Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Penjajahan mengandung ilmu surat. Bangsa penjajah mengajarkan ilmu surat ke pribumi, memenuhi hasrat tertib dan pemaksaan nalar kolonial. Surat tak cuma lembaran-lembaran kertas dan tatanan huruf. Surat menentukan nasib orang di Hindia Belanda. Pemberlakuan ilmu surat membuktikan ambisi penjajah menciptakan stabilitas dan tatanan sosial-politik dalam keteraturan.

Aku menulis alinea awal dengan wajah tenang, tak berbeda saat aku memberi wajah untuk menatap novel-novel lawas berisi surat-surat. Di awal abad XX, Hindia Belanda adalah negeri surat. Aku harus mengumumkan julukan “negeri surat” agar orang-orang insaf tentang sejarah. Ribuan orang menulis surat. Ribuan orang menerima surat. Ribuan orang membaca surat. Surat ada bersama gerak detik di jam dinding. Surat-surat ada di kantor pemerintah. Surat-surat ada di rumah. Surat-surat ada di novel. Menakjubkan! Barangkali aku harus mencari kolektor surat-surat sejak awal abad XX. Aku perlu membaca surat-surat lawas: mengimajinasikan lakon negeri jajahan.

Kalimat-kalimatku semakin tidak beres. Hentikan! Aku harus segera mengurusi buku lawas berjudul Penoentoen Pengarang: Soerat-Soerat Permohonan Kepada Pemerintah dan Pembesar (Indonesische Drukkerij en Translaatbureau, 1918) susunan H.L. Frank Vanger. Buku ini berhasil lolos dari penghancuran, pelapukan, mulut tikus…. Buku ini masih ada sampai sekarang meski orang-orang tak pernah tahu, melupakan atau tak mau tahu. Aduh! Kebiasaanku selalu menuduh orang tak tahu. Sesal pun pantas diajukan. Oh, maaf. Aku terjangkit wabah sombong tapi tak sesombong para politikus dan artis.

Negeri Surat 1

Buku setebal 86 halaman ini mengenai petunjuk membuat surat-surat resmi, berisi pelbagai hal. Aku perlu mengutip keterangan di halaman 4: “Sebagai lagi, dalam soerat edaran Gouvernements-Secretaris tanggal 8 Oktober 1884 No 1887 (Bijblad No 413) dipersilakan Kepala-kepala Idarah Pemerintahan Oemoem serta kepala-kepala pemerintah daerah sopeja pembesar-pembesar itoe manakala menerima permohonan pengoebahan nama dari kepala-kepala atau pegawai-pegawai negeri boemipoetera menjoeroeh terangkan doeloe oleh masing-masing pemohon itoe, apakah arti nama jang baroe itoe, jang hendak dipakainja dan memeriksa benar tidaknja keterangan itoe, sebeloem memberi kepoetoesan atas permohonan itoe.”

Dulu, orang-orang di Jawa sering berganti nama, dari nama kecil ke nama tua. Alasan perubahan adalah sakit, menikah, pekerjaan…. Aku masih ingat, nama simbok saat kecil, muda, tua berbeda. Nama simbok saat tua adalah Jinah. Bapak memiliki dua nama: Mitro Dirin dan Mitro Wiyoto. Aku tidak mendapat keterangan tentang perubahan nama mereka. Apakah mereka mengubah nama dengan ritual adat atau memerlukan pengurusan surat-surat? Aku tak tahu. Wah, aku malah bercerita nama simbok dan bapak.

Contoh surat permohanan penggantian nama pantas dikutip agar ada imajinasi di masa silam. Surat ditujukan “Kehadapan Padoeka Jang Moelija Toewan Besar Direktoer Pengadjaran dan ‘Ibadat”. Isi surat dalam bahasa Melayu: “Dengan segala hormat hamba jang bertanda tangan dibawah ini Wongso, goeroe-bantoe pada sekolah klas 2 di Soemplah (Banjoemas), mema’loemkan kehadapan padoeka toewan besar, bahwa hamba ingin hendak mengganti nama (ketjil) hamba jang sekarang ini, dan hendak memakai nama Soemali Tjitro Wasito. Maka akan arti tijap-tijap bagian nama itoe adalah seperti berikoet: Soemali = bersih, baik; Tjitro = toelis atau toelisan; Wasito = pengadjar atau pengadjaran. Sehingga nama itoe segenapnja adalah dengan arti: pengadjar toelisan baik.”

Negeri Surat 2

Orang itu hebat, memilih nama dengan arti sangar. Nama memang penting bagi orang Jawa jika mempertimbangkan jenis pekerjaan, usia, martabat… Nama tentu sangat penting bagai penjajah, digunakan untuk mengisi lembaran-lembaran kertas, mulai dari administrasi pendudukan sampai daftar buronan. Ha! Aku cuma meringis saat mengimajinasikan para pembesar memikirkan arti nama-nama pilihan para pegawai bumiputera. Mereka bisa pusing dan kagum.

Surat membuktikan model hubungan pegawai bumiputera dengan para pejabat atau pembesar. Ribuan orang tentu membuat surat ke pejabat dengan pelbagai kepentingan. Surat-surat itu masihkah ada? Siapa mengoleksi? Apakah surat-surat itu ada di Indonesia atau Belanda?

Surat juga diperlukan bagi orang jika mau mengundurkan diri dari pekerjaan. Orang-orang berebut menjadi pegawai pemerintah. Apakah ada orang menghendaki untuk berhenti sebagai pegawai? Ada. Siapa? Orang itu bernama Sastraprawira.

Contoh isi surat pengunduran diri: “Dengen segala hormat hamba jang bertanda tangan dibawah ini, Mas Sastraprawira, goeroe bantoe pada sekolah Boemipoetera jang oemoem kals 2 di Begog (afd. Serang-res, Banten), mema’loemkan kehadapan padoeka toewan besar bahwa djikalau dengan izin padoeka toewan besar hamba bermaksoed hendak berhenti mendjabat pekerdjaan pada pengadjaran Boemipoetera jang oemoem, karena hamba hendak pindah kepada pekerdjaan partikoelir.” Aku berharap Ratut Atut membaca contoh surat dari Mas Sastraprawira, meniru untuk menulis surat pengunduran diri dari jabatan sebagai gubernur. Lho! Aku cuma bercanda lho.

Buku dari masa lalu sering membuatku rindu. Oh! Rindu? Aku rindu untuk mengetahui situasi kehidupan Indonesia di awal abad XX saat orang-orang mengenal aksara: membaca dan menulis. Mereka menjadi guru atau pegawai pemerintah. Mereka menulis surat. Aku ingin mendapat surat-surat mereka. Aku tak memerlukan surat cinta. Begitu.

Iklan