Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Sebutan bisa mencipta simpati dan empati. Aku sadar saat membaca buku seberat 2 kilogram. Buku dari masa lalu, berjudul Ilmoe Pembela Orang Sakit (J.B. Wolters-Groningen, 1928) susunan Njonja Dokter Stokvis. Buku setebal 954 halaman. Aku menganggap buku ini pantas jadi referensi untuk mengetahui kebijakan kesehatan atau sejarah kesehatan modern di negeri terjajah. Dokter, perawat, rumah sakit, obat adalah “kebaruan” di Hindia Belanda, menandai ada kesadaran atas tubuh agar sehat. Kehadiran buku semakin menguatkan kehendak bangsa-bangsa Eropa mengajari pribumi tentang kehebatan ilmu kesehatan modern.

IMG_0013

Aku jadi ingat pamrih pemerintah kolonial mendirikan STOVIA, institusi pendidikan kedokteran bagi elite terpelajar bumiputra. Mereka digoda untuk belajar, memiliki ilmu dan ijazah demi “pengabdian” di bidang kesehatan. Bermunculan dokter-dokter di negeri terjajah, berilmu modern dalam menangani orang-orang sakit. Dukun dan jampi-jampi masih ada di Hindia Belanda tapi kaum dokter dan obat mulai mengenalkan “keajaiban” asal Eropa dan Amerika. Para dokter di awal abad XX juga tampil sebagai tokoh pergerakan politik, intelektual publik, sastrawan, jurnalis.

Pesan penting dari Njonja Dokter Stokvis: “Kemaoean soeka menolong orang-orang sakit itoe mestilah hendaknja timboel dari kita poenja perasaan jang menaroeh kasihan.” Kalimat ini mengartikan peran “pembela”. Semula, aku kaget dengan penggunaan kata “pembela”. Di masa sekarang, pembela mengesankan agenda politis dan agama. Dulu, pembela melekat ke urusan kesehatan. Aku belum memiliki kamus untuk mengartikan arti pembela sesuai di masa 1920-an.

Buku ini bacaan penting, dibaca oleh orang-orang pintar dan berduit. Buku tebal dan berat tentu mahal. Pembaca buku bisa dipastikan kaum elite terpelajar dan berkemampuan duit untuk bisa membeli. Aku jadi mengerti, buku adalah pengubah nalar dan lakon kehidupan kaum bumiputra saat menjalani arus kemodernan di abad XX.

Njonja Dokter Stokvis memberi peringatan: “Tetapi kalau tjoema karena kasihan begitoe sadja, itoe beloem tjoekoep! Kalau kita hendak menolong mereka dengan sebaik-baiknja, perloe lagi kita mempoenjai kepinteran, jaitoe tangan jang tjakap dan pengetahoean jang tjoekoep dalam hal penjakit itoe. Dan boeat mendapat kepinteran itoe kita haroes beladjar ilmoe praktijk dan ilmoe theorie. Goena ilmoe theorie jaitoe boeat menambah baik djalannja ilmoe praktijk, tegasnja menambah sempornanja pertolongan kita kepada sisakit itoe.” Penjelasan biasa tapi bermakna bagi agenda pendidikan kesehatan di Hindia Belanda.

Aku semakin terkejut membaca analisis mengenai fakta-fakta di Hindia Belanda. Analisis Njonja Doktor Stokvis kelak aku pakai sebagai kutipan. Aku masih berikhtiar menulis esai-esai tentang kesehatan, kebersihan, rumah sakit…. Uraian 1 alinea: “Di Tanah-Hindia ini ada banjak sekali penjakit roepa-roepa, dan penjakit-penjakit jang menoelar (infektieziekten) tidak koerang. Ra’jat bangsa Boemipoetera banjak sekali jang kena penjakit-penjakit itoe. Lantaran penjakit-penjakit itoe kekoeatan ra’jat bangsa Boemipoetera banjak jang hilang. Diantara penjakit-penjakit jang banjak itoe adalah jang boleh diseboetkan penjakit ra’jat (volksziekten), oempamanja: malaria, disenterie, mijnwormziekte, beenwoden (koreng-koreng), beri-beri d.l.l.”

Barangkali ada seribu “penjakit ra’jat”. Hindia Belanda menjadi negeri kaum sakit. Kasihan. Njonja Doktor Stokvis melanjutkan penjelasan bahwa ada tiga sebab kemunculan seribu “penjakit ra’jat” di Tanah-Hindia: (1) Ra’jat itoe tidak tjoekoep sekolahan (onderwijs); (2) Ra’jat itoe hidoep dalam miskin (armoede); (3) Ra’jat itoe kekoerangan doktor-doktor. Tiga sebab memerlukan jawab. Siapa menjawab? Aku jelas tak bisa menjawab. Aku tak hidup di awal abad XX, tak menjadi murid di STOVIA.

IMG_0020

Pemerintah kolonial dan pelbagai institusi pernah memberi jawab melalui penerbitan buku atau publikasi tulisan di surat kabar. Balai Poestaka, corong literasi bagi pemerintah kolonial, menerbitkan buku-buku kesehatan dengan harga murah. Aku jadi tergoda untuk mengoleksi buku-buku kesehatan terbitan Balai Poestaka. Aku ingin tahu penulis dan isi buku. Aku juga perlu melacak efek buku ke publik.

Keterangan dari Njonja Doktor Stokvis pantas jadi acuan: “Djadi djikalau ra’jat Hindia ini banjak tidak mendjadi sekolahan, atau mereka tidak mempoenjai sekolahan jang tjoekoep, tentoe soesah sekali diterangkan kepada ra’jat itoe ilmoe kesehatan itoe. biarpoen Balai Poestaka (Volkslectuur) itoe ada mendjoeal bkeoe-boekoe moerah, jang isinja menerangkan dari mana datangnja penjakit-penjakit itoe dan bagaimana mendjaganja, soepaja penjakit-penjakit itoe boleh tersingkir… tetapi djikalau ra’jat jang banjak itoe tidak bisa membatja, boekoe-boekoe itoe tidak ada goenanja kepada ra’jat. Dan lagi orang jang tidak pernah (nooit) masoek sekolahan, maka pendidikan-pikiran (ontwikkeling) poen tidak begitoe madjoe. Orang seperti itoe banjak takoet-takoet hatinja pada doktor. Dari itoe ia lebih soeka minta pertolongan doekeoen  daripada pertolongan doktor.”

Buku ini warisan masa lalu. Apakah aku patut jadi ahli waris? Aku menduga buku ini penting bagi para mahasiswa, dosen, pengamat dunia kesehatan, menteri, presiden… Ha! Buku ini penting bagi semua. Buku jadi pilihan untuk sebaran ilmu kesehatan, membuat Hindia Belanda berubah, dari negeri “kaum sakit” menjadi negeri “kaum waras”. Begitu.

Iklan