Tag

, , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku masih ingat, Asrul Sani (1948) pernah menganggap sekian lagu gubahan C. Simandjuntak adalah propaganda. Kamu ingat? Semoga ingatanmu tak melapuk seperti ingatan para koruptor. Lho! Mereka itu pelupa. Semoga ingatanmu juga tak “lumpuh”. Jangalah berdoa seperti lagu Geisha: “Lumpuhkanlah ingatanku….” Oh, mintalah ampun pada Tuhan agar ingatanmu tak bermasalah. Urusan lagu propaganda penting. Janganlah lupa.

Di masa 1960-an, terbit buku tipis berjudul sangar: Mari Bernjanji, Berdjuang dan Berkonfrontasi! Judul buku pantas dipakai juga sebagai judul album lagu. Siapa mau membuat album lagu? Ajaklah aku sebagai biduan. Sejak lahir, suaraku sudah mengandung propaganda dan konfrontasi. Ha!

Berkonfrontasi 1

Buku itu diterbitkan oleh Pengurus Besar Front Nasional. Buku berisi 14 lagu tapi menggoncang Indonesia. Sangar alias heboh. Aku telah mengenal dan menghafal sekian lagu tapi kaget saat mendapati lagu-lagu berjudul aneh. Anggapan Asrul Sani tentang propaganda mesti ditambahi konfrontasi jika membaca buku asal 1960-an. Aku merasa ada perbedaan pengertian antara propaganda dan konfrontasi. Jelas!

Ada lagu gubahan C. Simandjuntak berjudul Madju Tak Gentar. Aku ingat lirik lagu ini sejak SD: “Madju tak gentar membela jang benar. Madju tak gentar hak kita diserang. Madju serentak tentu kita menang…” Lagu ini sering dilantunkan bersemangat saat upacara, lomba, panggung tujuh belasan… Aku berharap Koil mau menggarap lagu Madju Tak Gentar dengan teriak dan meraung.

Di masa lalu, ada lagu berjudul Nasakom Bersatu gubahan Soebronto K. Atmodjo. Telingaku belum pernah mendengar. Dulu, aku pernah jadi bakul kaset bekas, tak pernah mendapat kaset berisi lagu Nasakom Bersatu. Aku tertarik dengan lirik: “Nasakom bersatu, singkirkan kepala batu. Nasakom djiwaku, singkirkan Nasakom palsu. Nasakom satu tjita sosialisme pasti djaja!” Sangar! Aku ingin ada orang bisa melantunkan lagu ini di depanku.

Berkonfrontasi 2

Lagu-lagu di masa Orde Lama kadang identik dengan ajaran-ajaran Soekarno. Lagu Nasakom Bersatu khas pemikiran Soekarno sebagai pemikir dan penguasa. Gagasan itu telah bertumbuh sejak Soekarno menulis risalah tentang nasionalisme, Islam, Marxisme di masa 1920-an. Soekarno jadi rujukan penggubah lagu. Hebat!

Ada lagi lagu khas Soekarno, berjudul Re-So-Pim (Revolusi Sosialis Pimpinan) gubahan Soebronto K.A. Lagu revolusioner! Aku menganggap lirik lagu adalah ikhtisar pidato Soekarno: “Re-So-Pim, Re-So-Pim, revolusi Agustus empat lima. Re-So-Pim, Re-So-Pim, sosialisme tjita negara. kita tuntut pimpinan jang djudjur. Rakjat haus hidup adil makmur! Re-So-Pim….” Apakah lagu ini dilantunkan saat upacara negara atau sebelum Soekarno berpidato? Apakah ada piringan hitam atau kaset memuat lagu Re-So-Pim?

Lagu paling sangar di buku ini berjudul Ganjang Malaysia, lagu dan lirik oleh Kodar Sibarani, aransemen oleh Mochtar Embut. Lirik lagu mengandung konfrontasi!

Ganjang Malaysia, ganjang Malaysia, boneka imperialis

Ganjang Malaysia, ganjang Malaysia, kaki tangan kolonialis

Bangkitlah rakjat, bangkitlah berlawan, untuk kemerdekaan

Bangkitlah rakjat, bangkitlah berlawan, untuk kemerdekaan

Aku berharap lirik lagu ini bisa digarap seperti dangdut koplo. Konfrontasi bakal dapat sambutan joget dan suara bergemuruh. Aku tak bisa menduga akibat lirik lagu jika digarap sebagai jazz, keroncong, blues. Aku perlu keterangan orang tua, apakah lagu ini pernah ada di papan atas selera publik dalam acara tangga lagu di radio.

Sekian hari lalu, tim Indonesia dolan ke Korea Utara: bertanding sepakbola. Tim Indonesia kalah, lalu berlanjut dolan ke Cina. Tim Indonesia pasti kalah. Aku tidak sedang mengurusi sepak bola. Aku justru ingat hubungan Indonesia dan Korea Utara di masa lalu, masa 1960-an. Ada lagu berjudul Djakarta-Pyong Yang gubahan Mochtar Embut. Kamu ingin tahu lirik lagu?

Djakarta Pyong Yang sahabat

Ulurkan tangan berdjabat erat

Tak satupun dapat memisah

Bahu membahu pantang menjerah

Kobarkan api kemerdekaan

Sebarakan berita perdamaian

Djakarta Pyong Yang berdjuang

Dunia jang bebas pasti mendjelang

Ingat, lagu ini bukan lagu cinta! Lagu politik tapi menggunakan ungkapan mirip asmara: “Tak satupun dapat memisah”. Aku jadi teringat lagu-lagu cengeng Indonesia dan Malaysia. Aku sulit mengimajinasikan postur Jakarta dan Pyong Yang. Mereka berjabat tangan? Tangan tentu besar, melebihi tangan Rahwana, Hulk, Dinosaurus. Ha!

Berkonfrontasi 3

Aku mendapatkan buku ini dengan harga murah. Murah! Koleksi buku-buku lagu terus bertambah, membuatku harus rajin melihat Indoensia dengan tatapan mata berirama. Sejak lama, Indonesia memiliki jutaan lagu: mendeskripsikan dan menarasikan Indonesia.

Aku pun berkeputusan untuk membuat museum buku lagu. Lho! Pemerintah saja belum sanggup membuat museum musik. Pemerintah mau mengurusi pengumpulan buku-buku lagu? Aku saja bisa mengumpulkan buku-buku lagu, membuat tulisan atau komentar. Buku-buku itu ditata di rak sederhana, ditaruh di kamar sempit. Kamu mau pinjam?

Koleksi buku-buku lagu tentu melengkapi ikhtiarku sejak sepuluh tahun silam mengumpulkan kaset-kaset lagu. Aku tak bisa memainkan alat musik atau berdendang merdu tapi sanggup membaca lirik lagu. Telingaku juga mau mendengarkan lagu apa saja, dari blues sampai dangdut. Begitu.

Iklan