Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Subuh, 9 November 2013, orang mengetuk pintu. Aku membuka pintu, melihat ada 5 tamu. Mereka berasal dari Makassar dan Kediri, menempuh perjalanan jauh, sampai di rumahku untuk percakapan-percakapan literasi. Teh panas kusajikan. 06.30, aku membeli Jawa Pos. Mereka membaca esaiku, tampil di halaman 4. Bagiku, suguhan esai justru kenikmatan ketimbang suguhan teh, kue, nasi liwet… Mereka melahap esaiku. Sedap? Hmm…

Segala urusan sudah beres, percakapan panjang dilangsungkan. Mereka mulai memberi penjelasan, kehendak mengadakan rumah literasi di Makassar. Aku pernah mendapat sekian cerita tentang nasib sastra dan laku intelektual di Makassar dari teman-teman sastrawan asal Makassar. Aku juga pernah ke Makassar, mengerti situasi literasi. Percakapan pelbagai hal terus berlangsung sampai sore. Hari itu mengandung harapan dan khawatir demi impian rumah literasi di Makassar. Di sela obrolan, aku mengajak mereka untuk mulai membuat kliping dari koran dan majalah. Kliping. Kliping. Kliping.

Aku ingat buku berisi kliping dari koran dan majalah, 1930-an sampai 1950-an. Kliping itu terbit menjadi buku berjudul Zakelijk Proza in Bahasa Indonesia (J.B. Wolters-Groningen, 1949) susunan C. Hooykaas (CH). Buku berpenampilan sederhana, berisi puluhan kliping tentang sastra, politik, pendidikan, seni, ekonomi, pers… CH adalah tukang kliping, selama puluhan tahun membaca ratusan tulisan di koran dan majalah, memilih untuk menjadi bacaan bagi publik.

1

Pekerjaan mengliping bisa membuat orang cerdas dan terhindar dari kelaparan. Ha! CH mengakui: “Waktu saja didalam tahun 1933 membuat buku ini dari kumpulan karangan, jang saja petik dari madjalah-madjalah Sri Pustaka dan Pandji Pustaka, belumlah diketahui orang, bahwa Basa Indonesia itu akan demikian tjepatnja berkembang. Saja lebih-lebih lagi ta’ dapat menjangka-njangka, bahwa waktu saja didalam tahun 1942 kembali di Djokdja, jaitu sebagai perdjurit ‘landstorm’ dan sebagai tawanan, saja akan mendapatkan kembali buku ini dan kemudian akan mempergunakannja di Birma dan Indo-China untuk memberi peladjaran  bagi mendapatkan sepotong ikan asin dan sebutir telur bebek.” Ganjaran bagi si pembuat kliping adalah “sepotong ikan asin dan sebutir telur bebek”, menghindarkan dari kematian akibat lapar. Alhamdulillah. Kerja mengliping berarti kerja menjaga kehidupan. Wah!

Tahun berganti tahun. CH melanjutkan membuat kliping di masa 1940-an dan 1950-an, menggunakan sumber dari Gema Suasana, Mimbar Indonesia, Waspada… Buku berubah jadi tebal ketimbang terbitan 1933. Aku tertarik membaca tulisan berjudul Gandhi dan Tolstoi karangan Achdiat K. Mihardja, diambil CH dari Mimbar Indonesia, 17-4-1948. Penjelasan Achdiat K. Mihardja tentang Gandhi: “Dunia dipandangnja makin rusak, manusia makin buruk moralnja. Itulah maka Gandhi sangat menentang terhadap mesin, hasil kebudajaan rasionalisme dan materialisme, jang dianggapnja mengambang tidak berakar dibumi kesusilaan dan tjinta kasih antara sesama machluk Ilahi.” Kliping dari CH mengingatkanku ada sejenis anutan atas pemikiran-pemikiran Gandhi di Indonesia. Orang-orang membaca Gandhi tapi belum ada Gandhi di Indonesia.

2

Aku beruntung mendapat informasi tentang tukang baca di masa lalu, merujuk kliping CH dari Mimbar Indonesia, 1-5-1948. Informasi penting: “Dalam kota Djakarta sekarang ini kurang lebih 9.000 betja banjaknja. Semuanja itu adalah sebagian besar kepunjaan orang-orang Tionghoa. Semua tauke betja tersebut sebagian besar telah menggabungkan diri dalam organisasi Betja-Bond Djakarta dikota Djakarta sekarang ini.” Aku tentu bakal mendapat faedah kliping ini saat mau menggarap esai tentang sejarah becak di Indonesia.

Bagaimana nasib para tukang betja? Kliping memberi keterangan: “Marilah kita menindjau sebentar kehidupan sopir-sopir betja jang mendjadi orang gadjian atau kaum buruh dari perusahaan-perusahaan betja itu. Makannja tidak keruan, tempat pemondokannja sangat mesum, hampir-hampir bukan tempat manusia. Disamping itu terlihat beberapa orang kaum keluarganja, anak isterinja jang sedang ditimpa kemalangan serta berpenjakitan.” Nasib tukang betja di Indonesia memang tragis, bertarung di kota demi mencari nafkah. Kaki-kaki terus bergerak, keringat mengucur, roda berputar, panas menimpa tubuh. Mereka adalah pengisah Jakarta sebagai kota tragis bagi kaum miskin.

3

Kliping CH berisi pelbagai informasi. Aku menemukan bacaan tentang Cornel Simandjuntak, komponis ampuh di Indonesia. Kliping tulisan Asrul Sani ini berasal dari Gema Suasana, Juni 1948. Urusan komponis dan lakon Indonesia menjadi penting bagiku. Aku pernah menulis esai berjudul Pahlawan Bernada, tampil di Koran Tempo edisi 10 November 2013.

Asrul Sani menulis: “Pernah saja bertanja kepada Simandjuntak, mengapa ia mau membuat lagu-lagu seperti Lagu Menanam Kapas dan Ke Paberik, jang hanja semata-mata berisi bahan propaganda. Apakah ia tidak merasa, bahwa ia telah berchianat kepada dirinja sendiri sebagai seorang seniman?” Jawaban sang komponis: “Saudara, ini bukan lagi chianat, tetapi saja telah menidakan diri saja sendiri. Barang-barang bestelan ini djanganlah saudara anggap sebagai suatu hasil seni. Dalam hal ini saja sudah mendjadi seorang ‘tukang’ pembuat lagu, asal ada orang jang minta dibuatkan, saja buatkan.” Oh!

Buku berisi kliping ini menimbulkan rangsangan agar diriku membuat esa-esai bereferensi bacaan lawas, berniat mengingatkan dan menimbulkan kesan belajar dari masa lalu. Begitu.

Iklan