Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Esais di Solo, mencari dan mengoleksi buku-buku Al Ghazali. Gairah belanja buku-buku lawas, terjemahan buku-buku Al Ghazali ke bahasa Indonesia dilakukan hampir setiap hari. Puluhan buku telah terkumpul, perlahan dibaca dan diceritakan ke teman-teman. Esais bernama M. Fauzi Sukri terus mempelajari Al Gahzali. Lacak di internet dilakukan, menghasilkan penemuan tulisan-tulisan tentang Al Ghazali dalam edisi bahasa Inggris. Konon, puitis dan filosofis ketimbang edisi bahasa Indonesia.

Aku sering mendengar interpretasi M. Fauzi Sukri atas pemikiran-pemikiran Al Ghazali. Obrolan di Bilik Literasi untuk novel Brida karangan Paulo Coelhoe mendapat sisipan Obrolan tentang “detektif” dan “curiga” juga mengikutkan referensi Al Ghazali. Aku menganggap M. Fauzi Sukri sudah “mencandui” Al Ghazali.

Aku justru ingat pengalamanku bertemu buku terjemahan Al Ghazali berjudul Kimia Kebahagiaan, terbitan Mizan. Buku kecil, sering mengalami cetak ulang. Aku meminjam buku itu di perpustakaan SMA. Buku itu ada di lemari agama. Aku mengambil dengan dugaan bakal mendapati hikmah: berbahagia. Dugaanku salah. Oh! Buku itu memberiku “!” dan “?”. Buku Al Ghazali tak lekas membuatku bahagia.

Sekarang, aku memiliki puluhan buku Al Ghazali dan buku-buku ulasan pemikiran Al Ghazali. Aku ingin mengingat buku Al Ghazali berjudul O, Anak! (Nazaroeddin Ghani, Batavia-Centrum, 1937). Buku ini disalin ke bahasa Indonesia oleh M. Zain Djambek. Buku langka meski orang-orang jarang tertarik. Buku terjemahan O, Anak juga diterbitkan oleh Tintamas. Aku memiliki juga buku terbitan Tintamas, buku berukuran kecil. M. Fauzi Sukri tentu memiliki edisi Tintamas.

Al Ghazali 1

Buku terbitan tahun 1937 berukuran besar tapi tipis. Di halaman awal ada penambahan keterangan: “Kepoetoesan Kadji dari Imam Al Ghazali Kepada Seorang Moerid.” Buku ini semula surat, berisi penjelasan-penjelasan tentang agama dan hakikat hidup. Al Ghazali mendapati surat-renungan dari murid. Al Ghazali pun memberi jawab. Surat-surat di masa silam berisi hal-hal berat, berkaitan dakwah dan tafsir ajaran agama. Aku juga sudah mengoleksi buku berisi surat-surat Al Ghazali untuk para penguasa, terbitan Mizan. Surat-surat memang berkhasiat, memicu pengaruh besar, dari iman sampai kekuasaan.

M. Zain Djambek menjelaskan: “… biarpoen soerat itoe ditoelis oleh Imam Al Ghazali hanja oentoek moerid jang seorang itoe, tetapi didalamnja banjak termaktoeb perkara jang patoet mendjadi pengetahoean dan perbandingan bagi tiap-tip orang jang ingin menoentoen kehidoepannja diatas djalan kesoetjian batin jang tinggi. Moedah-moedahan salinan kebahasa Indonesia ini dapat menolong sekedarnja memoedahkan djalan dan menambah besarnja golongan jang dapat mengambil faedah dari padanja.” Aku berdoa, semoga M. Zain Djambek mendapat pahala berlimpah dari Allah. Amin. Kerja menghadirkan buku Al Ghazali ke bahasa Indonesia adalah pekerjaan mulia. Aku masih menanti keterangan dari M. Fauzi Sukri mengenai buku awal Al Ghazali dalam terjemahan bahasa Indonesia. Judul? Siapa penerjemah? Penerbit?

Al Ghazali 2

Al Ghazali memang ulama dan filosof besar, berjuluk “Hoeddjatoel Islam”. Di sampul buku, aku melihat gambar Al Ghazali: berambut gondrong, berkumis, berjenggot. Eh, berkepala botak? Aku sulit menerima gambar Al Ghazali dengan kepala botak. Orang-orang mungkin menganggap lazim: filosof tentu sering kehilangan rambut setiap hari akibat berpikir berat. Filosof tak harus botak. Aku berimajinasi: semakin lebat rambut filosof, semakin tampak kata-kata menempel di setiap helai rambut. Kepala filosof tak berkutu atau berketombe tapi “rimbun huruf”. Aku sulit jadi filosof meski sudah berambut gondrong, berkumis, berjenggot. Ada ketombe di “hutan rambut” meski aku sudah sering keramas. Aku pun tak pernah mendapati huruf-huruf berjatuhan dari kepalaku saat membilas rambut setelah keramas.

Al Ghazali menjelaskan: “Djanganlah engkau sampai hidoep miskin dari amalan dan kosong dari kemaoean bekerdja, dan jakinlah bahwa ilmoe itoe semata-mata tidak akan menjelamatkan orang.” Apa maksud perkataan Al Ghazali? Ilmu tak selalu menjamin keselamatan. Aku merenung sejenak sambil mendengarkan lagu-lagu dari Sore. Oh, aku mengerti.

Al Ghazali 3

Pesan Al Ghazali: “Dan djikapoen seratoes tahoen engkau doedoek membatja menoentoet ilmoe dan seriboe boekoe engkau himpoenkan, tidaklah engkau akan dapat bersedia menerima rahmat Allah melainkan dengan amal djoea.” Aku belum pernah mendapat kutipan ini saat ikut pengajian atau duduk gelisah saat mendengarkan khobah edisi Jumat. Apakah para khotib tak membaca buku-buku Al Ghazali? Aku menduga mereka membaca tapi tak memilih tema tentang ilmu dan literasi.

Kritik dari Al Ghazali membuatku melamun. “Seratoes tahoen engkau doedoek membatja…” Ah, orang itu pasti sudah jadi patung dan berlumut. Fantastis! Seabad membaca. Orang itu tentu bakal memiliki rambut panjang dan rimbun. Sekujur tubuh bisa tertutup oleh rambut, jenggot, kumis. Jutaan huruf menempel di tubuh, menggantikan baju. Siapa ingin seabad membaca buku?

Di ujung surat-renungan, Al Ghazali berpetuah agar orang-orang membaca Ihja-oe ‘Oeloemoeddin, kitab ampuh. Keterangan Al Ghazali: “Ilmoe ini fardoe-‘ain dan jang lainnja fardoe-kifajah, ketjoeali sekadar jang dengan dia dapat dengan saksama dipenoehi amal jang wadjib kepada Allah…” Aku tak merugi membaca buku-buku Al Ghazali. Buku filosof itu bersamaku sejak diriku masih lugu sampai aku menjadi lelaki gondrong dan wagu. Begitu.

Iklan