Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Buku mempengaruhi kebahagiaan orang. Aku bisa menduga para pembaca buku-buku motivasi adalah orang-orang tak berbahagia, mencari kalimat-kalimat sakti di halaman-halaman mengandung kebohongan. Mereka mendamba kebahagiaan. Lihatlah, orang-orang itu ke toko buku, mendatangi rak berisi buku-buku berjudul jelek tapi menggoda mata “kaum sengsara”. Buku itu dibeli, memberi rangsangan bagi pembaca bersemangat menjalani bisnis, pekerjaan, pendidikan, asmara. Mereka bisa hampir bahagia oleh kalimat-kalimat, berlanjut pamer kalimat itu ke orang-orang dengan omongan, mengirim pesan pendek ke ribuan orang, menaruh kalimat di FB. Tuhan, berikanlah kebahagiaan sebagai tema bertanda seru bagi mereka. Amin.

Aku adalah lelaki “penjual” kebahagiaan. Wah! Aku tak bermaksud “berbisnis bahagia” seperti para motivator di hotel, kampus, radio, televisi. Aku itu “penjual” dengan pengertian menjajakan buku-buku sebagai bacaan orang-orang agar berbahagia. Pembaca tak harus patuh oleh kalimat-kalimat sakti atau bersombong dengan istilah dari bahasa Inggris untuk mengubah nasib. Buku-buku koleksi dan daganganku berisi kebahagiaan sebagai cerita, melampaui kalimat-kalimat jelek milik para motivator.

Di masa lalu, kebahagiaan adalah milik murid-murid di Sekolah Rakjat. Mereka disuguhi buku bacaan berjudul Pantjaran Bahagia II (W. Versluys, Jakarta, 1952),, karangan Sutan Sanif. Buku itu jadi bacaan harian di sekolah dan rumah. Mereka selalu kena pancaran bahagia. Nasib mereka berbeda dengan murid-murid SD di masa sekarang. Mereka sering mendapat pancaran sengsara akibat perintah guru dan orangtua agar mendapat peringkat 1, fasih berbahasa Inggris, pintar menggunakan perangkat teknologi… Mereka juga tidak bakal mendapat buku Pantjaran Bahagia. Buku ini sudah tidak digunakan lagi di sekolah. Buku ini adalah memori milik orang-orang dari masa lalu.

Pantjaran 1

Apa isi buku Pantjaran Bahagia? Buku setebal 144 halaman ini berisi cerita dan gambar. Oh! Pengarang menjamin bahwa pembaca tak kehabisan hak berbahagia. Pembaca juga boleh membagi kebahagiaan itu ke orangtua, guru, tetangga, pejabat, koruptor, artis… Kebahagiaan itu cerita dan gambar, tak cuma kalimat-kalimat bergelimang dusta dari pengoceh di depan ribuan orang. Pengoceh itu mengaku membuat kalimat-kalimat sakti, minta upah dan tepuk tangan. Adegan digenapi dengan foto bersama. Aduh!

Sutan Sanif memberi pesan dan harapan bagi pembaca buku Pantjaran Bahagia: “Mudah-mudahan buku ini mendatangkan bahagia kiranja.” Kalimat biasa tapi mengena ketimbang kalimat jelek dan berlimpah istilah asing dari para motivator. Sutan Sanif bukan motivator. Pengarang buku ini tak berhasrat mengeruk uang dari acara-acara dramatis tapi ironis di televisi, hotel, kampus. Aku tentu memilih membaca Pantjaran Bahagia ketimbang melongo, menangis, bertepuk tangan dengan para motivator berpakaian necis.

Pantjaran 3

Aku ingin berbagi petikan cerita tentang taman kota. Orang-orang kota sering sengsara, membeli “kebahagiaan” di mal, kafe, hotel… Aku ingin mereka turut membaca petikan cerita karangan Sutan Sanif. Pak Jokowi juga boleh ikut membaca.

“Pada hari Sabtu jang lalu, aku bertemu dengan si Halimah berserta beberapa orang temannja ditaman bunga. Pada waktu itu telah kumulai membitjarakan tentang hal itu. Masih ingatkah kau Halimah, apa jang kukatakan beberapa hari jang lalu?”

Sahut si Halimah: “Entjik telah berkata, bahwa didalam kota berkumpul manusia jang tak sedikit bilangannja. Oleh karena tempat bersesak-sesak, haruslah didjaga supaja kesehatan penduduk djangan terganggu.”

“Apakah salah satu dari pada usaha itu?

“Demikianlah misalnja, ditengah-tengah kota sengadja diperbuat taman bunga jang luas dan jang terpelihara baik-baik.”

Kota memerlukan taman. Jutaan orang di kota bersaing mencari uang, hidup tergesa dan tegang. Mereka mesti menjaga kesehatan agar berbahagia. Kesehatan sulit didapat di kantor, pabrik, toko, mal, gedung parlemen… Mereka bisa menghibur diri dengan berkunjung ke taman bunga. Apakah taman-taman ada di kota? Di Solo, Jokowi pernah mengadakan tamanisasi, bersambung ke Jakarta. Taman-taman di Solo sudah tak keruan sejak ditinggal Jokowi. Lha, nasib taman-taman di Jakarta? Aku tak tahu. Semoga taman-taman itu bisa membuat orang-orang kota berbahagia meski semenit.

Pantjaran 2

Pelajaran bahagia di buku Pantjaran Bahagia mengandung pelbagai hal, dari ilmu sampai pengalaman. Ada cerita tentang dua tokoh naik kereta api, menempuh perjalanan jauh, dari kota ke kota. Perjalanan bahagia, dibuktikan dari percakapan mereka.

Waktu mereka melewati tjandi Prambanan, Abdullah berkata: “Lihatlah tjandi itu! Meskipun umurnja telah beribu tahun, tetap masih kuat. Sebabnja tak lain karena dasarnja kukuh kuat. Oleh sebab itu kemadjuan bangsa kitapun harus mempunjai dasar jang kukuh kuat. Ilmu, ilmu… jang berguna untuk memadjukan perusahaan-perusahaan bangsa kita, perlu dipeladjari.”

Percakapan itu mengingatkan misi mempelajari ilmu: kemajuan bangsa. Kemajuan berarti kebahagiaan. Ilmu dipergunakan untuk bahagia. Di Indonesia, ilmu digunakan untuk menjadi pejabat, pegawai negeri, korupsi, membeli mobil-mobil mewah, belanja ke Singapura dan Eropa… Ilmu tak mengantar orang ke kebahagiaan. Mereka berilmu untuk sengsara. Ha!

Aku berharap ada orang atau institusi mau menerbitkan ulang buku Pantjaran Bahagia bisa dicetak ulang dan dibagi ke “kaum sengsara”. Mereka adalah caleg, artis, koruptor, calon presiden… Mereka pantas membaca buku Pantjaran Bahagia dan mengamalkan dengan biasa-biasa saja, tak usah meniru ulah para motivator atau umat motivasi. Begitu.

Iklan