Tag

, , , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Alkisah, Abdul Wadud Karim Amrullah menerima kabar duka bahwa Hamka meninggal, 1981. Abdul Wadud Karim Amrullah adalah putra Haji Abdul Karim Amrullah, adik dari pengarang dan ulama kondang bernama Hamka. Kabar duka sisakan pengakuan belum tersampaikan. Abdul Wadud Karim Amrullah dalam buku Dari Subuh hingga Malam: Perjalanan Seorang Putra Minang Mencari Jalan Kebenaran (BPK Gunung Mulia, 2012) mengakui: “Kakak tidak sempat tahu bahwa saya masuk Kristen.” Abdul Wadud Karim Amrullah dibaptis saat usia 55 tahun, 1983.

IMG_0005

Pengakuan ini sempat membuatku terkejut, sejenak. Buku ini terlambat aku temukan. Kemarin, aku belanja ke toko buku terkenal di Solo. Dari jarak sekian meter, aku memandang buku bersampul putih di rak agama. Aku mendatangi dan merasakan ada keinginan membaca khatam. Buku pun dibeli, diajak pulang. Tiga jam rampung dibaca meski siang terasa panas.

Aku mengagumi Hamka, mengoleksi buku-buku Hamka. Aku pun menghormati  Abdul Wadud Karim Amrullah. Pengakuan itu membuktikan bahwa manusia itu bertuhan, beragama, bersurga. Dua orang bersaudara itu memiliki pilihan berbeda tapi mengejawantahkan iman. Aku tak mau turut berdebat tentang urusan berpindah agama berkonteks Indonesia. Urusan ini sering rawan polemik, bias, konflik. Aku berikhtiar memberi penghormatan dan toleransi. Dari keluarga Hamka, aku belajar tentang agama.

Aku teringat buku lawas, berjudul Koeboer jang Terboeka: Inilah bebrapa Barang Riwajat Pada Masa Raja Bangkitnja Toehan Jesoes (F.B. Smits, Batavia, 1914) karangan L. Tiemersma. Buku ini semula terbit tahun 1895. Edisi 1914 adalah cetak ulang kedua. Di edisi 1895, L. Tiemersma menulis: “Moedah-moedahan Toehan Jesoes jang soedah bangkit dari antara orang mati, bangkitlah djoega dalam hatimoe hai pembatja, soepaja Ija hidoep dalam kamoe, dan kamoe hidoep dalam dia tetap selama-lamanja.” Di pengantar edisi 1914, L. Tiemersma menulis: “Moedah-moedahan kitab ini akan djadi pohon berkat dan kasoekaan hati bagi pembatja samoea.”

IMG
Aku jadi tertarik untuk mengumpulkan kembali koleksi buku-buku agama di masa lalu. Kehidupan beragama di Hindia Belanda tentu dipengaruhi oleh penerbitan buku-buku agama. Aku sudah mengoleksi buku mengenai Islam, Kristen, Buddha dari awal abad XX. Buku-buku itu ditulis oleh orang asing dan pribumi, berniat menjadi bacaan bagi publik untuk mendalami agama. Aku tak pernah kuliah di S2 atau S3 tapi berharap bisa menggarap tulisan mengenai literasi agama berlatar pendidikan, dakwah, kebijakan politik di masa kolonial.

Buku karangan L. Tiemersma tentu dibaca ratusan orang, bisa cetak ulang kedua. Tampilan buku sederhana, kecil dan tipis, 80 halaman. Buku ini pantas jadi bahan untuk mulai merencanakan garapan esai panjang. Buku-buku dari masa lalu adalah kabar tentang selebrasi literasi dalam bertuhan, beragama, bersurga. Penggunaan bahasa Melayu menjelaskan bahwa buku Koeboer jang Terboeka: Inilah bebrapa Barang Riwajat Pada Masa Raja Bangkitnja Toehan Jesoes dipersembahkan bagi pembaca di Hindia Belanda. Aku jadi ingat, usaha penerjemahan Alkitab telah berlangsung sejak ratusan tahun, diterjemahkan ke bahasa Melayu dan bahasa-bahasa daerah.

Aku mengutip dua alinea kecil mengenai Allah, Moesa, Toehan Jesoes: “Maka sabda nabi Moesa kepada orang Jahoedi: ‘Toehan, Allahmoe, akan mengadakan bagimoe saorang nabi dari tengah kamoe, dari saoedara-saoedaramoe.’ Pada barang jang disoeratkan dalam Indjil Jahja 1: 4; 4: 25 dan dalam Perboeatan Rasoel 3: 22; 7: 37 amat njata, bahwa nabi jang didjandji olih Allah ja-itoe Toehan Jesoes…”

IMG_0002

Penulisan “Allah” membuatku tergoda melacak sejarah dari pilihan menuliskan “Allah” dalam terjemahan Alkitab dan buku-buku agama di Indonesia. Penulisan “Allah” sempat menimbulkan geger di negeri tetangga. Konon, ada larangan pemerintah berkaitan perbedaan agama. Indonesia berbeda dengan negeri jiran. Kita memiliki adab bertoleransi, kesejarahan dakwah agama, pesona linguistik… Kita tak ingin mengalami gegeran seperti di negeri tetangga.

Ada kutipan menarik dan mengundang hasrat mempelajari buku-buku lawas. Di halaman 38: “Sabermoela, maka tengah marika-itoe berkata-kataan akan hal jang dilihatnja dan akan hal jang didengarnja, tiba-tiba datanglah Jesoes berdiri ditengah-tengah, seraja katanja: Salam alaikoem. Koetika sampeilah boenji salam itoe kepada telinga moerid-moerid itoe, maka haroeslah marika-itoe bersoeka-tjita dan memoedji Allah taala…. “ Aku merasa ada “kedekatan” penggunaan bahasa dalam Islam dan Kristen. Aku perlu bercakap dengan para ahli, mencari sejarah dan pengaruh bahasa dalam dakwah di masa lalu.

Apakah Kementerian Agama memiliki koleksi buku-buku lawas? Apakah pelbagai universitas dan institusi kajian agama juga mengoleksi buku-buku lawas? Apakah perpustakaan di Leiden atau Jakarta masih memiliki koleksi buku-buku lawas, termasuk buku karangan L. Tiemersma? Aku bermaksud membaca buku-buku lawas, merekonstruksi literasi agama dan resepsi pembaca. Ah, aku terlalu berharap bisa jadi peneliti. Ha!

Buku Abdul Wadud Karim Amrullah dan L. Tiemersma memberiku gairah membaca buku-buku agama Kristen. Aku memang mengoleksi ratusan buku mengenai Islam, Kristen, Buddha, Hindu… Buku-buku itu perlu dibaca tanpa berlagak menjadi peneliti. Aku tak bisa bersaing dengan ahli-ahli, mulai dari Snouck Hurgronje sampai Ricklef. Membaca buku menjadi ikhtiar biasa saja, mengerti dan insaf tentang makna bertuhan, beragama, bersurga. Begitu.

Iklan