Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Aku telah rampung membaca buku Driyarkara, Si Jenthu: Napak Tilas Filsuf Pendidik 1913-1967 (Kompas, 2013) susunan Frieda Treurini. Aku terharu membaca biografi Jenthu, lelaki asal Kedunggubah, Purworejo. Berasal dari desa terpencil, moncer sebagai filosof dan pendidik. Jenthu memutuskan menempuh pendidikan sampai jenjang tinggi dan bergabung dengan Serikat Jesuit, keputusan menakjubkan untuk mengabdi pada Tuhan dan manusia. Episode-episode kehidupan Drijarkara tak kentara bertaut politik meski berhubungan dengan Mgr. Soegijapranata. Drijarkara ada di jalan pendidikan dan dakwah, tak turut di jalan politik secara eksplisit.

Aku menuliskan anggapan itu merujuk ke pembacaan buku tipis berjudul Peringatan Perdjoangan Politik Katholik Indonesia (1949). Aku ingat Drijarkara saat membaca uraian-uraian dari I.J. Kasimo dan Mgr. Soegijapranata. Mereka menggerakkan dakwah dan politik berlabel Katholik. Drijarakara tentu mengenali mereka meski tak ada catatan gamblang tentang “intimitas” atau pertautan dengan PKRI. Drijarkara mengerti dan terlibat di politik tapi belum ada penjelasan relasi diri dengan PKRI. Aku mesti meminta keterangan ke Romo Mudji Sutrisno atau Romo Subanar. Mereka tentu bisa menjelaskan tokoh-tokoh Katholik dalam sejarah politik Indonesia.

IMG

Dulu, aku pernah mengurusi Partai Masjumi, partai berdalil Islam. Sekarang, aku mengurusi Partij Katholik Republik Indonesia (PKRI), berdiri di Solo, 8 Desember 1945. Aku tak jemu mempelajari sejarah partai politik tapi jemu dan muak jika mengurusi partai politik di hajatan 2014. Buku ini aku dapatkan dengan tatapan mata bersinar, bertanda panggilan ke sejarah. Buku berpenampilan sederhana, bertuliskan kata-kata mengarah ke jejak-jejak masa silam.

Keterangan kecil tentang buku: “Sebagaimana perdjoangan Katholik Indonesia pada lapangan politik selama 4 tahun ini selalu dalam tengah-tengah arus pergolakan dan pancaroba, jang mengharuskan segala-galanja dikerdjakan dan diselesaikan dengan setjepat-kilat, maka buku peringatannja-pun diselenggarakan dalam waktu jang singkat.” Pengertian “singkat” tak membuat isi buku berantakan. Aku membaca dengan sukacita, menemukan informasi dan pengakuan penting untuk mengenang partai politik dan Katholik di Indonesia.

I.J. Kasimo selaku Ketua Dewan Pimpinan PKRI memberi sambutan singkat, sehalaman tak penuh. Seruan I.J. Kasimo: “Kita golongan Katholik Indonesia mengindjak babakan baru dengan hati jang tenang, tetap dengan hasrat melaksanakan kewadjiban kita sebaik-baiknja terhadap masjarakat dan negara, nusa dan bangsa, senantiasa dibawah devies: Ad Majorem Dei Gloriam.” Sejarah politik Indonesia tak cuma berjejak ke golongan Islam atau nasionalis. Ada saudara-saudara Katholik turut membentuk dan menggerakkan Indonesia di jalan politik. Mereka berpartai politik dengan dalil mengabdi dan mengindonesia.

Mgr. Soegijapranata memberi pesan berjudul Teruslah Berdjoang untuk Keadilan dan Kebenaran! Pesan bertanda seru tentu penting. Religiositas Mgr. Soegijapranata terasa dalam pesan dan doa singkat: “Mudah-mudahan Tuhan berkenan melimpahkan karuniaNja dengan mewah kepada segenap tenaga P.K.R.I. supaja selalu setia kepada azas-azas perdjoangannja dan senantiasa mengindahkan hukum-hukum perintah Tuhan dan Geredja dalam segala sesuatu jang dikerdjakannja.” Di hati, aku mengucap amin. Azas PKRI? Penjelasan ada di halaman 38: “Partai ini berdasarkan ke-Tuhanan Jang Maha Esa dan bertindak menurut azas-azas Katholik.”

IMG_0002

Aku memang tertarik dengan segala hal berkaitan PKRI. Ketertarikan berimbuh kejutan saat aku menikmati halaman-halaman buku Peringatan Perdjoangan Politik Katholik Indonesia. Ada iklan sabun mandi dan margarin. Ha! Buku tentang partai politik beriklan sabun mandi dan margarin? Ha! Apa hubungan sabun mandi, margarin, partai politik?

Di halaman 11 dan 13 ada iklan sabun mandi. Iklan di halaman 11 menampilkan gambar bocah dan propaganda pendek: “Kulit tetap sehat, karena…. LIFEBUOY. Di halaman itu tampak gambar dua jam dinding, mengartikan jadwal mandi pagi dan sore. Gambar bocah berwajah sumringah berlatar kamar mandi. Ada sekotak sabun bermerek LIFEBUOY: Toilet Zeep. Aku menduga para kader PKRI saat mandi menggunakan LIFEBUOY agar “kulit tetap sehat” dan “segar bugar”. Kondisi ini memungkinkan mereka berpolitik dengan baik dan benar. Lho!

IMG_0005

Di halaman 13, iklan sabun mandi LUX tampak meriah. Ada foto perempuan asing: cantik. Propaganda panjang: “Njonja akan mengalami, bahwa sabun Lux membikin kulit mendjadi halus dan harum serta memberikan ketjantikan jang segar..” Konon, propaganda itu disampaikan artis cantik bernama Myrna Loy. LUX mengaku sebagai “sabun ketjantikan dari bintang-bintang film”. Hasil penelitian mengabarkan: “Dipakai oleh 9 antara 1o bintang-bintang film.” Benarkah? Aku sulit menerima kalimat mengandung pamrih laba.

Apakah relasi antara PKRI dan LUX? Aku belum mengerti dan mengerti. Barangkali kader perempuan atau istri para pengurus PKRI sering menggunakan sabun mandi LUX. Waduh! Jawabanku tentu ngawur. Aku berharap bisa mengerjakan esai tentang partai politik dan sabun mandi untuk tampil di Jawa Pos, Kompas, Koran Tempo, Basis, Solopos. Amin. Tema itu penting agar para elite partai politik dan ribuan caleg berebutan kekuasaan dalam kondisi segar, bersih, wangi, cantik. Hajatan politik 2014 memerlukan sabun mandi. Begitu.

Iklan