Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Di Bilik Literasi, obrolan demi obrolan berlangsung tanpa menghadirkan pejabat dari pemerintah atau ahli bahasa dari kampus. Teman-teman mengaku sebagai kaum awam, membicarakan bahasa Indonesia sesuai dengan kemampuan dan selera. Bahasa Indonesia tak selesai diobrolkan selama dua hari, 26-27 Oktober 2013. Obrolan di Bilik Literasi tentu tak seheboh Kongres Bahasa Indonesia X di Jakarta, 28-31 Oktober 2013. Kongres bakal dihadiri 1000 peserta. Wah! Para peserta kongres tentu pintar dan parlente. Acara akbar itu berlangsung di hotel. Aku cuma menduga: “Bahasa Indonesia dalam hotel pasti kedinginan, manja, bersih, rapi…”

27 Oktober 2013, pagi, teman-teman membuat adegan-adegan biasa: mencuci piring dan gelas, menyapu, membaca buku, minum teh hangat, mandi…. Sidang Umum Bahasa Indonesia masih berlanjut, dimulai dengan sarapan nasi, oseng-oseng, tempe, tahu. Aku melihat dengan takjub: teman-teman makan seperti menelan bahasa Indonesia. Mereka berteater, berperistiwa bahasa bersama piring, sendok, gelas…. Aduh! Pikiranku mulai kacau. Dua hari adalah peristiwa dramatis: makan dan makan. Mereka selalu makan, berharap semakin menelan bahasa Indonesia. Mereka selalu kelaparan. Lapar, lapar, lapar. Mereka ingin menghabiskan bahasa Indonesia di atas piring. Oh!

Siang hari, teman-teman mengurusi kamus dalam hidup. Mutim alias “perempuan mringis” mengisahkan tentang hubungan diri dengan sekian kamus bahasa Indonesia. Ada keinsafan terlambat, kamus sangat penting dalam kehidupan. Teman-teman pun mulai bersahutan, memberi pengakuan-pengakuan. Sekian orang memiliki Kamus Umum Bahasa Indonesia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sekian orang tak pernah hidup dengan kamus. Rumah dan kamar mereka tak pernah didatangi oleh kamus. Kasihan. Rumah menjadi hampa. Kamar kehabisan kata. Aduh!

Aku jadi ingat Kamus Moderen Bahasa Indonesia (Grafica, Jakarta) susunan Sutan Mohammad Zain. Aku belum mendapat keterangan tahun penerbitan kamus. Pembaca bakal bisa menduga jika kamus terbit di masa 1950-an, merujuk ke penggunaan bahasa atau keterangan dari Sutan Mohammad Zain. Kamus berkertas buram. Kamus berjuluk “moderen”, hadir sebagai tanda kegairahan penggunaan bahasa Indonesia di masa lalu.

Kamus 1

Di halaman awal, mataku melihat peta Indonesia. Judul buku ingin dijelaskan dengan peta, mengajak pembaca mengimajinasikan peran dan sebaran bahasa Indonesia di ribuan pulau. Bahasa dan peta? Aku termenung lama, tergoda membuat esai wagu tentang peta, imajinasi, bahasa. Peta perlahan memberi panggilan (imajinasi) sejarah dan rangsangan melacak bahasa, dari masa ke masa.

Sutan Mohammad Zain menjelaskan: “Dalam segala-galanja Indonesia dalam waktu jang achir-achir ini mengalami revolusi. Demikian djuga dalam hal bahasa. Bahasa Melaju jang sudah membatu (versteend), sesudah mendjelma djadi bahasa Indonesia, terutama oleh desakan dan perbuatan pemuda-pemuda kita, diakui sekarang oleh orang pandai-pandaipun telah hidup bernjala-njala (springlevend).” Kalimat aneh dari si tuan kamus “moderen”. Aku menganggap ada puitisasi penjelasan. Puitisasi itu dilakukan oleh guru besar di Universitas Nasional Djakarta.

Kamus 2

Si guru besar melanjutkan keterangan-keterangan berlagak orasi: “Ja, masjarakat Indonesia modern, dengan perkataan Republik Indonesia, jang hendak tegak sama tinggi, duduk sama rendah dengan negara lain-lain, menuntut sekarang dengan sepenuh-penuh tuntutan, supaja bahasa Indonesia dalam waktu sesingkat-singkatnja, kalau tidak menjamai, sekurang-kurangnja mendekati kesanggupan bahasa jang moderen-moderen, baik dalam hal kesusasteraan, ataupun dalam hal melajani ilmu pengetahuan.” Kalimat panjang, membuat pembaca kelelahan. Keringat pun menetes, kata-kata menjadi basah.

Bahasa menjadi bukti kemodernan Indonesia. Kamus adalah penggerak lakon kemodernan, bermula dari kata sampai persaingan makna. Bahasa mengalami revolusi. Bahasa memiliki kekuatan dan pesona. Bahasa digunakan dalam politik, pendidikan, asmara, ekonomi, ibadah, sastra…. Bahasa Indonesia terus bertumbuh, dari detik ke detik: mengartikan negara-bangsa bernama Indonesia. Aku mengenang bahasa Indonesia sebagai puisi berjuta bait panjang, tak selesai dibaca dalam 100 tahun. Oh!

Sutan Mohammad Zain berniat membuat kamus berharga murah. Penjelasan tentang tebal dan harga: “Kita angan-angankan tebalnja kira-kira 6 atau 7 ratus halaman. Ketika mentjetak, njatalah bahwa naskah jang sudah kita sediakan, djika tidak diringkaskan sedikit, akan djadi 1200 halaman. Karena takut harganja djadi terlalu mahal, maka ketika memeriksa ‘proef’nja banjak keterangan kata-kata kita ringkaskan dan kata-kata jang sudah djadi dahan jang lapuk kita tjoreng sadja… Dengan djalan demikian Kamus Bahasa Indonesia ini, harapan kita dapat didjadikan 1000 halaman sadja dan harganja dapat ditetapkan oleh penerbit semurah-murahnja.” Tebal Kamus Moderen Bahasa Indonesia cuma 896 halaman. Lho!

Aku menghormati kehendak Sutan Mohammad Zain: kamus setebal 1000 halaman dengan harga murah. Orang-orang tentu mau membeli dan menggunakan kamus. Sekarang? Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan pemerintah memasang harga mahal: 360 ribu. Brengsek! Pemerintah sengaja tidak menginginkan orang-orang memiliki kamus, menaruh kamus di rumah atau sekolah, memeluk kamus saat tidur agar bermimpi indah dengan bahasa Indonesia.

Urusan kamus memang sering menimbulkan kemarahan dan kejengkelan jika berkaitan kerja pegawai di institusi pemerintah dan harga. Aku dan teman-teman meredakan marah dengan menikmati hujan deras. Sore menjadi basah. Teman-teman berkerumun, makan bersama dan berebutan memilih buku-buku bekas. Hujan perlahan reda. Teman-teman berpamitan pulang ke kota-kota berbeda. Mereka pulang, mengajak bahasa Indonesia melintasi jalan-jalan, masuk rumah, tidur bersama di atas ranjang saat malam berhawa dingin. Begitu.

Iklan