Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Agenda menulis mirip peribadatan, dari hari ke hari. Aku menulis, menulis, menulis. Di rumah, peristiwa menulis cuma berbeda sedikit dengan peristiwa mencuci, menyapu, mengepel…. Hari berganti hari, tulisan-tulisan semakin menumpuk: esai, puisi, resensi…. Modal penulis tentu bahasa. Aku sering menulis dengan bahasa Indonesia. Aku tak pernah bermimpi menulis dalam bahasa Inggris meski sekian esaiku telah diterjemahkan ke bahasa Inggris. Pamela Allen menerjemahkan esaiku tanpa memberi keluhan padaku. Aku pernah bercakap sekejap dengan Allen saat di Ubud, Bali. Sekian esai justru membuat penerjemah kerepotan, sulit menerjemahkan kalimat-kalimatku: wagu dan jelek. Wah! Aku selalu ingin minta maaf pada mereka, berterima kasih telah mau menerjemahkan esaiku.    

Bahasa? Orang-orang menuduhku tidak becus menggunakan bahasa. Aku cuma menunduk malu. Malu. Malu. Oh! Aku memang lelaki pemalu. Ingat, pemalu tapi ganteng! Ha! Aku melanjutkan urusan bahasa saja. Aku memang pernah kuliah tentang bahasa meski sering mendapat nilai B dan C. Sesalan tak ada saat melihat nilai-nilai jelek. Aku malah memutuskan serius mempelajari bahasa setelah bergelar sarjana. Aduh! aku tidak bermaksud sombong dengan gelar sarjana. Gelarku tidak bisa membuatku menjadi artis, pengusaha, presiden.

Gairah mengurusi bahasa membuatku rajin menulis esai-esai tentang bahasa. Esaiku berjudul Setiap 28 Oktober… dimuat di Tempo, edisi 28 Oktober-3 November 2013. Esaiku juga tampil di Koran Tempo, 31 Oktober 2013, berjudul Kongres (Prihatin) Bahasa Indonesia. Sekian pembaca memberi komentar. Peserta Kongres Bahasa Indonesia X di Jakarta memberi pujian dan ejekan. Intelektual itu senang dengan kalimat pembukaan di esaiku: “Tugas menteri adalah berpidato.” Aku memang mengomentari isi pidato M. Nuh saat pembukaan Kongres Bahasa Indonesia X. Aku tidak mengikuti kongres tapi mengikuti berita-berita kongres.

Ingatan atas bahasa membuatku membuka lagi buku Ragam Bahasa Indonesia (J.B. Wolters) susunan R.B. Slamet Muljana dan B. Simorangkir Simandjuntak. Buku dari masa 1950-an, mengajak diriku belajar bahasa Indonesia dengan nostalgia. Para penulis menerangkan: “Betapa sedap membatja buku jang baik isi dan lantjar bahasanja. Tangan seolah-olah segan melepaskannja, buku tak djemu-djemu dibatja, sampai tulisannja kabur diimbur sendja. Sebelum tamat huruf jang terachir, hati tak merasa puas, dan pabila habis dibatja, terasa sajang dan timbullah keinginan membatjanja lagi.”

Ragam Bahasa Indonesia 1

Penjelasan puitis, menggoda pembaca untuk tekun membaca. Buku bisa menjadi ketakjuban. Ah! Para penulis itu mungkin promosi buku. Ragam bahasa dianggap penting bagi pelajar dan pengarang. Ajakan mempelajari ragam tentu memiliki misi agar orang-orang bisa menulis dengan lancar, apik, mengesankan…. Peringatan para penulis: “Demikianlah dalam peladjaran bahasa Indonesia dan peladjaran bahasa-bahasa seumumnja, ilmu sjaraf dan djalan bahasa tidak bisa diabaikan.”

Aku suka dengan materi perumpamaan. Para penulis memberi contoh dan keterangan sederhana, memudahkan pembaca untuk mengerti. Simaklah ajakan penulis: “Tjobalah kita ambil perumpamaan lama jang berbunji demikian: ‘Matanja seperti bintang timur’. Perbandingan ini terdjadi oleh karena pengarang perumpaan ini semula melihat suatu persamaan antara mata gadis jang hidup djelita dengan bintang timur, sehingga dengan mempergunakan umpama ini ketjantikan mata gadis bertambah djelas baginja.” Aku menduga perumpaan sering digunakan dalam asmara ketimbang di politik atau ekonomi.

Aku merasa ilmu bahasa perumpamaan itu sudah tak diwarisi oleh para guru, politikus, artis. Mereka jarang memberi bahasa perumpamaan secara memikat. perumpamaan sering klise, tak mencipta kebaruan. Mereka tentu sudah pernah sekolah atau kuliah. Apakah ilmu bahasa perumpamaan tidak diajarkan di sekolah dan kampus? Apakah partai politik tidak pernah mengundang ahli bahasa untuk memberi kursus bagi caleg dan pengurus partai politik? Aku menganggap mereka goblok, berarti harus rajin belajar. Ingat, rajin belajar! Aku jadi marah.

Ragam Bahasa Indonesia 2

Marah bisa reda saat membaca materi bahasa Indonesia-Tionghoa. Aku sudah mempelajari dari pelbagai buku. Penjelasan para penulis patut disimak, mengulangi dan melengkapi informasi: “Lain daripada bangsa Indonesia sendiri, ada lagi golongan bangsa asing dikepulauan ini jang mempergunakan bahasa Indonesia sudah berpuluh-puluh tahun lamanja. Bahkan bagi mereka bahasa Indonesia adalah bahasa kekeluargaan, artinja bahasa jang mereka pergunakan setiap hari baik dirumah maupun didalam pertemuan resmi seperti halnja dengan bahasa daerah ditempatnja masing-masing. Beratus-ratus buku telah terbit dalam bahasa Indonesia-Tionghoa, meskipun banjak djuga terdengar edjekan-edjekan kepadanja, misalnja disebut: bahasa tjapai, bahasa gado-gado d.l.l.”

Penjelasan ini bakal merangsangku membuat esai kecil. Aku haru membongkar kardus-kardus, menemukan buku-buku tentang bahasa, sastra, sejarah, pers, politik berkaitan materi bahasa Indonesia-Tionghoa. Aku berharap bisa menulis esai dengan apik agar “pabila habis dibatja, terasa sajang dan timbullah keinginan membatjanja lagi.” Esaiku-esaiku jarang membuat orang kangen atau gandrung. Esai-esaiku memang wagu dan kaku, perlu obat dari buku Ragam Bahasa Indonesia. Begitu.

Iklan