Tag

, , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Siapa mengenal Utuy Tatang Sontani? Siapa membaca buku-buku Utuy T. Sontani? Para peminat sastra tentu bisa menjawab bahwa mengenal dan membaca buku-buku Utuy T. Sontani (UTS). Sebutkan buku-buku karangan UTS! Waduh, mirip soal ujian bahasa Indonesia. Apakah aku boleh menjawab? Semoga jawabanku benar dan mendapat nilai 100. Amin. Buku-buku karangan UTS: Suling (1948), Bunga Rumah Makan (1948), Tambera (1949), Orang-Orang Sial (1948), Awal dan Mira (1951), Manusia Iseng (1951), Di Langit Ada Bintang (1955), Selamat Jalan Anak Kufur (1956), Si Kampeng (1964). Benar!

Siapa membaca buku Dua Lusin Dongeng? Apa hubungan buku itu dengan UTS? Bersabarlah, tak usah tergesa menggugat. Buku itu berisi dongeng-dongeng dari La Fontaine, sastrawan agung asal Prancis. UTS berhubungan dengan buku dari La Fontaine. Maksudmu?

IMG_0007

1949, Norrdhoff-Kolf N.V. (Jakarta) menerbitkan buku berjudul Dua Lusin Dongeng karangan La Fontaine. Ada keterangan di bawah judul: ‘Ditjeritakan lagi dalam bahasa Indonesia oleh Utuy T. Sontani.” Keterangan ini fakta! UTS memiliki hubungan dengan La Fontaine. Siapa memiliki buku Dua Lusin Dongeng? Para pembaca dan kolektor mungkin belum pernah melihat, membaca, memiliki buku Dua Lusin Dongeng. Aku cuma menduga, tak bermaksud meremehkan.

Siapa La Fontaine? Ida Sundari Husein dalam buku Mengenal Pengarang-Pengarang Prancis: Dari Abad ke Abad (Grasindo, 2001) memuat penjelasan cukup lengkap. Jean de la Fontaine menerbitkan kumpulan dongeng berjudul Contes et Nouvelles, berbentuk puisi. dongeng-dongeng itu dikutip dari Boccacio dan Arioste. 1668, La Fontaine berusia 47 tahun, menerbitkan buku Recueil des Fables. Buku ini menjadikan nama La Fontaine terkenal di dunia. UTS membaca dan tertarik dengan dongeng-dongeng La Fontaine? UTS membuktikan dengan “ditjeritakan lagi”, terbit jadi bacaan publik di Indonesia. UTS berarti termasuk berjasa mengenal sastra Prancis di Indonesia.

IMG_0013

Apakah kamu berminat membaca hasil “penceritaan lagi” oleh UTS? Aku mau berbagi kutipan-kutipan agar kita tak lupa bahwa UTS adalah “penerjemah”. Di halaman 14, ada dongeng berisi nasihat, berjudul Petani dan Anak-Anaknja.

Petani jang kaja sebelum meninggal dunia

memberikan wasiat kepada anak-anaknja:

“Tanah kita harus kaupelihara,

bagaimanapun djuga djangan didjual,

sebab didalamnja ada harta mahal

jang tidak kutahu dimana dipendamnja.

Asal kalian bekerdja keras,

djangan setapak tanah tidak ditjangkul

akan nanti harta itu nampak timbul

diwaktu padi menguning emas.”

Setelah petani meninggal dunia,

semua anaknja mentjangkul tanah;

disana-sini dimana-mana, sehingga

dalam setahun pekerdjaan mereka

lebih banjak dari tahun jang sudah,

padahal harta tak terdjumpa sadja.

Tapi tiadakah terpikir oleh mereka

ketika mendengar wasiat dari bapanja,

bahwa pekerdjaan mereka itupun

adalah harta bertimbun-timbun?

Aku lekas mengerti nasihat dalam dongeng. Para pembaca mungkin bisa menganggap nasihat klise. Aku memang juga menganggap klise tapi tergoda untuk mencari alasan UTS memilih menceritakan lagi dongeng tentang tanah dan kerja keras. Siapa membaca dongeng-dongeng La Fontaine di masa 1940-an dan 1950-an? Apakah mereka tertarik menempatkan pesan dalam dongeng La Fontaine di situasi politik-ekonomi dan revolusi Indonesia? Aduh! aku terlalu mencari makna politis. Ingat, buku ini berisi dongeng, tak condong mengurusi politik atau ekonomi. Oh! Aku pun mengerti bahwa nasihat itu penting dalam dongeng meski ditulis oleh La Fontaine ratusan tahun silam.

IMG_0020

Di halaman 36, ada dongeng berjudul Singa Dibawah Kaki Manusia. Judul sangar tapi pantas jadi rujukan mencari nasihat atau pesan moral.

Sebuah gambar melukiskan singa jang besar amat

terguling ditanah dibawah kaki seorang manusia,

menimbulkan rasa bangga bagi para peminat.

Tapi singa jang melihat itu gambar,

berkata: “Kulihat disini, hai manusia,

engkau mendapat kemenangan bersinar-sinar!

Memang berbuat apa djuga boleh dengan bebas,

tapi kalau ada pelukis diantara singa,

hak kami atas kemenangan akan lebih luas.”

Manusia memang makhluk sombong, pamer bisa mengalahkan singa. Dongeng tentang manusia dan singa mengingatkanku dengan lukisan Raden Saleh. Apakah dulu Raden Saleh membaca dongeng-dongeng La Fontaine saat berkelana di Eropa? Aku tentu tak bisa menjawab.

Buku Dua Lusin Dongeng adalah persembahan La Fontaine untuk pembaca di Indonesia, diusahakan oleh UTS. Mengapa UTS memilih menerjemahkan dongeng-dongeng La Fontaine? Apakah ada keinginan mengasah kemampuan mendongeng, merujuk ke sastra Prancis dibandingan dongeng-dongeng di Indonesia?

Buku ini pantas dicetak lagi agar pembaca tak melupakan UTS sebagai “penerjemah”. Sejak lama, kita mengakui UTS adalah “pendongeng” hebat. UTS turut memberi andil dalam kesusastraan modern di Indonesia meski menanggung “rindu” dan “sengsara” di Rusia. UTS adalah pengarang jauh dari tanah air. Aku selalu sedih jika membaca biografi UTS dan mengenang makam pengarang ampuh itu di negeri asing. UTS ada di situasi ideologis tak keruan saat sastra di Indonesia berbau pamrih-pamrih kekuasaan, berkonfrontasi demi dominasi paham. Aku selalu mengingat UTS, mengingat risiko bersastra. Begitu.

Iklan