Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

31 Oktober 2013, teman-teman berkumpul di Bilik Literasi, mengobrolkan buku Guruku Orang-Orang dari Pesantren garapan S. Zuhri. Obrolan malam bersama gorengan, rambak, martabak, teh. Tubuhku lelah, seharian merasa ada sedih dan janji membaca setumpuk buku. Fauzi dan Milkhan bergantian mengisahkan isi buku, bergerak di dalam dan berpencaran ke pelbagai tema. Aku turut mengomentari dengan kalimat-kalimat berantakan mengenai S. Zuhri, NU, Partai Masjumi, Orde Lama, pondok pesantren, sekolah, ijazah… Aku mengejek lelahku dengan omongan panjang meski tak keruan dan mengandung informasi-informasi salah. Apakah teman-teman tahu informasi-informasi salah dariku? Ah, mereka mungkin tak menggubris. Obrolan memang patut mengandung salah, membuktikan peristiwa lazim. Dalihku, peristiwa itu obrolan. Kami enggan menganggap itu diskusi.

Sekian hari, aku telah selesai membaca buku Partai Masjumi (Mizan, 2013) garapan R. Madinier, Partai Islam di Pentas Nasional (Mizan, 2000) oleh Deliar Noer, Gerak Politik Muhammadiyah dalam Masyumi (Grafiti, 1997) oleh Syaifullah, Agama dan Perubahan Politik (Hapsara, 1982) oleh Mitsuo Nakamura, Pergumulan Islam di Indonesia 1945-1970 (Grafiti, 1985) oleh B.J. Boland. Aku tidak sedang mengerjakan skripsi atau tesis. Aku cuma membaca, berikhtiar mengerti lakon partai politik Islam di Indonesia. Sekian buku itu tak mengantarku jadi pengamat politik di televisi dan koran. Aku tahu, modal jadi pengamat adalah lulusan universitas di perguruan tinggi atau memiliki sekian gelar. Oh! Aku tak bisa jadi pengamat politik. Aku masih diperkenankan menulis esai-esai kecil, berlagak mengerti politik meski berisi ejekan dan keraguan. 1 November 2013, aku rampung menulis Memori Partai Masjumi saat pagi perlahan berganti siang.

Esai itu mengurusi narasi Partai Masjumi di masa Orde Lama. Aku pun ingat buku lawas berjudul Indonesia Dibawah Rezim Demokrasi Terpimpin (Bulan Bintang, 1967) garapan S.M. Amin. Buku setebal 282 halaman ini mungkin sulit dianggap buku penting dalam kajian sejarah politik di Indonesia. Dulu, aku membaca dengan penghormatan. Buku ditulis tentu berharap jadi persembahan bagi pembaca.

Demokrasi Terpimpin 1

S.M. Amin menjelaskan bahwa Partai Masjumi menjadi korban dari kebijakan Soekarno. Partai Masjumi dibubarkan dengan dalih bertentangan dengan azas dan tujuan negara. Apakah azas Partai Masjumi? Jawaban: “… terlaksana adjaran dan hukum Islam didalam kehidupan orang-seorang, masjarakat dan negara Republik Indonesia menudju keridhoan Illahi.” Wah, tujuan mulia dan agung. Aku memang mulai mengetahui sejarah Partai Masjumi meski cuma berbekal sekian buku. Agenda belajar tentang Partai Masjumi berarti belajar sejarah politik Indonesia. Aku pantas membanggakan diri meski tak mendapat pujian dari dosen atau tulisanku setara dengan tesis. Lho!

Memori zaman Demokrasi Terpimpin memerlukan ratusan bacaan, dari dokumen sampai buku-buku tebal. Buku-buku itu tak semua berbahasa Indonesia. Para peneliti asing justru rajin menulis tentang sejarah politik Indonesia. Mereka menulis dengan bahasa Inggris, Belanda, Prancis… Aku tak bisa membaca dengan bahasa asli. Bahasa Inggris saja aku tak bisa. Aku pun tak pernah berdoa pada Tuhan agar diberi mukjizat bisa berbahasa Inggris tanpa ikut kursus atau kuliah. Wah! Ketidakmampuan membaca buku-buku berbahasa Inggris semakin tidak memperkenankanku sebagai pengamat politik atau intelektual bertema politik.

Aku merasa lega bisa membaca buku S.M. Amin, mendapat informasi dan penjelasan meski tak berbobot setara dengan kajian para ahli Indonesia asal negeri-negeri jauh. S.M. Amin menjelaskan Demokrasi Terpimpin melalui kutipan perkataan Soekarno: “… bahwa semua alat negara adalah pembantunja, baik menteri, maupun pedjabat-pedjabat lain; bahwa diatasnja tidak ada kekuasaan lain lagi, selain daripada Tuhan.” Aku jadi merenung, sekejap saja. Tuhan dilibatkan dalam urusan demokrasi? Ah! Politik memang keterlaluan. Para elite sering menganggap Tuhan harus terlibat, berpihak.

Demokrasi Terpimpin 2

S.M. Amin cenderung memberi penjelasan-penjelasan berkaitan aib-aib lakon Demokrasi Terpimpin. S.M. Amin juga menggenapi dengan kritik dan tuduhan jelek ke Soekarno, penggerak Demokrasi Terpimpin. Soekarno dianggap penguasa suka memaki. Penjelasan dari S.M. Amin tentang Soekarno: “Tidak ada sebuah dari sekian pidato-pidatonja jang sunji dari pada kata-kata makian. Tidak pilih tempat atau suasana. Senantiasa terhambur kata-kata makian dari mulutnja. ‘Penjeleweng’, ‘pengchianat’, ‘anti-revolusioner’, ‘reactioner’, dan banjak lagi kata-kata jang selalu dilemparkan keatas kepala mereka jang tidak dapat menjetudjui kebijaksanaan politik dan sepak-terdjangnja….”

Soekarno memang ampuh menggunakan kata, berulang dan disuarakan dengan lantang. Aku termasuk kolektor kata-kata makian Soekarno. Ha! Aku bermaksud mengurusi kata-kata makian dalam pamrih membuat esai-esai tentang bahasa dan politik. Oh!  Kolektor kata-kata makian harus membaca sekian buku agar menemukan pemaknaan mendalam dan menempatkan ke peristiwa-peristiwa heboh. Aku bercumbu lagi dengan buku-buku sambil menikmati lantunan lagu-lagu dangdut dari rumah tetangga. Hariku-hariku memang bersama buku dan dangdut-koplo, dari pagi sampai malam. Begitu.

Iklan