Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Siapakah pembaca buku-buku Kahlil Gibran di Indonesia? Ribuan orang pasti mengaku sebagai pembaca Gibran, dari gadis SMA sampai lelaki tua tak beristri. Gibran memiliki tanah air ketiga di Indonesia, setelah Lebanon dan Amerika Serikat. Ha! Aku pun pembaca Gibran, sejak 1998. Aku menemukan buku kecil berjudul Sang Nabi, terbitan Pustaka Jaya di rak perpustakaan SMA. Buku itu berstempel milik negara. Aku membaca dengan mata terpukau, berharap menerima mukjizat. Oh!

Hidupku bersama Gibran. Buku-buku Gibran segera selesai dibaca, membuat catatan untuk kutipan-kutipan apik. Aku juga mulai belanja buku-buku Gibran, mengoleksi puluhan buku. Aku adalah lelaki jelek, pendiam, pemurung saat SMA. Cewek-cewek cantik berulang melamarku, mengharap cintaku. Wah! Aku tak bisa menjawab, kepala menunduk malu. Mereka terlalu salah memilihku. Aku cuma lelaki biasa, bersekolah naik sepeda jelek, berpakaian tak necis, tak pernah berani jajan di kantin. Aku bisa menghindari gejolak cinta bersama cewek-cewek itu dengan memberi mata untuk buku-buku Gibran.

Masa lalu itu membuatku selalu ingin bersedih. Lho! Gibran perlahan diperalat oleh kaum lelaki untuk melenakan perempuan. Aku melihat di kampus-kampus: pembual asmara berbekal buku-buku Gibran, mengutip puisi untuk kebohongan. Aduh! Aku semakin bersedih saat melihat puluhan penerbit bersaing menerbitkan buku-buku Gibran, dari kemasan pop sampai kemasan apik. Aku cuma mengoleksi buku-buku Gibran terbitan Pustaka Jaya, Bentang Pustaka, Fajar Pustaka… Gibran mulai jadi bacaan ribuan orang, turun derajat akibat diperalat demi kemuraman, asmara, kesedihan, keputusasaan…. Buku-buku Gibran pun masuk kardus. Aku ingin melupakan Gibran saat orang-orang memuja Gibran.

Gibran 3

Agenda melupakan berantakan akibat membaca Tempo lawas. Aku menemukan iklan sehalaman, mencantumkan puisi Gibran. Iklan di Tempo, 3 Juni 1978: “Puteramu bukanlah puteramu. Mereka adalah putera-puteri kehidupan yang mendambakan hidup mereka sendiri. Mereka datang melalui kamu tapi tidak dari kamu. Dan sungguh pun bersamamu mereka bukanlah milikmu. Engkau dapat memberikan kasih sayangmu tapi tidak pendirianmu. Sebab mereka memiliki pendirian sendiri. Engkau dapat memberikan tempat pijak bagi raganya tapi tidak bagi jiwanya. Lantaran jiwa mereka ada di masa datang yang tidak bisa engkau capai sekalipun dalam mimpi.”

Aku membaca ulang Gibran, mengenangkan pengaruh Gibran di Indonesia. Siapakah pembaca pertama buku Gibran di Indonesia? Kapan tulisan atau buku Gibran sampai ke Indonesia. Mengapa orang-orang Indonesia memuja Gibran, sejak puluhan tahun silam? Siapa mau menjawab?

Gibran 1

Buku Sang Nabi edisi Bentang Pustaka menjadi bacaan mengingatkan dan melenakan. Aku masih merasa takjub, menemukan debar-debar dari deretan kata. Imajinasi religius, asmara, etis, erotis bermunculan. Aku memang tak bisa mutlak melupakan Gibran.

Penasaran semakin muncul saat aku menemukan buku An Nabi oleh Gebran Khalil Gebran, terbitan Pembangungan-Opbouw, Jakarta, 1949. Ada keterangan tentang judul asli The Prophet dan salinan oleh B. Rangkuti. Gibran sudah datang di Indonesia sejak lama. Apakah di masa lalu orang-orang juga memuja Gibran? Buku itu membuktikan ada gairah publik menikmati novel-puisi Gibran saat Indonesia masih menjalankan revolusi. Apakah hubungan Gibran dan revolusi di Indonesia?

Gibran 2

Ada kata pengantar dari I. Annaury: “Gebran ialah manusia jang mentjintai tiap-tiap manusia dibumi ini, lepas dari batas-batas agama, kebangsaan dan negara, sebab tiap-tiap manusia ialah saudaranja dalam keluarga manusia besar, dan ialah samudera wudjud jang maha satu dan kekal, demikian djuga karena tjinta bagi Gebran laksana Tuhan dan Guru dalam segala-galanja.” Keterangan-keterangan tentang Gibran sudah sering menjadi bacaan, beraroma pujian. Aku menemukan perbedaan dengan pendapat Walter J. Ong. Gibran dianggap cuma menuliskan puisi dari kebiasaan orang-orang bersenandung di Lebanon.

Aku ingin mengutip An Nabi, mengikuti salinan dari B. Rangkuti. Penggunaan bahasa Indonesia di masa lalu tentu berbeda dengan periode terjemahan oleh Pustaka Jaya dan Bentang Pustaka.

Dan seorang sardjana berkata: Katakanlah kepada kami tentang kata-kata.

Dan dia mendjawab:

– Kamu berkata-kata kalau tak bisa lebih lama lagi bermukim dalam kesepian hatimu, kamu hidup dibibirmu, sehingga bunjinja mendjadi penghibur dan penghalau waktu.

Dan pada pembualan jang banjak, pikiran pun setengah dibunuh.

Petikan percakapan ini masih menggetarkan, membuatku harus sadar diri agar tidak menjadi lelaki cerewet alias lelaki dengan durasi empat jam berkata. Ah! Gibran memang sering memberi sihir kata, mengajak orang merenung meski semenit: diingat atau dilupakan.

Aku menunggu tulisan ahli sastra terjemahan untuk menerangkan tentang pengaruh Gibran di Indonesia. Uraian itu mesti berkaitan waktu, penerbit, pembaca, pasar…. Gibran terlalu penting di Indonesia. Ribuan orang dan pengarang-pengarang terkenal tentu telah berjumpa dengan buku-buku Gibran. Mereka membaca, mengundang Gibran singgah atau bermukim di hati. Aku pun mengaku bahwa Gibran masih mendekam di hatiku, mengalami kebangkitan saat diri merasa muram dan sedih. Begitu.

Iklan