Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

21 November 2013, Kompas dan Koran Tempo memberitakan bentrokan antara tentara dan polisi di Karawang, Jawa Barat. Aku cuma membaca berita, tak melihat di televisi. Apakah ada siaran langsung untuk peristiwa perkelahian? Aku tak mau berurusan dengan siaran langsung jika berisi adegan memukul, menendang, memaki. Aku berdoa siaran langsung untuk pertandingan sepak bola saja. Lho! Pidato SBY, rapat di DPR, kongres partai politik, kunjungan capres ke desa? Ah, tak usah. Aku berdoa agar siaran langsung tak menjadi ulah bertuah uang melimpah. Aku malah berpikir siaran langsung? Eh, penting. Penting!

Imajinasi perkelahian sering menampilkan wajah sangar, tubuh-tubuh tegang, omongan tak keruan…. Aku takut berkelahi. Wajahku sangar, tatapan mataku tajam, penampilanku hampir preman. Semua ciri itu tak memberiku alasan mau berkelahi. Sejarah hidupku ingin terhindar dari perkelahian. Dulu, aku juga ingat tentang petuah simbok agar aku jangan bermimpi jadi tentara atau polisi. Simbok takut jika aku menjadi lelaki sangar.

Aku ingin mengingat tentara di Indonesia, masa 1950-an. Ada buku kecil, di sampul tampak gambar dua tentara lucu: tentara bertubuh ceking tapi tinggi dan tentara bertubuh gendut tapi pendek. Mereka bernama Dul Djangkung dan Mat Pendek. Dua nama itu adalah judul buku terbitan Kementerian Pertahanan, Bagian Penghubung Masjarakat-Angkatan Perang, 1950. Buku berjudul Dul Djangkung dan Mat Pendek tidak berisi ajaran atau pedoman perkelahian. Buku ini mengajak tentara di Indonesia agar tertawa. Ha! Aku tak cuma terkejut tapi ingin ikut tertawa. Ha… Ha… Ha… Ha… Buku memang berisi cerita humor dengan gambar-gambar dari Subagyo P.

Tentara 1

Redaksi menjelaskan: “Maksud daripada menerbitkan buku ini ialah menggambarkan duka dan suka perdjurit selama revolusi… Sebagaimana maklum tudjuan penerbit risalah ini, agar supaja buku ketjil ini mendjadi penghibur hati.” Aku semakin memiliki imajinasi mengandung tawa jika mengingat tentara atau prajurit di masa lalu. Sekarang, tentara masih bisa tertawa? Mereka harus mendapat pengajaran tertawa agar ikhlas menjalankan tugas negara sambil tertawa.

Di halaman 3 ada percakapan lucu, disertai gambar mengundang prihatin dan tawa sepanjang 10 meter. Percakapan berjudul Djenggot Revolusi.

Mat: “Merdeka! Aman Dul… Lho kenapa pipi dan dagumu itu?

Dul: “Karena ingin djenggot! Sudah kukeruk-keruk sampai begini, belum djuga

         mau tumbuh. Zonder djenggot dan kumis, revolusi kurang serem Mat!”

Oh! Revolusi itu berisi orang-orang berjenggot? Ah, aku jadi memiliki gambaran terang bahwa kaum revolusioner di Indonesia tentu tak berbeda dengan tampang Che Guevara atau Fidel Castro. Revolusi tak memerlukan lelaki necis, parlente, pesolek… Aku juga memiliki jenggot dan kumis. Aku berarti lelaki revolusioner. Sip!

Tentara 3

Ada cerita lucu lagi di halaman 13, berjudul Piknik. Aku menjamin para tentara bakal tertawa dan enggan berkelahi di jalanan dengan alasan sepele. Tertawa itu kemuliaan ketimbang tawuran atau bentrokan berdarah.

Dul: “Berapa kekuatan musuh Mat?”

Mat: “4 orang laki-laki, 4 wanita, 7 sepeda, 1 dapur-dapuran, 8 piring, 1

         kerandjang makanan, 2 kodak, dan… semua baru berpakaian mandi!”

Dul: “Goblog, itu orang berpiknik!”

Ha! Aku menganggap humor penting dalam pendidikan tentara. Tertawa tentu penting, setara dengan lari, mengangkat beban, bergulung di lumpur… Aku bisa memberi saran ke elite tentara agar membuat kurikulum berisi pendidikan humor, bertujuan mengolah kepekaan dan kualitas tawa di kalangan tentara. Humor bisa meredakan duka lara, memberi perspektif ganjil dalam menghadapi situasi.

Tentara 2

Buku ini harus dicetak ulang, dibagikan ke ribuan tentara di Indonesia. SBY bisa membuat keputusan presiden, berisi perintah melakukan pencetakan buku berjudul Dul Djangkung dan Mat Pendek. Perintah itu penting ketimbang pembelian alat perang dengan harga miliaran rupiah. Alat perang dibeli dari negara-negara asing, dipakai sebulan sudah rusak. Buku adalah senjata paling ampuh agar tentara tak bersedih. Buku Dul Djangkung dan Mat Pendek menjadi penghibur hati.

Di halaman 16, ada cerita mengharukan dan membuatku tertawa enam menit. Cerita tentang tentara “keok” oleh istri. Cerita mengandung sejarah dan aspek manusiawi tentara.

Mat: “Hai Dul, konjol semua kau, kenapa?”

Dul: “Dapat gempuran model Westerling dari istriku…. Lebih dari 40.000 korab

         dibadanku!”

Tubuh tentara jadi sasaran serangan istri: memar dan terluka. Kasihan. Dul Djangkut mengibartakan serang istri mirip serangan Westerling. Sadis! Ha… Ha… Ha… Aku justru tergoda ingin mengetahui kehidupan asmara dan keluarga di kalangan tentara. Apakah di hadapan perempuan atau istri ada keminderan? Tentara takut istri? Tentara terkapar oleh pukulan istri? Oh, tentara, nasibmu tak beruntung….

Aku berharap bisa membuat esai panjang mengenai tentara dan humor. Buku ini menjadi referensi pokok, diimbuhi buku-buku bertema tentara. Aku juga perlu membaca biografi para tokoh dalam sejarah militer di Indonesia. Esaiku pasti wagu. Aku ingin mengirim esai itu ke … Buku ini terlalu penting untuk mengisahkan lakon tentara di masa revolusi. Begitu.

Iklan