Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Indonesia bisa diartikan melalui imajinasi dan lantunan bocah. Sejak masa 1920-an, peran Ibu Sud penting dalam menggubah lagu-lagu bocah, memunculkan keriangan dan mengajak berimajinasi tentang Indonesia. Lagu-lagu Ibu Sud masih dilantunkan sampai sekarang meski si pelantun tak mengenali lagi lagu-lagu itu gubahan Ibu Sud. Mereka melantunkan, tak mengenali si penggubah lagu. Aduh!

Penggubah lagu-lagu bocah tak cuma Ibu Sud. Di masa akhir 1940-an, sekian penggubah lagu bocah muncul. Mereka telah berikhtiar memberi penghiburan, memaknai Indonesia dengan kata dan suara. Aku merasa perlu menghormtai mereka. Lagu-lagu itu pernah ada, sekarang tak dilantunkan lagi. Lagu bocah terlupakan.

Lagu-lagu itu termuat di buku Sekarwangi (Njanjian untuk Anak-Anak) terbitan Kementerian Pengadjaran dan Kebudajaan Republik Indonesia, 1950. Buku ini memuat lagu-lagu dari Sajembara Kementerian P.P.K. 1949. Di masa revolusi, pemerintah mengadakan program untuk lagu bocah? Hebat! Revolusioner! Apakah Kemendikbud RI masih mengadakan program lagu bocah? Mereka masih lelah, usai mengadakan Kongres Kebudayaan di Jogjakarta dan Kongres Bahasa Indonesia di Jakarta.

Sekarwangi 1

Sambutan dari kementerian P.P.K.: “Terbanjak diantaranja, lagu-lagu kedaerahan. Sesungguhnja, ini adalah maksud kementerian jaitu, supaja lagu-lagu kedaerahan terpelihara. Dan dengan demikian rasa kebangsaan diantara semua golongan penduduk Indonesia tetap erat dan kokoh.” Tujuan mulia. Aku kagum dan salut. Lagu demi keindonesiaan. Eh, masih ada lanjutan keterangan: “Oleh sebab itu harapan kami tak lain, moga-moga buku ini akan memuaskan hati anak-anak kita dan membimbingnja kearah persatuan jang bulat rakjat Indonesia.

Semoga sambutan itu tidak dikutip oleh elite partai politik. Mereka mulai memperalat lagu dalam iklan-iklan politik. Aku pernah melihat ada iklan berisi gambar bocah dan remaja di pelbagai daerah, melantunkan lagu nasional: satu nusa, satu bangsa… Di ujung lagu ada tulisan aneh, menaruh nama partai politik diakhir janji untuk Indonesia. Gawat! Gawat! Aku berharap mereka tidak turut merusak lagu-lagu bocah atau membuat program politis untuk imajinasi dan hiburan bocah. Mereka bisa kuwalat!

Aku membaca lirik lagu berjudul Tanah Air, lagu dari Timor, gubahan F. Ndaumanu.

Tanah airku, tanah tumpah darahku!

Baik tidak baik kuberbakti padamu

Dimana njiur melambai-lambai

Disitu tanah jang sangat kutjinta

Pulau Sumatra, Bali, Roti dan Djawa

Itupun tanah p’saka kita semua

Lirik sederhana, mengingatkan keinginan persatuan. Penggunaan sebutan “kita semua” di ujung lagu membuatku terharu. Pengakuan itu bukti keengganan berpecah atau disintegrasi berdalih pamrih politik, ekonomi, kultural. Aku terharu. Terharu. Terharu.

Lagu bocah tak cuma berpesan tentang Indonesia. Lagu-lagu bocah kadang berisi tema-tema sekolah atau pendidikan. Ada lagu gubahan Muslih berjudul Kesekolah, mengajak bocah-bocah bersukacita saat bersekolah.

Pandanglah ke Timur kawanku semua

Tampak disana surja mendjulang tinggi

Tanggalkan selubung gerakkan anggota

Bangun berdiri kesekolah berlari

Itu kewadjiban kita tiap hari

Djangan lalaikan walau hanja sekali

Radjinlah beladjar dengan sungguh hati

Supaja djangan kita menjesal nanti

Lirik lagu itu mengingatkanku saat SD. Aku paling malas bersekolah saat kelas 1-3 SD. Aku sengaja bangun siang, berdoa bisa tidak masuk sekolah. Aku memilih bermain sendiri meski sudah pukul 7. Aku lihat teman-temanku sudah berangkat tapi aku tak merasa harus segera berangkat. Malas! Aku sering datang terlamabat ke sekolah. Setiap pagi, aku tak selalu mandi untuk bersekolah. Ha!

Ada lagu heroik, berjudul Buta Huruf Berantaslah! Lagu ini digubah oleh orang bernama Sabar. Lelaki bernama Sabar menggubah lagu dengan judul bertanda seru. Oh! Sabar. Sabar. Isi lagu terasa heroik, revolusioner berkaitan dunia pendidikan di Indonesia.

Mari kawanku semua

Bergeraklah madju kemuka

Dengar genderang masa jang memanggil-manggilmu!

….

Buta huruf berantaslah

Usaha jang utama untuk mulai mengolah Indonesia

Marilah putra-putri berdjuang

Beladjar giat dari s’karang

Agar mendjadi bangsa negara djaja hidup

Berantaslah buta huruf

Lagu bertema pemberantasan buta huruf? Aku jadi ingat buku-buku sejarah. Soekrano gencar melakukan propaganda pemberantasan buta huruf melalui kebijakan dan tindakan. Aku juga ingat informasi dari peneliti asing tentang Pemilu 1955. Jutaan orang masih buta huruf. Mereka mencoblos gambar, memberi suara untuk hajatan demokrasi. Pemilu berlangsung, mengesankan demokratisasi di Indonesia.

Sekarwangi 2

Sekarang, orang-orang melek huruf. Pemilu 2014 bakal tiba. Jutaan orang melek huruf tapi sulit belajar politik akibat pembodohan dari partai politik dan negara. Jutaan orang melek huruf tapi tak peduli Pemilu 2014 akibat bebalisme para caleg dan elite partai politik. Lho! Lagu bocah diajak bersinggungan urusan politik? Maaf. Maaf. Maaf.

Buku Sekarwangi adalah dokumentasi imajinasi Indonesia dalam lagu-lagu bocah. Buku terbitan 1950-an menjadi rujukan untuk mengerti pemaknaan Indonesia bagi bocah, dilantunkan dalam keriangan dan sukacita. Lagu-lagu itu mungkin tak dilantunkan lagi di abad XXI meski pernah ada. Orang-orang telah melupakan. Aku tak ingin ikut lupa. Begitu.

Iklan