Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

5 November 2013, angka merah di kalender. Aku, Milkhan, Budiawan, Setyaningsih bergerak ke Semarang, berniat melihat pameran lukisan dan instalasi dari Hanafi. Tiba di Semarang, pintu galeri tertutup. Kami duduk, menatap pintu, teralis besi, jemuran, gedung tua… Galeri ikut libur. Kami memutuskan untuk tidak libur. Lho!

Siang di Semarang: panas dan kecewa. Sore segera bergerak pulang. Di bis, Milkhan dan Budiawan memejamkan mata. Mereka lelah dan capai. Tubuh ingin “libur” sejenak. Di perjalanan, lagu-lagu pop cengeng dan sendu diperdengarkan. Aku mulai ikut melantunkan meski pelan, tak utuh. Ada lagu Dadali, ST 12, Noah…. Di akhir, ada lagu-lagu dangdut koplo. Edisi akhir, lagu dilengkapi dengan video di televisi. Aku melihat takjub: perempuan-perempuan berpakaian seksi melantunkan lagu sedih tapi bisa berjoget. Milkhan sudah bangun. Aku berpesan: “Tolong, aku diajak ke konser-konser dangdut koplo.” Aku berniat untuk ngibing atau berjoget, berkemungkinan menikmati rangsangan dari tatapan tubuh di panggung. Dangdut dan berjoget bisa jadi pelipur lara. Oh!

Urusan menggandrungi lagu dangdut bisa jadi sensasi diri saat setiap hari aku “dipaksa” berdangdut oleh tetangga. Di rumah sebelah, dangdut koplo tak pernah libur atau cuti, dari pagi sampai malam. Aku perlahan bisa ikut mengonsumsi, menjadi lelaki dangdut. Bagiku, lagu penting dalam hidup, menentukan irama kata saat menulis esai. Dangdut dari rumah sebelah sering membuat kalimat-kalimatku berjoget, menjelma esai berirama dangdut.

Lagu? Aku ingin menunda urusan lagu dangdut. Aku ingin mengenang lagu-lagu nasionalis dari masa lalu.  Lagu-lagu itu termuat di buku berjudul Indonesia Djaja (Liem Tiat Sien, 1951). Buku cuma setebal selusin halaman, berisi lagu-lagu ciptaan Prawit. Di halaman awal buku tercantum nama pemilik awal: Mawardi. Ha! Nama itu sama dengan nama belakangku. Pemilik membeli tanggal 6 Juni 1958. Lelaki itu beralamat di Jebres, Solo. Buku ini telah menjadi miliki Bandung Mawardi, tinggal di Colomadu, di pinggiran Solo.

IMG_0003

Prawit adalah komponis kelahiran Solo. Aku terlambat mengetahui biografi Prawit. Keterlaluan! Aku memang mengoleksi buku-buku tentang lagu dan biografi komponis meski belum bisa mendalami ketokohan Prawit. Prawit lahir di Solo, 1915. Kemampuan bermusik diasah di Staf Musiek Keraton Surakarta. Biografi sebagai komponis-pemusik dilanjutkan di medan perang. Prawit adalah seniman dan pelaku sejarah. Peran itu mempengaruhi isi lagu-lagu gubahan Prawit.

Ada 12 lagu gubahan Prawit di buku Negara Djaja, lagu-lagu berjudul agung: Mars Diponegoro, Rasa Kebangsaan, Hari Pahlawan, Bersatulah, Hari Angkatan Perang, Hari Gagahnja Gagah, Pahlawan, Tanah Airku, Genderang Djaja, Indonesia Pusaka, Kesadaran Ra’jat, Mengheningkan Tjipta. Selusin lagu, aku cuma mengerti dan sering melantunkan untuk lagu berjudul Mengheningkan Tjipta. Lirik terkenal di lagu Mengheningkan Tjipta: “Dengan seluruh angkasa raja memudja pahlawan negara…” Lagu itu sering diperdengarkan di upacara dan peristiwa tabur bunga di taman makam pahlawan. Lagu-lagu lain?

Dulu, aku pernah berbangga sebagai pelantun lagu-lagu kebangsaan saat upacara atau peringatan tujuhbelasan di kampung. Diriku merasa ikut memaknai sejarah Indonesia, membuktikan nasionalisme. Adegan melantunkan lagu mirip melantunkan cinta tanah air. Wah! Lagu-lagu itu perlahan terlupakan, sulit untuk dilantunkan kembali. Aku mulai memilih lagu-lagu Ratih Purwasih, Rien Djamain, Dewa 19, Astrid, Ebiet, Manthous… Aku bisa tak nasionalis jika terus mendendangkan lagu-lagu cengeng, dari pop sampai campursari?

Aku merasa aneh saat membaca lirik-lirik dalam lagu ciptaan Prawit. Sekian lirik digarap oleh orang lain. Lirik dalam lagu berjudul Kesadaran Ra’jat ditulis oleh Handojodiprodjo.

Ra’jat kita nan mulia telah sadar

Sadar beta dari tidur njenjak

Terang tjuatja diudara tenang

Menjinari diseluruh alam

Beta harap kemakmuran nan gemilang

Makmur aman tunggal merdeka

Meresap dalam hati kita dalam darah kita

Aku berharap lagu ini tak dijadikan dangdut koplo. Aku tak tega jika Prawit di alam baka dapat laporan bahwa lagu Kesadaran Ra’jat dimainkan di panggung dangdut koplo. Jangan! Aku saja belum  pernah mendengarkan lagu Kesadaran Ra’jat di radio atau televisi. Apakah lagu-lagu Prawit memang dilupakan, kecuali Mengheningkan Tjipta? Aku tak tahu.

IMG_0007

Indonesia adalah bangsa berlagu. Aku usul agar pemerintah mau mengurusi lagu-lagu dari para komponis kondang. Lagu-lagu mereka mesti dibukukan, dilengkapi biografi dan penjelasan dari para ahli. Lagu-lagu SBY juga boleh masuk di buku asal mendapat persetujuanku. Weh! SBY adalah pencipta lagu, berisi tentang kebangsaan dan seruan keindonesiaan. Hebat!

Lagu-lagu para komponis Prawit, Ibu Sud., Cornel Simandjuntak, Kusbini, W.R. Supratman, Ismail Marzuki perlu dihargai dengan pembuatan buku besar. Mereka sering menggubah lagu-lagu kebangsaan, bukti mereka juga berperan besar dalam sejarah dan pemaknaan Indonesia. Mereka adalah pahlawan melalui lagu. Mereka itu “pahlawan not balok.” Usulan itu tentu tidak aku sampaikan secara resmi ke pemerintah. Aku tahu dan sadar, pemerintah selalu sibuk. Pemerintah sulit menerima usulan dan mengerjakan secara baik dan benar. Aku pun berharap pemerintah lekas insaf agar sejarah Indonesia melalui lagu-lagu tak lekas punah. Begitu.

Iklan