-kalimat dalam Tan Malaka atau menonton pentas Tan Malaka di Salihara. Aku cuma sulit melupakan sekalimat apik dan puitis.

Buku-buku garapan Tan Malaka telah ada di rumahku sejak puluhan tahun silam. Buku-buku tentang Tan Malaka juga jadi bacaanku, memberi pengertian-pengertian dramatik atas sejarah Indonesia dan ketokohan. Tan Malaka adalah nama dengan lakon misterius, menentukan pembentukan Indonesia meski tak memiliki jabatan. Tan Malaka menggerakkan lokomotif politik dan intelektual meski sering “dipinggirkan” oleh rezim kekuasaan, dari kolonialisme sampai Orde Baru.

Kalimat dari Goenawan Mohamad mengantarku untuk mengenang Tan Malaka melalui risalah berjudul Tan Malaka: Bapak Repoeblik Indonesia (Badan Penerbitan Nasional, 1946) susunan Muhammad Yamin. Sekian bulan setelah proklamasi, risalah itu terbit di Kudus untuk menjadi bacaan publik. Risalah ini masih mengandung bau proklamasi dan revolusi, “mengikat” Tan Malaka ke konteks agenda-agenda politik sejak masa kolonialisme sampai proklamasi.

Tan Malaka 1

Aku pun mengingat misteri proklamasi dan Tan Malaka. Goenawan Mohamad menulis tentang “dugaan” ketakhadiran Tan Malaka dalam pembacaan teks proklamasi, 17 Agustus 1945: “Ia tak kelihatan di tanggal 17 Agustus itu. Tak seorang pun memberitahunya. Aneh, ia seorang penggerak revolusi. Ia bisa jadi Lenin. Tapi ia kehilangan jejak. Atau ia tidak berjejak. Ia bilang ia menggeleng-gelenggkan kepala mendengar pernyataan kemerdekaan Indonesia oleh Bung Karno hari itu. Mungkin ia menganggap seluruhnya lembek, atau semu, atau…” Goenawan Mohamad menulis kalimat-kalimat itu setelah puluhan tahun dari peristiwa 1945.

Aku malah ingin merasakan getaran kata dari Muhammad Yamin, menulis risalah tak berjarak jauh dari proklamasi. Muhammad Yamin menulis: “Sekarang boekanlah telah njata terboekti bahwa beliau Tan Malaka, 20 tahoen dahulu, tak sia-sia menoelis dengan djari teloendjoek dalam awang-angkasa tjita-tjita.” Kalimat ini berkaitan penulisan risalah berjudul Menoedjoe Repoeblik Indonesia susunan Tan Malaka alias “Bapak Repoeblik Indonesia”. Risalah itu penting, referensi membentuk dan mengimajinasikan Indonesia.

Tan Malaka memang penulis buku-buku ampuh, buku menggerakkan politik dan intelektualitas. Suguhan Madilog, Gerpolek, Dari Penjara ke Penjara…. memberi kontribusi besar bagi Indonesia. Kaum intelektual terus mengutip dan memberi intrepretasi atas buku-buku Tan Malaka. Aku pernah terpikat oleh ulasan Ignas Kleden, Franz Magnis-Suseno, Goenawan Mohamad… Di deretan depan adalah para ahlis sejarah dan intelektual asing, memberi ulasan komprehensif, mulai dari biografi sampai efek literasi politik. Aku justru belum mampu membuat ulasan panjang tentang Tan Malaka. Kasihan…

Kehadiran kembali Tan Malaka di Indonesia masa 1940-an menimbulkan detak revolusi bergerak cepat. Muhammad Yamin menulis: “Disana, ditengah-tengah api revolusi, pengandjoer Tan Malaka berasa moeda kembali, pertama karena hidoep ditengah-tengah dentoeman meriam, granat dan bom, seriboe kali lebih hebat dari pada soeasana pemberontakan tahoen 1926/1927.” Deskripsi ini mengesankan ada kebermaknaan Tan Malaka bagi lakon revolusi Indonesia, setelah Tan Malaka harus melakukan pengembaraan ke pelbagai negeri akibat ulah politik.

Tan Malaka 2

Risalah dari Muhammad Yamin berarti penting dalam melacak jejak ketokohan Tan Malaka dan kesejarahan Indonesia. Aku menduga cuma puluhan orang mengoleksi risalah Tan Malaka: Bapak Repoeblik Indonesia. Risalah ini termasuk langka, sulit ditemukan di perpustakaan atau toko buku. Aku masih penasaran, risalah itu terbit di Kudus. Apa arti Kudus bagi gerakan politik dan literasi di Indonesia masa 1940-an?

Aku jadi ingat, Kudus dekat dengan Semarang. Lho! Aku belum tahu hubungan Kudus dan Semarang. Tan Malaka pernah hidup di Semarang, mengadakan “sekolah rakjat”. Konon, bangunan bekas sekolah ini mau runtuh. Di koran-koran, ada  berita mengenai gerakan melindungi bangunan sekolah, “melindungi” sejarah. Barangkali Tan Malaka pernah dolan ke Kudus saat membesarkan gerakan politik di Semarang. Ha! Lupakan saja dugaanku.

Pujian Muhammad Yamin untuk Tan Malaka: “Berdasarkan fikiran, bahwa Tan Malaka boekan sadja bapak Repoeblik Indonesia tetapi poela seorang poetera jang sangat berharga dalam perdjoeangan kita pada hari ini, karena padanja tersimpan beberapa kesanggoepan, kepandaian, kejakinan dan keberanian, jang sangat bergoena dalam revolusi, apalagi dalam kegentingan internasional dan nasional pada waktoe ini.”

Tan Malaka memang tokoh besar, hampir jadi legenda akibat kesamaran dan misteri. Orang-orang telah mengetahui Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir. Tan Malaka? Aku pun sedang berikhtiar untuk mengenali Tan Malaka, membuat tulisan-tulisan kecil sebagai penghormatan.

Semula, aku mengingat kalimat dari Goenawan Mohamad. Ingatan berlanjut dengan peristiwa membaca risalah Tan Malaka: Bapak Repoeblik Indonesia. Ada getaran tak biasa. Ada sejarah di huruf-huruf. Ada Tan Malaka di alinea-alinea tak berkahir. Begitu.

Iklan