Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Puluhan tahun silam, aku sering masuk ke kamar bapak: ikut mendengar lagu-lagu di radio. Siang hari, usai pulang sekolah, lagu-lagu tempo doeloe membuatku bisa terhibur sejenak. Aku mulai mengenal lagu-lagu Lionel Richie, Diana Ross, Nikka Costa, Sofie, Daniel Sahuleka… Lagu-lagu berbahasa Inggris tapi tak bisa merangsangku untuk belajar bahasa Inggris. Aku cuma mendengar, mengimajinasikan cerita dalam lagu berdasarkan irama dan suara. Aku tak bisa menerjemahkan lirik lagu. Oh! Aku terus mendengar lagu-lagu mereka sampai sekarang tanpa terjemahan lirik.

Radio milik bapak kadang aku usung di ruang depan. Malam hari, usai berkelana bersama teman-teman, aku biasa menaruh diri dekat radio. Teligaku mendengar suara aneh. Suara itu berasal dari lelaki Jawa, sudah tua. Tiba-tiba, aku menikmati dengan penasaran. Aku bisa tertawa terpingkal. Siaran di radio itu bertajuk Daghelan Mataram. Lelaki dengan omongan lucu itu bernama Basija (Basio). Sejak SMA, aku mulai menanti malam-malam demi bisa menikmati dagelan dari Basija.

Basija 2

Aku perlahan mengerti isi cerita setelah menikmati berulang. Ada puluhan lakon Daghelan Mataram di radio: Dadung Kepuntir, Basio Mbecak, Gandrung Kepentung, Gatutkaca Gandrung, Besanan, Mblantik, Impen Daradasih, Pak Dengkek, Tapa Bisu…. Hidup bersama dagelan Basio membuatku memiliki episode ingat Jawa. Aku tak memburu asmara tapi ingin mengerti Jawa. Penasaran dengan Basio aku genapi dengan membaca “cerita cekak” di Panjebar Semangat. Aku bermimpi jadi sastrawan Jawa. Tahun demi tahun, aku memiliki filosofi hidup bersama dagelan Basio. Wah!

Gandrung Basio berlanjut selama puluhan tahun. Episode girang terjadi saat aku berkeputusan menjadi pedagan kaset bekas. Daganganku serba ada: blues, jazz, rock, pop, klenengan…. Aku mulai berburu kaset-kaset langka. Serial dagelan Basio jadi incaran meski harus mengeluarkan ongkos besar. Puluhan kaset lawas Dagelan Mataram-Basio berhasil dikumpulkan. Malam-malam di rumah dan di kios bersama Basio. Malam tak romantis tapi semakin menjelaskan diri ironis. Aduh! aku berdagang kaset bekas di UMS, UNS, ISI, Stadion Manahan, TBJT… Hidup sebagai pedagang kaki lima bermental Basio. Ha!

Basija 1

Ingatan itu berlanjut saat aku menemukan buku berjudul Kagoenan Djawi (Kolff-Buning, Jogjakarta), dihimpun oleh Karkono Partokoesoemo. Pengantar dari penerbit: “Ing djaman radhio poenika kagoenan Djawi waoe dados kekintoenan ingkang dipoen remeni, langkoeng-langkoeng dening bongsa Djawi toewin  Tionghowa, ingkang sampoen roemesep dhateng kagoenan adi loehoeng waoe.” Kesenian Jawa dianggap adiluhung, dikagumi oleh publik. Kesenian Jawa semakin diminati di zaman radio. Oh! Aku pun mengenal kesenian Jawa melalui radio.

Buku Kagoenan Djawi mengurai karawitan, tembang, tari, dagelan. Aku tekejut saat membaca tulisan tentang Dhagelan Mataram. Eh, ada foto Basija saat masih muda. Lelaki ganteng, berpeci. Tahi lalat di dekat hidung besar. Lelaki mengenakan pakaian modern tapi berjiwa Jawa. Penjelasan awal: “Temboeng dhagelan poenika saetoenipoen satoenggaling dialek Ngadjodja. Ing Soerakarta tijang mastani badhoet.”

Dhagelan Mataram disiarkan di Mavro (Mataram), SRV, SRI (Soerakarta). Para penikmat dagelan dari radio perlahan berimajinasi tentang lakon-lakon mengacu ke keseharian. Basija jadi tokoh moncer, memerankan tokoh-tokoh penting dan apes. Penjelasan lanjutan: “Dhagelan ing Ngadjodja ingkang kadjoewara poenika katindakaken dening tijang sekawan, inggih poenika Basija, Ranoe, Karta-Togen toewin Kasah. Ingkang dados toetoenggoelipoen Basija.” Basija memang manusia ampuh, menggoda ribuan orang memberi telinga dan tawa saat mendegar siaran Dhagelan Mataram di radio.

Basija 3

Siapa Basija? Aku masih perlu mengumpulkan keterangan-keterangan. Buku Kagoenan Djawi memuat keterangan: “Wiwit diwasa Basija sampoen mlebet ing kalanganipoen kethoprak. Nanging oegi njobi nindakaken padamelan sanes; bokmanawi saged angsal kaja ingkang moerwat ladjeng saged dipoen antepi. Ing nalika njandhak oemoer 18 taoen sinaoe dados toekang sepatoe, nanging padamelan waoe kapeksa katilar, amargi boten saged njoekani kaja ingkang njekapi kabetahanipoen. Ing nalika oemoer 24 taoen njambi menter, nanging ing wasana oegi kapeksa katilar. Ing wekasan doemoegi sapenikanipoen mligi namoeng nindakaken kethoprak, kalebet dhagelanipoen ingkang kondang waoe.” Hidup Basijo memang berideologi dhagelan. Aku pun pernah meniru dengan menganut dhagelanisme.

Dulu, aku pernah bertemu dengan para penikmat Dhagelan Mataram dan kolektor kaset-kaset Dhagelan Mataram. Kita sering bertemu di Sekarpace, Pasar Legi, Ghandekan…. Basija tokoh tak tertandingi, mempertemukan kita sebagai lelaki-lelaki lucu. Aku bertemu dengan bapak-bapak. Mereka lucu dan mengasihaniku. Pertemuan dengan mereka selalu ada acara makan bersama di warung-warung. Urusan rokok juga sudah ada penanggung jawab. Aku berkumpul mereka untuk menjadi pendongeng, usai makan dan mendapat jatah rokok. Aku kangen dengan mereka. Sekian tahun tak bertemu. Aku berharap mereka masih mendengar Dhagelan Mataram, ingat Basija.

Buku Kagoenan Djawi memberi ingatan panjang, episode hidupku sejak SMA sampai sekarang. Di ujung tulisan aku membaca ada konklusi ganjil: “Sanadjan dhagelan poenika boten kalebet kagoenan Djawi ingkang adi loehoeng, ewadene inggih perloe dipoen pengeti. Dhagelan ingkang kenging dipoen wastani tjoewilan kethoprak waoe saged minongka pratjihna gesangipoen djiwanipoen bongsa Djawi anggenipoen tansah ngoedi tambah saha ewahing kagoenanipoen.”

Puluhan tahun hidup bersama Basija, membuat hidupku mengandung dagelan. Basija turut mengingatkan agar aku bisa mengejek para politikus, sarjana, seniman, saudagar… Hidup itu dhagelanisme. Begitu.

Iklan