Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

28 Oktober 1928, peristiwa bersejarah terjadi di Jakarta. Aku selalu mengingat, menulis esai-esai mengenai bahasa, politik, bangsa, lagu, tokoh… Seingatku, esai-esaiku tentang Sumpah Pemuda rutin tampil di koran, suguhan ingatan bertaburan kata. Dulu, sekian esai membuatku terkejut saat dihubungi orang dari program Mata Najwa-Metro TV. Aku diminta untuk jadi pembicara di acara Mata Najwa. Ha!

Apakah mereka tak salah mengundangku sebagai pengisah Sumpah Pemuda? Aku mencoba mengajukan keraguan. Mereka memilihku setelah melacak dan membaca esai-esaiku di koran. Konon, aku pantas menjadi pembicara di televisi. Wah! Urusan tiket pesawat dan hotel sudah disiapkan oleh panitia. Aku mulai berdebar, sulit meramalkan nasib tubuhku. Di hati, aku bergumam: “Aku bakal naik pesawat terbang?” Hidupku tentu berubah akibat naik pesawat terbang. Bergerak dari Solo ke Jakarta cuma 1 jam. Ajaib! Adegan naik pesawat itu jadi cerita heboh di keluarga dan tetanggaku. Simbok bangga mengetahui diriku “berhasil” naik pesawat terbang. Di keluargaku, aku termasuk pemula sebagai si penumpang pesawat terbang. Weh!

Selama obrolan di Mata Najwa, aku mengisahkan W.R. Supratman dan Muhamad Yamin. Referensiku belum lengkap tapi sanggup mengisahkan pelbagai hal sepele, berkaitan Sumpah Pemuda. Ingatan itu muncul lagi saat aku menemukan buku tipis berjudul Sumpah Indonesia Raja (N.V. Nusantara, 1955) garapan Muhammad Yamin. Buku ini melengkapi koleksi, membuatku bergairah terus menulis tentang Sumpah Pemuda.

Sumpah 1

Muhammad Yamin adalah pujangga dan penulis buku-buku sejarah meski sering kontroversial. Aku memang pembaca buku-buku Muhammad Yamin, mulai sejarah Majapahit sampai sejarah bendera merah putih. Muhammad Yamin adalah penulis produktif dalam urusan sejarah, sastra, bahasa, politik… Hari berganti hari. Aku terus berikhtiar melengkapi koleksi buku Muhammad Yamin.

Keterangan Muhammad Yamin: “Naskah Sumpah Indonesia-Raja mendjatuhkan uratnja kedalam bumi-pesemaian tjita-tjita kemerdekaan sedjak permulaan abad sampai kini dan nanti.” Kalimat puitis, mengandung ajakan mengingat sejarah. Keterangan lanjutan: “Jang mendjadi dasar memperingati tanggal 28 Oktober 1928 sebagai Hari Kelahiran Bangsa jalah karena persumpahan itu memberi djedjak dan kesan dalam perjuangan kemerdekaan; sungguh banjak kebaktian dan manfaatnja…”

Pujangga jika menulis buku sejarah tentu dramatis, mengunakan kata-kata memikat dan apik. Aku pun selalu berharap agar penulisan buku-buku sejarah di Indonesia juga mempertimbangkan pesona dan kekuatan saja. Buku sejarah dengan susunan kalimat kaku dan wagu tentu menjemukan bagi pembaca, tak merangsang imajinasi. Lho!

Sumpah 2

Aku kaget saat membaca uraian Muhammad Yamin, menghubungkan peristiwa gerakan komunisme dengan Sumpah Pemuda. Simaklah: “… Kongres itu jalah perintis djalan pergerakan Indonesia jang meliwati krisis jang disebabkan oleh tindakan reaksioner terhafdap gerakan komunisme tahun 1927 dipulau Sumatera.” Aku perlu mencoba membuat tulisan, membuat pola pengaruh di masa 1920-an: Taman Siswa, PKI, PNI, Perhimpunan Indonesia, Sumpah Pemuda….

Penulisan sejarah Sumpah Pemuda memang melimpah. Sartono Kartodirdjo pernah memberi sentilan, peristiwa penting telah terjadi sebelum 1928. Peminat sejarah Indonesia mulai mengenal promosi dari sejarawan ampuh itu berkaitan manifesto dari Perhimpunan Indonesia, 1925. Ada persamaan dan perbedaan, mulai lokasi sampai isi.

Para ahli sejarah memang memiliki referensi dan tafsir berbeda. Muhammad Yamin adalah pengesah Sumpah Pemuda sebagai peristiwa akbar, bersejarah. Pengakuan Muhammad Yamin: “Segala jang saja uraikan diatas adalah berdasarkan tjatatan jang untung tertolong karena tak tergiling roda Revolusi dan djuga berdasarkan ingatan jang saja simpan dalam hikmah dan sanubari jang berasa berbahagia pula dipertjajakan supaja ikut menabur dengan berpidato pada malam mulia itu. Seminggu lamanja konperensi berlangsung dan rapat penutup sebagai sidang kelima diadakan digedung Keramat 106. Saja berasa pilu diantara beratus-ratus kalau tidak beribu jang hadir pada malam itu, sekarang sudah banjak jang telah berpulang mendahului kita kealam baka.” Pengakuan mirip puisi. Oh!

Ingatan ke 28 Oktober 1928 selalu mendapat pemaknaan dalam arus politik di Indonesia. Muhammad Yamin lihai menghubungkan Sumpah Pemuda dengan pelbagai naskah, tokoh, peristiwa. Aku hampir menganggap siasat itu mengarah ke penulisan novel Sumpah Pemuda.

Kenangan setelah 27 tahun dari peristiwa 28 Oktober 1928: “Keadaan sudah berputar balik, tetapi hasil jang enam dari persumpahan Indonesia Raja, 27 tahun lalu adalah kekal, jaitu: dasar kesatuan tanah-air Indonesia, rakjat Indonesia, sang merah putih, lagu Indonesia Raja, bahasa Indonesia, benda kekal abadi jang akan kita sumbangkan nanti kepada Konstituante jang dibentuk mulai tanggal 15 Desember tahun jang lalu.” Muhammad Yamin adalah pelaku sejarah, menulis buku sejarah beraroma pengalaman dan buaian imajinasi. Penggunaan kata-kata mempengaruhi kehendak Muhammad Yamin untuk membuat pembaca menerima kebenaran sejarah.

Buku ini pantas dimiliki oleh para peminat sejarah atau “pengagum” buku-buku garapan Muhammad Yamin. Buku tak selalu harus benar. Aku sering meragu tapi menginginkan membaca buku-buku Muhammad Yamin untuk menemukan sensasi atau tarikan imajinasi mengenang masa silam. Begitu.

Iklan