Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Hidup penuh teka-teki. Ah, klise! Orangtua atau orang bijak sering menjelaskan pelbagai hal tak gamblang, disampaikan melalui teka-teki. Mereka ingin menguji nalar-imajinasi orang, menginsafi kehidupan dari deretan kata berakhir tanda tanya. Apakah itu?

Buku berjudul Apakah Itu? (Balai Pustaka, 1952) susunan Aman membuatku girang. Judul pelengkap: 300 Teka-Teki. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, masihkah hidupmu berteka-teki? Saudara-saudara masih ingat teka-teki saat masih bocah? Saudara-saudara masih mengoleksi kita-kitab berisi teka-teki? Waduh! Kalimat-kalimatku selalu berakhir dengan “?” Semua akibat Aman. Buku setebal 72 halaman, berisi 300 kalimat wagu: “Apakah Itu?” Pembaca tak bakal bosan jika menemukan kalimat berulang dari Aman.

Bergirang 1

Siapa suka teka-teki? Aman menjawab: “Teka-teki adalah permainan jang menggembirakan hati bagi anak-anak. Karena itu pada umumnja semua anak-anak suka berteka-teki.” Aku sepakat dengan jawaban Aman. Jawaban itu sesuai masa laluku saat bocah. Setiap hari menjalani permainan, tak lupa saling melempar teka-teki. Aku paling ingat teka-teki klise: “Pitik walik sobo kebon?” Jawaban gampang: “nanas”.

Apa arti teka-teki di Minangkabau? Aman menjawab: “Suatu kebanggaan bagi seorang anak, bila teka-tekinja tidak dapat diterka kawan-kawannja.” Lho! “Begitupun djadi pudjian pula, bila seorang anak dapat menerka tiap-tiap teka-teki itu.” Konon, kebiasaan berteka-teki bagi bocah-bocah di Minangkabau sering berlangsung malam hari, saat mereka mau tidur di surau. Oh! Surau berarti panggung teka-teki?

Apakah faedah teka-teki? Aku tak menjawab tapi Aman menjawab: “Karena dengan tiada dirasanja, didalam bersuka-gembira bermain teka-teki itu, mereka berlatih berpikir mempertadjam ingatan, supaja teka-teki itu djangan sampai lupa dalam hati.” Seratus! Jawaban Aman benar! Tak usah tepuk tangan.

Bergirang 2

Apakah harapan Aman melalui penerbitan buku berisi 300 teka-teki? Kamu siap menerima jawaban Aman. Berdoalah sejenak agar Aman tak salah menjawab. Silakan mengucap “amin” tiga kali. Aman menjawab: “Mudah-mudahan kumpulan teka-teki jang sedikit ini dapat djuga hendaknja menggirangkan hari anak-anak.” Aku sudah besar dan tua. Aman, apakah aku boleh bergirang hati? Aman tentu tak menjawab.

Bagiku, buku ini keajaiban. Aku membeli di Pasar Johar, Semarang. Harga murah tapi mahal jika ada orang mau membeli untuk menggarap disertasi. Ha! Berapa? Aku menjawab ngawur: 1 juta. Aku tidak mau berteka-teki. Orang ingin buku ini mesti memiliki ongkos 1 juta.

Mataku berbinar, hatiku berdebar. Buku ini memang lekas membuatku kasmaran, setelah sedetik melihat. Ha! Aku pernah menganjurkan teman membaca-mengoleksi buku teka-teki Jawa. Aku malah sudah membuat dua esai teka-teki tapi belum tampil di koran. Eh, aku mendapat buku teka-teki dari Minangkabau. Hore! Aku tak bertepuk tangan meski terharu.

Detik demi detik, aku bergetar jika membaca buku berisi 300 teka-teki. Aku membaca tanpa kemauan menghafalkan. Aku tidak bocah lagi. Aku tidak tidur di surau. Buku ini aku anggap sebagai warisan agung dari masa lalu. Aku tak bisa berpaling darimu. Wah!

Teka-teki wagu: “Ada seekor binatang, djika ekornja dipotong mendjadi kata. apakah itu?” Kamu mau menjawab? Eh, aku saja menjawab: katak. Benar! Seratus! Aku memang pintar. Satu teka-teki gampang dijawab. Seribu teka-teki? Aku pasti berusaha menjawab meski salah.

Teki-teki agak romantis: “Kalau hampa dia terbenam, kalau bernas dia timbul, setiap orang mempunjai dua. Apakah itu?” Aku ingin berbagi teka-teki ini pada A. Soebandono. He, apakah kau bisa menjawab? Oh, tidak bisa? Baiklah, aku menjawab: mata. Benarkah? Ya! Aku selalu membuktikan diri sebagai orang pintar. Aku memang konsumen permen bercap “orang pintar”. Kamu tahu, cap permen pilihanku? Jawaban: “Tolak….” Aku sengaja tak memberi jawaban lengkap agar tak beriklan.

Teka-teki kejam: “Lehernja ditjekik, perutnja disajat, diapun menangis, tangisnja menggirangkan jang mendengar. Apakah itu?” Ada teka-teki mengandung kekejaman tapi menggirangkan. Aku tak kuasa menahan air mata. Kalimat itu kejam. Oh, kejam… Aman memberi jawaban: rebab. Lho!

Bergirang 3

Teki-teki intelektual: “Ada tiga bangsa jang selalu berlainan tudjuannja; jang pertama tetap datang dari kiri; jang kedua tetap dari kanan; dan jang ketiga dari atas kebawah. Apakah itu?” Siapa bisa menjawab? Aku berikan satu jam untuk merenung. Kamu bisa berdoa agar diberi kecerdasan dan kebenaran.

Aku bersabar menanti jawabanmu. Dulu, aku sering kalah dalam berteka-teki. Aku masih ingat, aku bocah umbelen dan minder jika bermain dengan teman-teman. Permainan a la lelaki membuatku sering mengalami kekalahan. Aku memilih ikut bermain dengan teman-teman perempuan, berharap menang. Mereka kadang memberi teka-teki di sela permainan. Aku jarang berani menjawab. Jawabanku pun sering salah jika terpaksa mengeluarkan kata. Kasihan… Di masa bocah, aku tak pintar.

Jawaban untuk teka-teki intelektual? Kamu sudah mau menjawab? Ha! Kamu menjawab Amerika, Kuba, Indonesia? Salah! Salah! Jawabanku politis. Aku tak memerlukan jawaban mirip ocehan politikus di gedung parlemen atau markas partai politik. Aku saja menjawab mengacu kunci jawaban dari Aman: tulisan Latin, tulisan Arab, tulisan Tionghoa. Jawaban ini pasti benar. Begitu.

Iklan