Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Pagi sudah terasa mendung. Bergerak ke Tawangmangu bersama Milkhan, 16 Desember 2013. Perjalanan dengan mampir ke sekian kios koran, belanja puluhan koran. Aku berniat membagi koran ke peserta diklat jurnalistik IPPNU Jawa Tengah agar saat belajar penulisan artikel mendapat contoh, memegang koran dan membaca. Dari rumah, aku sengaja tak sarapan, berharap tak ada adegan “kepising” di tengah perjalanan. Sopir sepeda motor seperti orang kenthir, melesat ke Tawangmangu. Perutku jadi tak beres. Lapar!

Sampailah diriku dan Milkan di depan hotel bernama….. Bendera dan umbul-umbul NU berkibar di depan. Aku tak lekas masuk ke hotel. Ada pedagang bakso. Kita duduk di dekat sungai, makan bakso. Panitia memandang agak ragu. Mereka ikut keluar, jajan bakso. Aku bakal berhadapan dengan 40-an perempuan, berkhotbah esai dan mengajak mereka bercakap tentang pelbagai hal. Wah!

Pesantren 1

Koran-koran sudah dibagi, buku dan majalah dipamerkan. Mereka membaca sekejap, membuat komentar tentang dua artikel. Percakapan bergerak ke pelbagai tema, bercampur gojekan. Suasana dingin di Tawangmangu sudah bisa dilawan dengan gerak tubuh dan tawa. Mereka beruntung mendapat koran dan majalah. Aku merasa aneh sejak sampai ke hotel. Acara bertajuk diklat jurnalistik tapi panitia dan peserta tak membawa atau membaca koran. Di hotel, aku memandang cuma ada kursi, meja, makanan, komputer, tas….  Koran dan majalah sebagai bekal belajar jurnalistik tak ada. Ha! Mereka adalah kaum abstrak. Belajar tanpa bahan dan referensi. Aku merasa beruntung bisa membawa puluhan koran dan majalah ke Tawangmangu: mengesahkan diklat jurnalistik.

Aku mengucap nama Saifuddin Zuhri, intelektual kondang dari NU. Mereka cuma memandang, ada gejala tak mengenal atau membaca buku-buku garapan Saifuddin Zuhri. Aduh! Aku pun sering mengajak mereka mengucap istighfar, menginsafi kealpaan dan kegoblokan. Nama-nama intelektual perlu aku sebutkan agar ada rangsangan “meniru” jejak para pendahulu. Para penulis artikel dan kolom di koran dan majalah juga aku ajukan, representasi dari pergulatan intelektual NU untuk berbagi ide-perspektif bagi publik. Aku sengaja mengajukan nama Saifuddin Zuhri dan Gus Dur.

Ingatanku bergerak ke buku Saifuddin Zuhri, berjudul Guruku Orang-Orang dari Pesantren (Al Ma’arif, Bandung, 1977). Buku lawas setebal 282 halaman ini pernah diterbitkan ulang oleh LKiS, Jogjakarta. Aku memiliki dua edisi: lawas dan baru. Aku membaca dengan gairah, mengajak teman-teman di Bilik Literasi turut membeli dan membaca. Sekian bulan lalu, buku itu pernah jadi pilihan dalam Tadarus Buku di Bilik Literasi dengan dua pengoceh: M. Fauzi Zukri dan Milkhan.

Konon, penulisan buku Guruku Orang-Orang dari Pesantren dipengaruhi oleh permintaan Asrul Sani agar Saifuddin Zuhri “menulis sebuah novel tentang alam pesantren”. Halaman demi halaman berhasil memuat tokoh dan peristiwa-peristiwa penting dari pesantren, mengacu ingatan puluhan tahun silam. Saifuddin Zuhri mengakui: “Orang-orang dari pesantren itu adalah warga masyarakat kita. Mereka seperti juga yang lain-lain telah berbuat sesuatu untuk bangsanya, untuk tanah airnya. Mereka bukanlah segolongan manusia yang mengasingkan dirinya, karena pesantren bukanlah suatu ‘benteng’ tertutup”. Aku menerima penjelasan ini tanpa ada gugatan.

Aku terharu saat membaca peristiwa pembangunan gedung sekolah, berbekal modal dan tenaga dari para murid, guru, orang tua. Mereka bersama menghendaki ada gedung untuk belajar secara patut. Aku mengimajinasikan adegan membangun itu bergelimang doa. Orang-orang berkeringat, berkelakar, makan bersama. Ikhtiar itu demi pendidikan bocah-bocah di desa, tak perlu tergantung pemerintah.

Pesantren 2

Deskripsi dari Saifuddin Zuhri: “Belajar dalam suatu gedung yang baru tentu lebih menyenangkan. Betapa megahnya gedung ini, seluruhnya tembok yang dikapur putih, sejuk dan bersih. Betapa licin lantai ubinnya, betapa enak duduk di atas bangku dengan mejatulisnya yang dipelitur halus. Tentu yang menimbilkan rasa senang belajar dalam gedung baru ini lantaran rasa bangga bahwa gedung madrasah ini milik kami sendiri, bukan milik siapa-siapa. Bagaimana tidak milik kami, bukankah kami sendiri yang berhari-hari mengambil sendiri batu-batu  dan pasirnya dari Kali Pelus, sebuah sungai tempat kami mandi dan berenang terletak kira-kira 150 meter dari madrasah kami.” Aku tergoda ikut mengalami suka cita para bocah, turut berperan dalam membangun gedung untuk belajar. Hebat!

Buku ini berisi tokoh-tokoh wajar dan peristiwa-peristiwa tak sensasional. Saifuddin Zuhri berkisah mirip pendongeng dari desa, berkaitan urusan pendidikan, keluarga, kota, politik… Aku selalu berharapan agar teman-teman turut membaca, mengenangkan orang-orang dari pesantren, dari masa ke masa. Aku tak pernah menjadi santri, merasa turut mengalami hidup di pesantren. Aku pun sering menunduk saat mengingat masa lalu. Aku berulang meminta izin ke simbok dan keluarga untuk masuk ke pondok pesantren. Jawaban selalu sama: “tidak boleh”. Aku pernah menangis dan bersedih. Keinginan itu ada di diriku selama bertahun-tahun. Buku karangan Saifuddin Zuhri menjadi “pelega”, memberi ajakan mengalami hidup bersama orang-orang dari pesantren.

Buku ini berakhir dengan kalimat sederhana: “Dari pesantren mereka datang, dan untuk cita-cita pesantren mereka berjoang.” Aku memang gagal jadi santri tapi berulang ada di pesantren, berkhotbah esai dan belajar bersama para santri untuk menggerakkan literasi. Begitu.

Iklan