Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Nama mata pelajaran di sekolah kadang berubah, seiring laju zaman dan selera mendalami ilmu-pengetahuan. Dulu, orang-orang mendapat mata pelajaran dengan nama-nama agung: ilmu bumi, ilmu hewan dan manusia, ilmu bangun, ilmu alam, aljabar… Tahun berganti tahun. Nama-nama itu berganti, menuruti kurikulum dan mode zaman. Orang-orang pun menjadikan kenangan. Nama mata pelajaran tentu memberi pesona, tak terkekang waktu atau ruang. Aku pun memiliki kenangan nama mata pelajaran: PMP dan PSPB. Wah! Dua nama itu telah diganti, ditinggalkan di masa Orde Baru sebagai memori ideologisasi di sekolah.

Aku tak bermaksud menghujat kebijakan pendidikan di masa Orde Baru. Ingatanku berjarak pendek jika cuma menengok ke masa 1980-an dan 1990-an. Aku ingin mencicipi mata pelajaran di masa 1930-an dan 1940-an. Ada nama pelajaran Ngelmoe Boemi atau Ilmu Bumi. Nama biasa tapi bermakna bagi murid-murid bumiputera untuk tahu pelbagai hal tentang negeri-negeri di dunia.

Aku mulai dengan kecemburuan untuk buku berjudul Ngelmoe Boemi: Negari Walandi lan Boewana Enggal (J.B. Wolters-Groningen, 1930) susunan G. Vriens dan R.J. Djaja Atmadja. Buku ini disajikan bagi murid-murid di Normaalschool. Buku disusun oleh dua guru dari Normaalschool Moentilan. Usia buku itu 83 tahun. Buku masih “hidup” sampai 2013 meski tak ada lagi pelajaran di sekolah bernama Ngelmi Boemi. Buku berbahasa Jawa: representasi pendidikan sadar bahasa di masa kolonialisme. Aku tak menemukan mata pelajaran umum di masa sekolahku menggunakan bahasa Jawa. Semua buku berkaitan ilmu-ilmu umum selalu berbahasa Indonesia.

IMG

Bagaimana makna kebahasaan dalam mata pelajaran di masa lalu? G. Vriens dan R.J. Djaja Atmadja menjelaskan: “Koela kekalih matoer noewoen sanget dateng sadaja ingkang sampoen paring rembag lan oelar-oelar saha pitoeloengan ing pandamelanipoen boekoe poenika, langkoeng-langkoeng dateng Padoeka Boswinkel, poenapa malih dateng prijantoen Sala ingkang sampoen karsa niti basanipoen.” Aku menduga, murid-murid di Jawa tentu bergembira saat belajar Ngelmoe Boemi, diperantarai bahasa mereka. Bahasa Jawa sanggup jadi ilmu, merangsang penalaran dan pengimajinasian dalam sistem pendidikan kolonial. Ampuh!

Aku jadi cemburu saat menikmatu uraian dalam buku: “Doenoenge negara Walanda mapan banget, amarga ana ing saantarane kradjan-kradjan kang padagange lan pabrik-pabrike misoewoer, jaikoe Inggris, Duistschland lan Belgi. Apa maneh negara Walanda ikoe dadi doenoenge moewarane kali Maas lan Rijn, kang perloe banget toemraping lakoene dedagangan. Lan kang sisih lor lan koelon kawatesan ing segara Lor, kang lelajarane rame dewe in sadjagad.” Murid Jawa mengimajinasikan negara penjajah, berbahasa Jawa dan mengesankan. Bahasa “mengkrabkan” dan “mendekatkan”. Aku malah merasa membaca uraian itu mirip Babad Tanah Jawa, berganti judul Babad Tanah Walanda. Ha!

IMG_0002

Mengapa dulu saat bersekolah aku tak mendapat buku-buku pelajaran berbahasa Jawa? Aku anggap itu tragedi, memunculkan tuduhan bahwa bahasa Jawa tak representatif sebagai bahasa Ilmu akibat politik pendidikan tak beres. Bahasa Jawa cuma dipropagandakan sebagai bahasa perasaan. Aduh! Masa laluku mengecewakan, membuat duka lara kebahasaan. Kecewa! Aku hampir bersedih tapi tak menangis. Malu.

Buku Ngelmoe Boemi: Negari Walandi lan Boewana Enggal terbit lagi setekah 19 tahun. Dulu berbahasa Jawa, berganti dengan bahasa Indonesia. Judul dalam bahasa Indonesia: ‘Ilmu Bumi: Negara Belanda dan Pantja Benua (J.B. Wolters-Groningen, 1949). Penulis dan penerbit tetap sama. Ada nama baru di buku: A. Sutan Pamuntjak. Orang ini menjadi penerjemah buku, dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia.

IMG_0007

Aku membaca terjemahan buku ini dengan perbedaan kesan. Kenikmatan mendapat keterangan-keterangan dalam bahasa Jawa seolah mengandung godaan sastrawi. Imajinasi cenderung mengajak menempatkan diri sebagai murid di Jawa, murid di masa kolonialisme. Peristiwa membaca buku dalam bahasa Indonesia justru mengurangi kesan dan pesona. Aku tak lagi berhasrat untuk meluapkan imajinasi dengan sembrono. Bahasa Indonesia memiliki mekanisme “kebaruan” meski berakibat perubahan persepsi dan imajinasi. Buku ini berbahasa Indonesia, hadir saat Indonesia sudah merdeka. Apakah kemerdekaan mengakibatkan buku-buku pelajaran harus berbahasa Indonesia berdalih nasionalisme, patriotisme, revolusi, pembangunan? Aku belum bisa menjawab.

Kutipan penjelasan tentang transportasi di Belanda: “Membuat djalan kereta api  dinegeri Belanda itu sangat banjak pokoknja, sebab tanah-tanahnja terlalu lunak dan banjak djambatan-djambatan kereta api jang perlu dibuat. Djambatan kereta api jang sepandjang-pandjangnja jaitu djambatan diterusan Hollandse Diep dekat Moerdijk, hampir 1 paal pandjangnja. Thaharilah dipeta djalan kereta api jang terutama!” Kutipan ini tak puitis dan dramatis.

Aku menduga saat guru dan murid mempelajari buku Ngelmoe Boemi: Negari Walandi lan Boewana Enggal ada sensasi tak biasa. Mereka membaca dan bercakap dalam bahasa Jawa. Suasana pengajaran di kelas tentu bernuansa kejawaan, nuansa berkaitan ilmu demi kemodernan. Situasi itu berbeda saat mempelajari ‘Ilmu Bumi: Negara Belanda dan Pantja Benua, ada “kebaruan” meski ada “kehilangan”.

Dua buku ini bersamaku, berharap aku menggunakan sebagai referensi dalam esai-esai wagu. Mereka saling bersaing, berbisik untuk mendapat tatapan mata dan perhatianku. Buku berbahasa Jawa berpenampilan jelek tapi menggairahkan. Buku Berbahasa Indonesia tampil apik dan bersih tapi belum membuatku memberi cinta dan setia. Oh! Aku sebagai pembaca sedang diperebutkan oleh dua buku lawas. Aku memiliki mereka, menggodaku agar mendua. Oh! Aku jadi ingat lagu Astrid: “Kau putuskan untuk mendua dengan dia di belakangku, padahal aku pilih kamu jadi cinta terakhir….” Perlahan, mataku terpejam: bimbang. Begitu.

Iklan