Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Sejak masa 1940-an, ada penulis bernama Kwee Boen Hian menulis puluhan buku dengan judul-judul biasa. Kekhasan judul adalah berakhir dengan “?”. Barangkali, sejak kecil Kwee Boen Hian memiliki tanda “?” di tubuh, berakibat memiliki pemikiran atau renungan bermula-berakhir dengan “?”. Aku cuma menduga saja. Pengarang itu hidup di masa 1940-an, masa dengan “?”.

Aku kagum melihat judul dan jumlah buku karangan Kwee Boen Hian. Buku-buku itu dicetak oleh The Paragon Press, Malang. Sekian judul buku: (1) Apakah Takdir Itu Ada? (2) Apakah Djodoh Itu Ada? (3) Apakah Redjeki Itu Ada? (4) Apakah Dosa Itu Menurun? (5) Apakah Artinja Suami-Istri? (6) Apakah Artinja Pendidikan? (7) Apakah Artinja Rumah-Tangga? (8) Apa Perlunja Kebatinan? (9) Apa Perlunja Hidup? (10) Apakah Dunia Rumah Gila? (11) Kapankah Uang Tidak Berpengaruh?

Semoga kamu tidak bosan membaca judul-judul berakhir “?”. Aku justru tergoda untuk membuat esai mengenai sejarah penggunaan “?” dalam judul-judul buku di Indonesia. Apakah “?” pernah bermakna ideologis, teologis, filosofis? Waduh, aku terlalu berprasangkan untuk “?”  Aku harus mengumpulkan ratusan buku untuk meneliti “?”.

Buku Apakah Pembalasan Itu Ada? Karangan Kwee Boen Hian pernah terbit di tahun 1942. Aku memiliki cetakan kedua, 1951. Pesan penulis: “Mudah-mudahan buku ini dapat membantu memberikan penjuluhan batin kepada para pembatjanja, sehingga masing-masing akan dapat mengerti lebih baik tentang djlannja hukum (wet) hidup batin!” Oh, buku ini berkhasiat. Di judul menggunakan “?” tapi saat berpesan menggunakan “!”.

Eh, aku susulkan pesan menggunakan “?”. Simaklah: “Orang jang susah malah tertambah kesusahannja, jang melarat tinggal dalam kemelaratan; sebaliknja jang beruntung teruruk dengan keberuntungan. Kenapakah ‘hukuman’ dan ‘gandjaran’ tidak dibagi rata antara sesama machluk Ruhan?” Semoga kamu tetap tak bosan menghadapi “?”. Kwee Boen Hian memang penulis berjuluk “?”.

Penjelasan-penjelasan mengenai pembalasan menggunakan referensi dari Jawa, Tionghoa, Perancis, … Cerita-cerita lama disajikan, ditafsirkan dan dibuat simpulan. Pembalasan selalu ada, dari urusan sepele sampai urusan berat. Kwee Boen Hian mengajak pembaca merenungi nasib para tokoh dalam sejarah dan fiksi agar ada keinsafan untuk memperhitungkan perbuatan baik dan buruk.

Segala perbuatan memiliki balasan. Aku tak membantah meski memerlukan renungan-renungan njlimet. Kwee Boen Hian membutkikan pembalasan memang ada, bergantung perbuatan manusia. Bukti-bukti itu membuat manusia mawas diri. Kwee Boen Hian berlanjut memberi renungan: “Maka sekarang perlu ditanja, bagaimanakah orang hidup ini harus berlaku supaja bisa selaras dengan kehendaknja Tuhan, hingga selalu akan menerima pembalasan jang baik, jang enak, jang selamat, jang beruntung, dan sebagainja?” Renungan mengandung “?” membuatku ingin merenung seribu tahun.

Buku setebal 60 halaman ini tentu menjadi bacaan “berat” di masa 1940-an. aku menduga pembaca buku Kwee Boen Hian adalah kaum theosofi. Di Malang, Semarang, Solo… memang memiliki ratusan penganut theosofi, sejak awal abad XX. Buku berjudul Apakah Pembalasan Itu Ada? menjadi referensi keberadaan gerakan theosofi di Indonesia, dari masa ke masa.

IMG

Aku sudah tertarik mengetahui theosofi di Jawa sejak enam tahun lalu. Sekian buku dan majalah telah jadi bacaan penting, memberi pengertian dasar tentang sejarah dan pengaruh gerakan theosofi, dari kalangan pergerakan politik sampai pengarang. Tokoh-tokoh dalam sejarah politik dan intelektual di Indonesia sering bersinggungan dengan theosofi. Aku ingat Radjiman Wediodingrat, Soekarno, Tjipto Mangoenkoesoemo, Ki Hadjar Dewantara… Oh, gerakan theosofi itu penting dalam sejarah Indonesia?

Aku berlanjut ke penjelasan Kwee Boen Hian tentang waktu kedatangan pembalasan. Penjelasan bermula dari kalimat menggunakan “?” Kwee Boen Hian menulis: “Kapankah datangnja pembalasan itu?” Kwee Boen Hian menjawab: “Datangnja pembalasan itu, seperti djuga muntjulnja buah dari tiap-tiap pohon, ada waktunja, ada temponja sendiri-sendiri.” Jawaban agak puitis.

IMG_0002

Kamu ingin penjelasan lanjutan? Aku berikan kutipan wagu: “Ada pembalasan jang datangnja lambat, ada djuga jang datang tjepat. Ada jang seolah-olah ‘kredit’, dapaun jang seakan-akan ‘kontan’”. Wah, ada dua sistem dalam urusan pembalasan. Kamu pilih kredit atau kontan? Aduh, aku jadi ingat temanku, repot menjalani kredit motor.

Eh, mengapa tak ada toko buku menjalankan usaha dengan memperkenankan pembeli mengunakan sistem kredit? Pemilik buku itu tentu pengusaha bertiket sorga jika memberlakukan kredit tanpa bunga. Apalagi jika tak menagih pembeli saat ditimpat kemelaratan sepanjang masa.

Di halaman akhir buku, Kwee Boen Hian memberi pesan kecil: “Jang dinamakan pembalasan itu jalah akibat dari sesuatu perbuatan. Oleh karenanja jang penting bagi sesuatu orang, djika mau petik buah jang manis, terlebih dahulu mesti mentjari bibit jang baik.” Aku mengerti, berharap dapat menemukan bibit-bibit baik untuk ditanam di halaman rumah. Semoga benih itu berbuah seribu buku. Aku bakal mengajak teman-teman turut memanen. Mereka tentu senang, memanjat pohon dan memetik buku. Begitu.

Iklan