Tag

, , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

2 Desember 2013, sejarawan Solo dolan ke Bilik Literasi. Lelaki ganteng itu membawakankan laporan berjudul Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa di Masa Orde Baru. Laporan tebal berisi pengisahan lisan dari orang-orang Colomadu, 1930-1960. Mereka berkisah masa lalu mengenai pertanian, pabrik, politik… Aku terharu mendapat sajian sejarah berkaitan Colomadu. Aku lahir dan besar di Colomadu, enggan berpindah kota.

Kita bercakap tentang pelbagai hal, mulai dari koran sampai sejarah. Ada selingan-selingan obrolan tentang buku, dokumentasi, perpustakaan. Peristiwa makan malam di warung, menu bebek goreng, memberi rangsangan memikirkan hal-hal besar. Wah!

Lelaki bernama Heri Priyatmoko itu sejarawan ampuh, menulis esai-esai apik, pelbagai tema. Esai-esai disajikan dengan bahasa tak memberat, gemulai dalam memberi pesan. Ha! Ratusan esai telah dipersembahkan untuk mengisahkan Solo. Sekian tahun silam, sejarawan itu pernah menulis esai tentang Radya Pustaka. Ingatanku berlanjut dengan membaca ulang buku berjudul Nawawindu Radya Pustaka (1960).

111

Prijono selaku Menteri Pendidikan, Pengadjaran, dan Kebudajaan memberi sambutan: “Usia  72 tahun sungguh-sungguh memberikan bukti keuletan, ketekunan dan kesungguhan kerdja Jajasan Paheman Radyapustaka tersebut dalam menjelenggarakan usaha-usahanja berupa museum, perpustakaan, kursus-kursus kerawitan, pedalangan, bahasa kawi dan lain-lain. Saja jakin, bahwa dalam djangka waktu jang pandjang itu tidak sedikitlah djasa-djasa jang telah diberikan oleh Radyapustaka kepada masjarakat, terutama dalam bidang kesenian, perpustakaan dan kesusasteraan.” Penjelasan dari pejabat memang sering berisi hal-hal baik. Ramalan Prijoni meleset! Museum Radya Pustaka di abad XXI tampak memprihatinkan. Lho!

Museum di pinggir Jalan Slamet Riyadi itu sepi, jarang menjadi tema dalam percakapan publik. Museum memang pantas bernasib apes. Aku jarang mendapat pikat saat berkunjung ke sana. Aku dan teman-teman pernah mengadakan acara sastra di Museum Radya Pustaka meski sulit menguak historisitas literasi di Solo. Greget hampir tak ada. Aneh. Museum itu masih ada meski hampir terlupakan. Ikhtiar membenahi sistem pengelolaan dan renovasi belum bisa mengundang publik untuk berkunjung atau belajar bersama buku-buku lawas. Di museum, ada benda-benda bersejarah. Aku sering memandang tanpa godaan naratif.

IMG_0002

Keberadaan Radya Pustaka sering berpindah tempat, sejak akhir abad XIX. Kalangan keraton terlibat dalam pendirian dan perkembangan Radya Pustaka. Keterangan tentang kegiatan di masa lalu: “Pada tiap-tiap Rebo malam Radya Pustaka mengadakan musjawarah tentang beraneka warna ilmu dan kesusasteraan Djawa, bertempat dibalai Antisana Kapatihan; Perpustakaan dan museumnja ditempatkan dibalai Pantiwibawa sebelah utara, terbuka untuk umum, tetapi karena letaknja didalam rumah-halaman Pepatihdalem itu, djarang jang mengundjunginja, orang banjak pada waktu itu merasa takut-takut segan.” Sekarang, orang-orang juga masih “merasa takut-takut segan” untuk mengunjungi Museum Radya Pustaka.

Aku pernah bercakap dengan dosen dan intelektual di Jogja. Lelaki kurus tapi cerdas itu senang saat aku sodori buku mengenai bahasa Jawa ejaan Sriwedari. Buku itu mendapat penjelasan dalam agenda-agenda Radya Pustaka di masa lalu: “Pada tanggal 9 Desember 1922 mengadakan musjawarah dengan Pemerintah Kasunanan, Kasultanan, Mangkunegaran, Pakualaman, Departemen O dan E P.G.H.B. dan P.G.B. untuk menjatukan tjara menulis Djawa. Putusan musjawarah ini disampaikan kepada gupermen dan selandjutnja diresmikan, terkenal dengan nama Edjaan Sri Wedari.”

IMG_0003

    Peran Jajasan Paheman Radyapustaka turut mengenalkan Solo sebagai “kota pustaka”. Aku tergoda membaca Anggaran Dasar Jajasan Paheman Radya Pustaka: “Jajasan ini didirikan untuk waktu jang tak tertentu lamanja dan dianggap telah mulai pada tanggal tudjuhbelas Agustus tahun seribu sembilanratus limapuluh tiga, sebagai pendjelmaan dari Perkumpulan Paheman Radya Pustaka di Surakarta, jang didirikan pada tanggal tudjuh Djuni seribu delapanratus sembilangpuluh sembilan.”

Maksud dan tujuan? Simaklah keterangan di fatsal 3: “Maksud dan tudjuan Jajasan ini ialah mempeladjari dan memadjukan ilmu-ilmu jang mengenai kebudajaan, memperkenalkan segala pengetahuan tentang kebudajaan Djawa chususnja dan Indonesia umumnja, tjara-tjara penghidupan dan lain-lain tentang masjarakat Indonesia, termasuk pula ilmu kesenian dan sebagainja.” Isi dari anggaran dasar memang bagus dan muluk. Apakah maksud dan tujuan tercapai? Aku tak bisa menjawab.

Sekarang, aku merasa ada kegamangan dari pemerintah untuk mengurusi Museum Radya Pustaka. Publik telanjur lupa dan asing dengan museum, enggan merekonstruksi bahwa Solo pernah menjadi kota ilmu dan kota sastra, merujuk ke masa lalu. Pemerintah sulit mengumumkan museum sebagai ruang belajar dan ruang mengingat sejarah. Pemerintah justru sibuk membuat acara-acara di jalan, lapangan, benteng, hotel. Mereka menggelar acara sering menggunakan judul-judul asing. Solo mau dijadikan “kota tontonan”. Museum? Pustaka dan sastra? Aduh! Pemerintah tak mengerti jika di Solo ada pengarang-pengarang hebat. Apakah nama Sanie B. Kuncoro, Yudhi Herwibowo, Indah Darmastuti, Puitri Hati Ningsih tercacat di buku pemerintah? Pemerintah tak pernah membuat acara sastra dalam kalender tahunan. Solo selalu ingin diramaikan dengan acara-acara tontonan meski semakin membosankan dan miskin makna. Begitu.

Iklan