Tag

, , ,

Bandung Mawardi

14 Desember 2013, aku ada di Universitas Ahmad Dahlan (Jogjakarta), memenuhi undangan untuk mengoceh esai di hadapan bapak-bapak dan ibu-ibu dosen, tua dan muda. Aku datang tanpa ramalan, tak tahu situasi acara. Sebelum sampai kampus, santap mie-bakso sebagai menu lezat. Tiba di kampus, masuk ruangan. Ada tatanan meja, kursi, geber, kardus…. Ruangan belajar? Oh, aku jadi ingat kebiasaan belajar di kampus. Ruang-ruang belajar selalu berisi benda-benda besar, sesak dan membuat ruang jadi formal.

Aku berdoa agar tak “mengikuti” tata acara menurut panitia. Aku tak bisa! Duduk di kursi, mengoperasikan komputer, pamer tulisan di geber…. Tubuhku bakal berantakan, suaraku bakal mirip pengkhotbah. Tidak! Masa kuliah telah berakhir lama, masa diskusi-diskusi wagu sering aku hindari. Aku sudah ada di kampus UAD. Aku ingin memenuhi hajatan panitia tapi tak harus….

Moderator mengajak bercakap, meminta keterangan tentang “skenario”. Ha! Aku sudah menduga bakal ada “pembiasaan”, aku mengoceh materi berlanjut ke dialog. Aku tak bakal menuruti pembiasaan. Lho! Usai diperkenalkan moderator, aku meminjam mikrofon: bergerak mendekat ke peserta. Kursi dan meja aku tinggalkan agar dijaga oleh moderator. Aku suka mengoceh sambil bergerak, menatap dan membaui selera belajar orang-orang ketimbang duduk “bersombong” di depan.

Ocehan pendek berlanjut ke percakapan-percakan kecil dan gojekan. Ruang belajar sudah amburadul. Hore! Aku senang melihat dosen-dosen tertawa, cerewet, tidak mengantuk…. Percakapan? Aku memang tidak sedang menjajakan kiat-kiat menulis tapi rangsangan mengurusi pelbagai hal dengan pembahasaan ngawurisme, mengelak dari omongan “ilmiih”. Wah! Percakapan jadi peristiwa mengakrabkan, memberi hak ke orang-orang terlibat dengan tubuh dan kata.

Erasmus 1

Ingat percakapan, ingat Socrates dan Erasmus. Para filosof dan intelektual sering menjelaskan dan mengisahkan kebiasaan Socrates bercakap berdalih menggapai kebijakan. Aku mendingan mengurusi Erasmus saja. Siapa Erasmus? Di Jakarta, ada institusi bernama Erasmus Huis. Erasmus itu institusi? Erasmus itu gedung? Jawaban ini kena wabah ngawurisme. Aku memberi jawaban kecil: Erasmus itu intelektual agung asal Belanda, menebar ide-ide untuk mempengaruhi sejarah intelektual di dunia, sejak abad XVI.

Aku pernah membaca dua buku Erasmus dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia oleh K. St. Pamoentjak dan H.B. Jassin. Para intelektual dan peminat sastra di Indonesia mungkin akrab dengan edisi terjemahan H.B. Jassin, terbitan Djambatan. Aku justru ingin mengenang Erasmus melalui terjemahan K. St. Pamoentjak, berjudul Setengah Loesin Pertjakapan Erasmus, terbitan Balai Poestaka.

Penjelasan di halaman awal: “Erasmus itoe tidak sekarang sadja diakoe orang kepandaiannja, dimasa hidoepnjapoen adalah ia seorang ‘alim jang sangat disegani dan dipandang orang… Sesoenggoehpoen ia orang Belanda, tetapi segala karangannja dalam bahasa Latin, sebab semasa hidoepnja bahasa Latin itoelah bahasa orang ‘alim-‘alim.” Aku mengerti bahwa bahasa menentukan adab. Orang ‘alim tentu berbahasa mengandung kadar ilmu, etis, religius, sastra… Erasmus adalah orang ‘alim. Aku adalah orang tak ‘alim. Lho! Aku tak bisa bahasa Latin. Bahasa Inggris saja tidak mengerti.

Ada enam percakapan, garapan Erasmus. Aku membaca denga hasrat mengimajinasikan situasi Eropa di masa lalu, dari urusan bahasa sampai sebaran gagasan humanisme. Percakapan-percakapan Erasmus mengajak pembaca merenung, insaf atas sejarah ide di Eropa, bersebaran ke pelbagai negeri. Erasmus menjadi referensi dari pengertian-pengertian besar, dari humanisme sampai agama. Ingat percakapan, ingat peradaban Eropa saat bergejolak dan bergerak dengan bahasa Latin.

Erasmus 2

Orang-orang Indonesia membaca percakapan-percakapan gubahan Ersamus setelah ratusan tahun. Oh! Aku tak perlu malu jika membaca buku berisi percakapan di akhir abad XX. Buku ini memberiku bekal mengetahui proses kemajuan di Eropa, selama berabad-abad berpijak ke filsafat dan agama. Aku mengenal Erasmus, memiliki buku terjemahan Erasmus. Aku patut bersombong jika bertemu orang-orang tak ingat sejarah dan tokoh “pengubah: dunia”. Weh!

Aku ingin sajikan kutipan dari percakapan berjudul Kepala Biara dan Perempoean jang Terpeladjar. Percakapan aneh, representasi dari jejak intelektual di masa silam.

KIAI: Perkakas apa ini, jang engaku taroeh disini?

SALEHA: Tidak bagoeskah, pada pikir toean?

KIAI: Perkara bagoes, boleh djadi bagoes, tetapi tiada pantas oentoek seorang

gadis moeda atau seorang isteri ternama.

SALEHA: Mengapa?

KIAI: Sebab penoeh berisi boekoe.

Saleha: Tapi toean, soedah ber’oemoer begini, kepala biara, orang dalam poela,

beloem pernahkah toean melihat boekoe dalam bilik perempoean orang patoet-

patoet?

KIAI: Memang ada, tapi boekoe-boekoe bahasa Perantjis. Tapi disini saja lihat

boekoe bahasa Joenani dan Latin.

SALEHA: ‘Ilmoe itoe, hanja dari dalam boekoe-boekoe bahasa Perantjis sadjakah

dapat dipetik?

KIAI: Tapi hanjalah itoe jang lajak dibatja oleh perempoean patoet-patoet,

perintang-rintang hati.

Semula, aku kaget mendapati tokoh-tokoh dalam percakapan terasa akrab dengan Indonesia: Kiai dan Saleha. K. St. Pamoentjak sengaja menggunakan nama-nama untuk mengajak pembaca mengenali secara akrab, tak terlalu jauh mengimajinasikan tokoh dari negeri asing. Isi percakapan membuatmu kagum: perempuan tangguh, meladeni sangkaan bahwa ilmu milik kaum lelaki. Aku mesti bisa mengutip isi percakapan untuk sajian esai di koran, menggoda ingatan pembaca tentang peran perempuan sebagai “pembaca” buku demi ilmu. Begitu.

Iklan